Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Memaknai Predikat Indonesia sebagai Negara Paling Gemar Tidur

Iklan Landscape Smamda
Memaknai Predikat Indonesia sebagai Negara Paling Gemar Tidur
Oleh : Aman Ridho Hidayat Dosen STIT Muhammadiyah Ngawi
pwmu.co -

Indonesia kembali mencuri perhatian panggung global.

Kali ini, dunia tidak lagi menyoroti dinamika politik maupun fluktuasi ekonomi Indonesia.

Sorotan tersebut justru tertuju pada sebuah aktivitas fundamental bagi eksistensi manusia: tidur.

GoodStats merangkum Laporan Global Life at Home dari IKEA yang menempatkan Indonesia pada posisi puncak sebagai negara paling gemar tidur di dunia.

Persentase masyarakat Indonesia yang memprioritaskan tidur tersebut mencapai angka 73 persen.

Survei masif yang melibatkan 55.221 responden di 57 negara ini memberikan peta komprehensif mengenai bagaimana masyarakat modern memandang waktu istirahat mereka.

Sekilas, temuan ini mungkin terdengar jenaka atau bahkan memicu stereotip tentang kemalasan.

Namun, jika kita telaah lebih dalam, angka tersebut menyimpan pesan sosiologis yang serius mengenai pergeseran paradigma masyarakat terhadap kesehatan dan keseimbangan hidup.

Mayoritas negara Asia—seperti Thailand, Filipina, dan Singapura—mendominasi peringkat teratas dalam survei tersebut.

Tren ini membuktikan bahwa masyarakat di kawasan Asia kini memiliki kesadaran kolektif untuk memandang tidur sebagai kebutuhan pemulihan yang krusial, bukan sekadar aktivitas pasif.

Selama beberapa dekade, budaya kerja global sering kali memosisikan tidur sebagai variabel yang “boleh dikorbankan” demi ambisi dan produktivitas.

Fenomena begadang kerap dipuja sebagai simbol kerja keras, sementara tidur yang cukup sering kali dianggap sebagai kemewahan bagi mereka yang kurang berambisi.

Padahal, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kualitas tidur memiliki korelasi langsung dengan kesehatan mental, stabilitas sistem imun, serta pencegahan penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan kardiovaskular.

Kurang tidur kini diakui sebagai salah satu risiko kesehatan masyarakat yang paling mengkhawatirkan di era modern.

Dalam konteks inilah, posisi Indonesia menjadi sangat menarik.

Di tengah gempuran tekanan ekonomi, jam kerja yang panjang, dan paparan gawai yang nyaris tanpa henti, masyarakat Indonesia justru menunjukkan preferensi kuat untuk mengistirahatkan tubuh.

Angka 73 persen tersebut bukan sekadar statistik durasi tidur, melainkan manifestasi dari kesadaran akan pentingnya jeda.

Tidur dipahami sebagai mekanisme biologis utama untuk memperbaiki sel-sel tubuh, menstabilkan emulsi, dan mengonsolidasi memori.

Tanpa istirahat yang memadai, fungsi kognitif akan merosot, emosi menjadi rentan, dan pada akhirnya, produktivitas justru akan mengalami devaluasi.

Secara kultural, konsep keseimbangan ini sebenarnya telah berakar dalam nilai-nilai lokal Indonesia.

Dalam banyak tradisi dan ajaran spiritual di tanah air, istirahat dipandang sebagai bentuk tanggung jawab manusia dalam menjaga amanah tubuh.

Tubuh tidak diperlakukan semata-mata sebagai mesin produksi, melainkan entitas yang perlu dirawat agar tetap selaras.

Dengan demikian, “gemar tidur” dalam perspektif ini adalah sebuah ikhtiar untuk mempertahankan kualitas hidup, bukan sebuah bentuk kemalasan atau pelarian dari tanggung jawab.

Krisis kualitas tidur sebenarnya sedang menghantui negara-negara maju.

Budaya “selalu aktif” dan ketergantungan pada teknologi digital telah menggerus waktu istirahat secara kronis.

Akibatnya, berujung pada terjadinya peningkatan kasus depresi dan kelelahan mental (burnout).

Di tengah situasi tersebut, pilihan masyarakat Indonesia untuk memprioritaskan tidur dapat dimaknai sebagai sebuah bentuk “kebijaksanaan baru.”

Ada pengakuan jujur bahwa tubuh manusia memiliki batas yang harus dihormati.

Kesadaran ini sangat penting, terutama di era ketika dunia hanya mengukur produktivitas berdasarkan durasi kerja seseorang, bukan berdasarkan kualitas kesehatan hidupnya.

Di samping itu, para pakar kesehatan kerja juga menegaskan bahwa produktivitas jangka panjang tidak bertumpu pada durasi kerja yang eksesif, melainkan pada kualitas pemulihan fisik (istiraha).

Tidur yang cukup terbukti mampu mempertajam fokus, memantik kreativitas, serta mengoptimalkan pengambilan keputusan.

Oleh karena itu, tidur bukanlah hambatan bagi kemajuan, melainkan fondasi fundamental dalam pembangunan sumber daya manusia.

Dengan demikian, predikat Indonesia sebagai negara yang paling gemar tidur tidak seharusnya dipandang sebagai stigma negatif.

Sebaliknya, hal ini merupakan sinyal positif bahwa masyarakat mulai berani menata ulang prioritas di tengah dunia yang terus menuntut kecepatan.

Produktivitas jangka panjang tidak pernah lahir dari kelelahan yang dipaksakan, melainkan dari manusia yang cukup beristirahat untuk dapat berpikir jernih dan melangkah dengan bertenaga.

Indonesia sedang menyampaikan pesan penting kepada dunia: bahwa kemajuan sejati berawal dari bantal yang nyaman dan tidur yang nyenyak.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu