Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Membaca dan Menulis di Tahun 2026: Senjata Terakhir Manusia

Iklan Landscape Smamda
Membaca dan Menulis di Tahun 2026: Senjata Terakhir Manusia
Beny Syah, Guru SMP Muhammadiyah 1 Gresik. Foto: Istimewa/PWMU.CO
Oleh : Beny Syah Guru SMP Muhammadiyah 1 Gresik
pwmu.co -

Tahun 2026 bukan sekadar penanda bahwa waktu terus berjalan dan kalender terus berganti, melainkan cermin bagaimana peradaban manusia bergerak dengan kecepatan luar biasa. Dunia kini berada dalam pusaran teknologi, kecerdasan buatan, big data, serta media sosial yang tak pernah berhenti memproduksi informasi.

Setiap detik, jutaan kata, gambar, dan suara beredar, membentuk opini, memengaruhi cara berpikir, bahkan menentukan keputusan banyak orang, mulai dari hal kecil dalam keseharian hingga keputusan besar dalam kehidupan sosial dan politik.

Di tengah situasi seperti ini, muncul pertanyaan penting: apakah membaca dan menulis masih relevan pada masa sekarang? Bukankah video, gambar, dan teknologi canggih sudah cukup untuk “mengajari” manusia? Justru di sinilah letak urgensinya.

Membaca dan menulis bukanlah peninggalan masa lalu yang usang, melainkan fondasi utama agar manusia tetap bertahan sebagai makhluk berpikir di tengah arus perubahan zaman yang sering kali tidak memberi kesempatan untuk berhenti sejenak dan merenung.

Membaca pada tahun 2026 tidak lagi dapat dipahami sekadar sebagai kemampuan mengenal huruf dan memahami kalimat. Membaca kini menjadi kemampuan inti untuk memilah, menyeleksi, dan memaknai informasi secara sadar.

Dunia digital memperlihatkan satu kenyataan pahit, yakni informasi bukan hanya melimpah, tetapi juga berbahaya jika dikonsumsi tanpa pemahaman. Hoaks menyebar lebih cepat daripada kebenaran, opini dipoles seolah-olah fakta, dan propaganda dibungkus sedemikian rupa sehingga tampak masuk akal serta menggoda emosi.

Banyak orang percaya bukan karena paham, melainkan karena terbiasa melihatnya berulang kali. Tanpa kemampuan membaca yang baik, seseorang akan mudah tertipu, mudah tersulut emosi, dan mudah diarahkan untuk mempercayai hal yang keliru.

Membaca melatih manusia untuk tidak sekadar menerima, tetapi bertanya; tidak hanya melihat, tetapi menganalisis; tidak hanya percaya, tetapi memeriksa. Pada titik inilah membaca menjadi benteng terakhir akal sehat manusia, terlebih ketika kecepatan penyebaran informasi sering kali tidak seimbang dengan kedalaman pemahaman.

Namun, membaca saja tidak cukup. Menulis hadir sebagai pasangan yang melengkapi kemampuan berpikir manusia. Menulis merupakan proses merapikan pikiran, menata gagasan, dan memperjelas apa yang sebenarnya kita pahami tentang dunia. Dalam menulis, seseorang dipaksa berpikir runtut, mencari logika, menimbang kata, serta mempertanggungjawabkan setiap ide yang dituangkan.

Di era ketika apa pun dapat diunggah dalam hitungan detik, menulis seharusnya tidak berhenti pada aktivitas curahan emosi sesaat, melainkan menjadi latihan kedewasaan berpikir. Orang yang terbiasa menulis cenderung lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih bijak dalam berpendapat, dan lebih kritis dalam menyikapi perbedaan.

Menulis menjadikan manusia tidak sekadar konsumen informasi, tetapi pencipta gagasan; bukan hanya pengikut arus opini, melainkan pengolah dan penentu arah pandangan.

Lebih jauh, membaca dan menulis memainkan peran besar dalam pembentukan karakter dan kemanusiaan. Melalui membaca, manusia belajar memahami kehidupan yang tidak sempat dialaminya. Kita memasuki dunia orang lain, menyaksikan perjuangan, penderitaan, kebahagiaan, serta nilai-nilai yang membentuk manusia. Kita belajar bahwa kehidupan tidak selalu hitam-putih dan bahwa setiap persoalan memiliki banyak sudut pandang.

Dari karya sastra hingga buku ilmiah, membaca membuka pintu empati. Sementara itu, menulis menghadirkan ruang dialog dengan diri sendiri. Saat menulis, manusia berjumpa dengan ketakutan, kegelisahan, harapan, dan keyakinan yang selama ini tersembunyi. Menulis menjadi terapi, sarana merapikan luka, serta media untuk memahami diri.

Di tahun 2026, ketika persoalan kesehatan mental semakin kompleks, tekanan hidup kian kuat, dan dunia terasa semakin kompetitif, membaca dan menulis dapat menjadi ruang teduh bagi jiwa manusia. Tidak hanya berdampak pada individu, kebiasaan membaca dan menulis juga berpengaruh besar terhadap keberlangsungan budaya dan peradaban.

Sejarah membuktikan bahwa bangsa besar adalah bangsa yang gemar membaca dan rajin menulis. Melalui membaca, generasi muda mengenal bangsanya, memahami akar budayanya, serta menyadari identitasnya. Mereka belajar menghargai perjalanan sejarah yang panjang dan memahami bahwa peradaban tidak lahir secara instan.

Melalui menulis, generasi melanjutkan estafet peradaban, mencatat pemikiran, menuliskan kebenaran, dan mengabadikan pengalaman untuk generasi berikutnya. Tanpa tradisi membaca, generasi akan kehilangan arah dan mudah terombang-ambing oleh pengaruh luar. Tanpa tradisi menulis, peradaban akan berhenti berkembang dan perlahan menghilang dari jejak sejarah.

Lebih dari itu, membaca dan menulis merupakan fondasi kebebasan berpikir yang sejati. Di dunia yang sarat kepentingan politik, ekonomi, dan ideologi, hanya mereka yang terbiasa membaca secara kritis dan menulis secara sadar yang mampu mempertahankan kebebasan intelektualnya.

Membaca membuat manusia tidak mudah tertipu, sementara menulis menumbuhkan keberanian untuk bersuara. Keduanya menjadikan manusia tidak sekadar mengikuti arus, tetapi mampu menentukan arah.

Tidak kalah penting, membaca dan menulis merupakan investasi besar bagi generasi muda. Anak-anak dan remaja yang tumbuh di tahun 2026 hidup dalam dunia yang dikuasai teknologi. Mereka akrab dengan gawai, mahir berselancar di internet, dan terbiasa dengan kecepatan informasi. Namun, kedekatan dengan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kecerdasan berpikir. Tanpa budaya membaca, mereka hanya menjadi penonton. Tanpa kebiasaan menulis, mereka akan kesulitan mengekspresikan gagasan.

Membaca menumbuhkan imajinasi, memperkaya kosakata, memperkuat logika, dan membuka cakrawala berpikir. Menulis melatih ketelitian, kreativitas, keberanian menyampaikan gagasan, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif. Oleh karena itu, jika ingin membentuk generasi yang kuat, mandiri, dan berdaya saing global, budaya membaca dan menulis harus terus dihidupkan, baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan sosial.

Pada akhirnya, membaca dan menulis di tahun 2026 merupakan upaya menjaga manusia tetap menjadi manusia. Di tengah dunia yang semakin canggih, manusia tidak boleh kehilangan kepekaan, akal sehat, dan kemampuan berpikir mandiri. Teknologi mungkin mampu menggantikan banyak hal, tetapi tidak akan pernah menggantikan proses perenungan, empati, dan olah pikir yang lahir dari membaca dan menulis.

Selama manusia ingin tumbuh, memahami dunia, dan memaknai kehidupan, selama itu pula membaca dan menulis akan selalu relevan. Tidak hanya hari ini, tidak hanya tahun 2026, tetapi sepanjang sejarah peradaban manusia. Jika masa depan ingin tetap berpihak pada kemanusiaan, maka membaca dan menulis harus dijaga sebagai napas peradaban sekaligus senjata terakhir manusia untuk berpikir, merasa, dan benar-benar hidup.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu