Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Membaca Emosi Anak Lewat Bermain: Terapi Psikologis yang Relevan di Era Digital

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Dr Eko Hardi Ansyah ketika sedang berpidato di Universiti Malaya, Malaysia (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Kehidupan dan perkembangan anak-anak Indonesia terancam oleh lingkungan yang tidak aman akibat pola pengasuhan yang tidak tepat, perceraian, pertemanan yang tidak sehat, penggunaan gawai, dan media sosial.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Eko Hardi Ansyah MSi Psikolog, saat menyampaikan keynote speech dalam 2nd International Conference Psychology, Education, Humanities and Social Science (IC-PEHSS) tingkat ASEAN di Universiti Malaya, Malaysia, Senin (28/4/2025).

Menurut Eko, terapi bermain merupakan salah satu metode yang efektif untuk mendukung kesejahteraan emosional dan perkembangan anak.

“Pembahasan terapi bermain mencakup pendekatan direktif dan non-direktif,” tuturnya pada 1000 peserta dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Cina dan Kazakhtan yang mengikuti secara daring dan luring.

Ia menjelaskan, terapi bermain adalah pendekatan yang memanfaatkan aktivitas bermain sebagai sarana bagi anak untuk mengekspresikan perasaan serta menghadapi pengalaman hidup yang sulit disampaikan secara verbal.

Terapi bermain ini sangat penting untuk perkembangan kognitif, sosial, dan emosional. Terapi bermain mendorong kreativitas, keterampilan memecahkan masalah, dan ketahanan diri dengan menyediakan lingkungan yang aman untuk eksplorasi..

“Terlibat dalam terapi bermain membantu anak memproses emosi yang kompleks, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan rasa percaya diri. Pendekatan ini mendukung proses penyembuhan dengan menawarkan konteks bermain untuk menghadapi ketakutan dan rasa tidak aman,” terangnya.

Sekretaris Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Non-Formal (Dikdasmen & PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM Jatim) itu menambahkan, “Metode direktif melibatkan aktivitas yang direncanakan dan terstruktur yang dipandu oleh terapis,” paparnya.

“Terapis mengarahkan permainan untuk memastikan fokus pada pencapaian hasil yang dibutuhkan anak. Terapis juga secara aktif terlibat dalam proses bermain untuk memberi contoh perilaku dan memberikan dukungan,” sambungnya.

Contoh kegiatan dalam pendekatan ini adalah bermain peran dengan skenario tertentu, bercerita dengan panduan, atau permainan edukatif yang dirancang untuk mendorong ekspresi emosional. “Aktivitas ini membantu anak menghadapi tantangan spesifik dan mengembangkan keterampilan sosial maupun emosional,” imbuhnya.

Bapak tiga anak itu menambahkan, “Metode non-direktif mendorong permainan bebas, anak dapat mengeksplorasi minat mereka tanpa arahan terstruktur. Pendekatan ini menumbuhkan motivasi intrinsik dan kreativitas, serta memungkinkan anak menggunakan imajinasi mereka untuk memahami pengalaman,” jelasnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Dalam terapi bermain non-direktif, anak memegang kendali atas permainan, dan terapis hanya mengamati serta memfasilitasi, bukan mengarahkan. Metode ini menciptakan lingkungan yang mendukung ekspresi diri secara bebas dan mendorong perkembangan kemandirian,” lanjutnya.

“Contohnya terapi seni, menggambar bebas, dan bermain tanpa struktur dengan mainan. Aktivitas ini memungkinkan anak mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka melalui media kreatif dan penemuan diri,” tukasnya.

Dari kedua metode itu, Eko menegaskan bahwa metode direktif lebih cocok untuk anak yang lebih muda dan membutuhkan bimbingan yang jelas, sementara metode non-direktif dapat bermanfaat bagi anak yang lebih besar dan mampu memulai permainan sendiri serta merefleksikan pengalaman mereka.

Mengakhiri pemaparannya, Eko menyampaikan bahwa terapi bermain direktif cenderung menghasilkan perolehan keterampilan yang terfokus dan perubahan perilaku, sementara terapi bermain non-direktif meningkatkan ekspresi emosional dan strategi coping atau penyesuaian diri. Kedua pendekatan bisa efektif tergantung pada kebutuhan individual anak,” pungkasnya. (*)

Penulis Dian Rahma Santoso Editor M Tanwirul Huda

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu