
PWMU.CO – Budaya membaca buku bukan sekadar tradisi akademik, melainkan napas panjang yang menjaga denyut intelektualisme dalam tubuh gerakan mahasiswa. Hal inilah yang ditegaskan oleh Sekretaris Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Aldekum Fatih Rajih dalam wawancara eksklusif pada Selasa (10/6/2025).
Pria kelahiran Palembang, 11 November 1999, ini menilai bahwa membaca adalah gerbang utama menuju pembentukan kesadaran kritis seorang kader. Ia menyebut bahwa urgensi budaya literasi telah dinyatakan secara eksplisit sejak wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq.”
“Secara falsafi, ayat ini menegaskan bahwa aktivitas membaca bukan sekadar mengumpulkan informasi, tetapi sebuah proses transendental. Membaca dalam kesadaran akan keberadaan, penciptaan, dan tujuan,” ungkap Aldekum.
Ia juga menyampaikan bahwa dalam konteks IMM, membaca adalah sarana utama untuk membangun kesadaran, memperluas wawasan, dan menumbuhkan karakter kritis kader.
Menurutnya, tradisi literasi seharusnya tidak dipandang sebagai pelengkap, tetapi sebagai jantung gerakan intelektual IMM.
“Tanpa budaya membaca, kaderisasi akan kehilangan kedalamannya. Membaca adalah langkah awal dalam menyemai nalar yang tercerahkan,” tegasnya.
Menanggapi tantangan era digital yang mengalihkan perhatian kader dari bacaan ilmiah ke konten instan, Aldekum menyampaikan bahwa PC IMM UIN Raden Fatah memilih pendekatan yang adaptif dan kreatif.
“Namanya juga konten instan, cukup membuat kenyang tapi tidak memberi gizi intelektual. Kami tidak memilih pendekatan represif, tapi menyesuaikan dengan gaya hidup digital kader,” tuturnya.
Menurutnya, langkah konkret yang diambil antara lain berupa penyebaran infografis literasi, ulasan buku singkat di media sosial, hingga pembuatan podcast bertema buku dan pemikiran tokoh. Ia juga menyampaikan bahwa strategi tersebut menjadi jembatan agar literasi tetap relevan dan membumi dalam kehidupan digital kader IMM hari ini.
Meski belum membentuk klub buku formal, Aldekum menjelaskan bahwa PC IMM UIN Raden Fatah lebih menekankan pada pembentukan ekosistem diskusi yang berbasis referensi valid dan berbobot.
“Yang kami dorong adalah tumbuhnya kesadaran organik. Budaya membaca tidak dipaksakan melalui struktur, tetapi lahir dari kebutuhan intelektual kader itu sendiri,” ujarnya.
Bagi Aldekum, diskusi yang berangkat dari bacaan berkualitas jauh lebih penting dibanding formalitas forum. Sebab, kata dia, hanya dengan bacaan yang menggali realitas dan sumber ilmiah secara mendalam, seorang kader dapat membangun akar intelektual yang kokoh.
“Membaca buku bukan karena kewajiban administratif, melainkan dorongan internal untuk memahami realitas secara jernih dan mengakar,” ucapnya.
Menutup wawancara, Aldekum menyampaikan bahwa budaya membaca tetap relevan dan tidak tergantikan dalam dinamika gerakan mahasiswa hari ini. Ia mengutip sebuah adagium khas IMM UIN Raden Fatah: “Jika sendiri, kader IMM mengkaji, jika berdua, berdiskusi, jika bertiga, bergerak dalam aksi.”
“Ungkapan ini bukan guyonan, tetapi refleksi kerangka gerakan: kesadaran intelektual, dialog mencerahkan, dan praksis sosial berkeadaban,” tandasnya.
Menurutnya, jika budaya membaca ditinggalkan, gerakan akan kehilangan fondasi teoritik dan moral.
“Kritik menjadi dangkal, aksi menjadi sporadis, dan idealisme bisa tergantikan oleh pragmatisme sesaat,” imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa bagi IMM, membaca bukan hanya kewajiban akademik, tetapi bagian dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), tahdzibul fikrah (penjernihan pikiran), dan taharrukul amal (penggerak aksi). Membaca buku, bagi IMM, adalah embrio awal dari jihad intelektual yang hakiki. (*)
Penulis Fathan Faris Saputro Editor Ni’matul Faizah





0 Tanggapan
Empty Comments