Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Membacalah Agar Pandanganmu Luas dan Pikiranmu Beradab

Iklan Landscape Smamda
Membacalah Agar Pandanganmu Luas dan Pikiranmu Beradab
Oleh : Beny Syah Guru SMP Muhammadiyah 1 Gresik
pwmu.co -

Oktober selalu membawa aroma istimewa bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Bulan ini bukan sekadar peringatan “sumpah setia kepada bahasa persatuan”, tetapi juga momentum meneguhkan kembali cinta kita terhadap bahasa, sastra, dan kebiasaan membaca.

Dalam pusaran hiruk pikuk dunia digital yang serba instan, membaca seringkali dinilai sebagai perilaku kuno nan membosankan.

Mengusap layar gawai terasa lebih menarik minat dan perhatian daripada membuka lembar demi lembar halaman buku di ruang yang sunyi.

Padahal di balik ruang sunyi itulah, sesungguhnya ada kehidupan yang agung, bersemainya benih peradaban, kedalaman pikir, dan keluhuran budi.

Membaca itu sebagai jembatan emas yang menghubungkan manusia dengan dunia yang lebih luas dan beradab.

Bahayanya tanpa membaca

Di era banjir informasi, banyak orang terbiasa menilai sebelum mengerti, meniru tanpa berpikir, dan bicara tanpa membaca.

Karena itu, membaca menjadi tindakan yang istimewa. Proses membaca membutuhkan waktu, kesabaran, dan fokus, namun justru itulah yang menjadikannya sangat bernilai.

Melalui membaca, seseorang dapat mengembangkan kemampuan berpikir jernih, daya analisis yang kuat, dan kebijaksanaan dalam membedakan kebenaran.

Pelajar yang rajin membaca tidak hanya akan berhasil dalam ujian, tetapi juga akan mampu menyaring informasi, berpikir logis, dan bersikap kritis terhadap perubahan yang terjadi.

Bahasa adalah cermin jiwa bangsa. Membaca adalah cara untuk menjaga kejernihan cermin itu.

Setiap halaman yang kita baca pasti akan mampu memperkaya kosa kata, memperhalus tutur kata, dan memperkaya cara pandang.

Pelajar yang rajin membaca akan memiliki keluasan berpikir dan keindahan berbahasa.

Ia belajar bahwa kata-kata bukan sekadar alat berbicara, melainkan juga alat untuk memahami diri dan dunia.

Melalui puisi Chairil Anwar, novel Pramoedya Ananta Toer, atau kisah rakyat dari berbagai daerah, kita menyadari bahwa Bahasa Indonesia adalah rumah persatuan bagi keberagaman.

Rumah bagi tumbuh dan mengakarnya nilai dan identitas bangsa dalam diri.

Membaca juga merupakan sarana untuk menempa jiwa agar lebih memiliki rasa berempati.

Ketika membaca “Ayah” karya Andrea Hirata, kita dapat belajar memahami cinta sederhana nan tulus dari seorang ayah bernama Sabari.

Darinya kita dapat menelusuri perasaan manusia yang paling dalam tentang kasih, tentang kehilangan, dan tentang ketabahan.

Melalui membaca, kita berupaya membuka ruang empati dalam diri.

Dengan begitu, kepekaan kita dalam menghargai perasaan orang lain akan tumbuh, seiring dengan meluasnya cakrawala kemanusiaan kita.

Pelajar yang terbiasa membaca cerita-cerita yang kaya akan nilai kemanusiaan akan berkembang menjadi pribadi yang tidak mudah menghakimi, sebab mereka telah mengenal dan memahami berbagai macam pengalaman hidup.

Sedangkan membaca karya sastra memungkinkan kita menghargai sejarah dan budaya.

Melalui Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya, misalnya, kita memahami pergulatan antara cinta, ideologi, kemanusiaan, dan sejarah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dari karya tersebut, kita belajar bahwa peristiwa sejarah bukanlah sekadar kumpulan tanggal dan fakta, melainkan kisah manusia dengan segala dilema dan harapannya.

Dengan demikian, membaca karya sastra seperti ini dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan intelektual bangsa, sekaligus menyadarkan kita akan tanggung jawab untuk menjaga kebudayaan agar tetap hidup dan bermakna.

Lebih dari sekadar hiburan, membaca juga dapat menuntun manusia ke ranah spiritual yang lebih dalam.

Melalui pembacaan kitab suci, tafsir, atau buku reflektif, seseorang tidak hanya sekadar mengetahui aturan, tetapi juga memahami makna serta hikmah di baliknya.

Dari setiap kata yang direnungkan dengan hati, tumbuh kesadaran akan kebesaran Tuhan dan pentingnya hidup dengan kasih serta kebijaksanaan.

Membaca pun bertransformasi menjadi ibadah intelektual, sebuah ruang di mana manusia berjumpa dengan diri sendiri dan Sang Pencipta.

Seperti yang diungkapkan Prof. Hernowo Hasan, membaca adalah ‘makanan sehat bagi otak’.

Dengan membaca dan merenung, seseorang mengalami pertumbuhan intelektual dan spiritual sekaligus, menjadikan hidupnya lebih bermakna.

Di era serba cepat ini, kemampuan untuk membaca dengan mendalam adalah bentuk keteguhan yang langka.

Banyak orang hanya mampu membaca judul, bukan isi, hanya menatap layar, bukan makna.

Maka ketika seorang pelajar mampu menekuni satu buku hingga tuntas, sesungguhnya ia sedang membangun daya tahan intelektual yang berharga: kemampuan untuk fokus, berpikir panjang, dan menghargai proses.

Membaca adalah perlawanan sunyi terhadap dangkalnya makna. Ia adalah meditasi di tengah kebisingan dunia.

Menularkan membaca

Manfaat membaca tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan bersifat menular.

Pelajar yang gemar membaca biasanya akan senang berbagi cerita, mengajak teman berdiskusi, dan menularkan semangat literasi.

Dari satu pembaca, dapat lahir sebuah komunitas; dari komunitas, tumbuhlah budaya; dan dari budaya literasi, terciptalah masyarakat yang beradab.

UNESCO bahkan menegaskan bahwa literasi membaca adalah hak dasar setiap manusia dan fondasi bagi pembangunan yang inklusif.

Oleh karena itu, negara dengan tingkat literasi tinggi cenderung sehat secara demokratis, terbuka terhadap perubahan, dan kuat secara moral.

Pada Bulan Bahasa kali ini, marilah kita merenung dan bertanya pada diri: “sudahkah kita memberi ruang bagi diri dalam keseharian untuk membaca? Sudahkah kita membelai halaman demi halaman pada buku yang lama bertengger di rak?”

Mengapa? Karena membaca tidak hanya membuka jendela dunia, tetapi juga menyalakan cahaya ke dalam diri.

Setiap kata yang kita baca adalah percikan cahaya yang menerangi pikiran dan perasaan. Dari cahaya, akan lahir pribadi-pribadi yang bijak, berempati, dan berintegritas.

Melalui Bulan Bahasa, sudah sepatutnya kita tidak berhenti hanya dengan lomba menulis, membaca puisi, atau berpidato.

Bulan Bahasa harus menjadi kekuatan pemanggil untuk tumbuhnya kembali budaya literasi, budaya yang menjadi nafasnya kehidupan.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu