Deretan shaf di Masjid Nur Hidayah (MNH) Tanjung, Purwokerto Selatan, tampak lebih hangat dari biasanya, Ahad, (15/03/2026). Ratusan jamaah, mulai dari orang tua hingga anak-anak, berkumpul. Antusiasme mereka sungguh tinggi untuk mengikuti agenda Buka Bersama dan Pengajian Jelang Berbuka.
Hadir sebagai pemateri, Ustadz. Arif Mubarok, S.Si., mubaligh muda sekaligus pengurus Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Purwokerto Selatan. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya memaknai ibadah bukan sekadar rutinitas tahunan. Melainkan sebagai sarana transformasi diri dan penguatan fondasi keluarga bagi warga Muhammadiyah.
Dalam ceramahnya, Arif mengingatkan bahwa kunci utama kebaikan seorang Muslim bermula dari sajadah. Ia mengajak para orang tua untuk tidak sekadar “menyuruh” anak salat. Tapi juga “mengajak dan membersamai” mereka ke masjid.
“Salat adalah poros amal manusia. Jika porosnya benar, maka berputarlah seluruh amal kebaikan lainnya dengan sempurna,” tegasnya.
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika salatnya rusak, maka sungguh ia telah gagal dan merugi.” (HR. Tirmidzi).

Lebih jauh, Arif menekankan bahwa salat berjamaah di masjid adalah sarana melanggengkan hubungan keluarga tidak hanya di dunia. Tapi hingga ke surga-Nya.
Pesan kuat juga disampaikan juga kepada jajaran Takmir Masjid MNH Tanjung. Dalam perspektif Muhammadiyah, masjid harus menjadi pusat peradaban yang menggembirakan. Arif mendorong takmir untuk terus memberikan apresiasi bagi anak-anak yang aktif di masjid sebagai stimulan agar mereka memiliki kecintaan mendalam terhadap rumah Allah.
“Biarkan mereka ceria dan betah di masjid. Mereka adalah investasi masa depan, penerus jejak kebaikan di Masjid Nur Hidayah ini,” tambahnya.
Memanen Pahala di Penghujung Ramadan
Memasuki fase akhir Ramadan, jamaah diajak untuk tidak mengendurkan semangat. Ini adalah momentum “panen raya” pahala dan pensucian jiwa. Meneladani Rasulullah SAW yang meningkatkan intensitas ibadahnya di sepuluh hari terakhir dengan “mengencangkan ikat pinggang”:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
“Rasulullah SAW apabila memasuki sepuluh hari terakhir (Ramadan), beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh (dalam beribadah), dan mengencangkan sarungnya.” (HR. Muslim).
Pengajian diakhiri dengan momen ramah tamah dan buka puasa bersama 150 jamaah di sekitar lingkungan masjid. Sebagai wujud nyata dari ibadah yang memancarkan cahaya sosial, acara ditutup dengan pentasarufan paket sembako dan tali asih. Sebanyak 62 paket untuk kaum dhuafa, 20 Paket untuk ustadz dan ustadzah. Serta 15 untuk anak yatim dan santri TPQ dengan kategori paling rajin.
Melalui aksi nyata ini, Ramadan di MNH Tanjung bukan hanya berlalu tanpa kata. Melainkan meninggalkan jejak kebaikan yang nyata bagi umat. Semoga setiap sujud dan sedekah kita menjadi pembuka pintu surga-Nya.






0 Tanggapan
Empty Comments