Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Membayangkan KH Ahmad Dahlan Punya Akun TikTok

Iklan Landscape Smamda
Membayangkan KH Ahmad Dahlan Punya Akun TikTok
kh Ahmad Dahlan. Foto:Wikipedia
Oleh : Dr. Sholikh Al Huda, M. Fil. I Tim Pengembangan AIK Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah
pwmu.co -

Coba bayangkan sejenak, bagaimana jadinya kalau KH. Ahmad Dahlan hidup di zaman ini dan punya akun TikTok?

Mungkin beliau bukan sekadar mengajar Tafsir Al-Ma’un di serambi masjid, tapi juga bikin konten dakwah singkat berdurasi 60 detik dengan caption: “Agama itu amal sosial, bukan sekadar ritual.”

Bisa jadi, video beliau viral, ditonton jutaan kali, dan memenuhi FYP para anak muda yang sedang bosan scroll konten receh.

Tapi di balik bayangan lucu itu, ada pertanyaan serius, bagaimana seharusnya semangat pembaruan (tajdid) Muhammadiyah diterjemahkan di era digital?

Di zaman Kiai Ahmad Dahlan, tajdid berarti melawan kebekuan berpikir dan keberagamaan yang ritualistik.

Di masa kini, tajdid berarti melawan kebekuan digital, ketika agama direduksi menjadi slogan, dikapitalisasi oleh algoritma, dan kehilangan kedalaman moralnya.

Gerakan Muhammadiyah lahir bukan hanya sebagai organisasi dakwah, tapi sebagai revolusi kultural. Mengubah cara berpikir umat agar lebih rasional, ilmiah, dan progresif.

Kini, tantangan itu hadir dalam bentuk baru. Jika dulu musuhnya adalah takhayul dan fatalisme, sekarang lawannya adalah disinformasi digital dan agama yang dikomodifikasi untuk konten.

Banyak “ustaz viral” lebih sibuk mengejar engagement ketimbang pencerahan. Di sini, tajdid Muhammadiyah perlu turun lagi — tapi bukan di pasar atau masjid semata, melainkan di ruang digital tempat anak muda mencari makna.

Bayangkan kalau semangat Al-Ma’un dihidupkan dalam bentuk campaign digital: membantu kaum miskin, korban hoaks, atau pelajar yang kehilangan arah karena banjir informasi.

Bayangkan sekolah-sekolah Muhammadiyah menjadi center of digital literacy yang mengajarkan etika bermedia sosial setara pentingnya dengan akhlak dalam ibadah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Bukankah itu lanjutan dari misi “menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama”?

Masalahnya, sebagian warga Muhammadiyah masih alergi terhadap media sosial. Ada yang menganggap dunia digital itu dunia “remeh”, “tidak beradab”, atau “tidak pantas untuk dakwah serius.”

Padahal, justru di sanalah publik baru terbentuk, dan ide-ide Islam berkemajuan bisa diuji relevansinya.

KH. Ahmad Dahlan dulu memakai papan tulis dan lagu Tombo Ati untuk berdialog dengan zamannya.

Maka, kalau beliau hidup sekarang, bukan tidak mungkin ia akan pakai TikTok, YouTube, dan podcast untuk berdakwah — dengan cara yang tetap rasional dan berkeadaban.

Tajdid era digital bukan berarti ikut arus viral, tapi menghadirkan nilai Islam berkemajuan dalam bahasa zaman.

Artinya, bukan sekadar tampil kekinian, tetapi juga mencerahkan dan memanusiakan. Jika KH. Ahmad Dahlan dulu membongkar kebekuan umat dengan tafsir sosial, maka hari ini warga Muhammadiyah harus membongkar kebekuan digital dengan literasi, empati, dan aksi nyata di dunia maya.

Mungkin, kalau KH. Ahmad Dahlan benar-benar punya akun TikTok, bio-nya akan berbunyi begini:

“Ngaji itu bukan sekadar hafalan, tapi pembebasan.”
Dan itu, sejujurnya, masih sangat relevan untuk kita yang hidup di era scroll tanpa henti. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu