Suasana khidmat menyelimuti Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, saat kultum Ramadan yang disampaikan Syaikh asal Mesir, Khairiy Abdel Sattar, Kamis (26/2/2026). Dalam kesempatan itu, ia mengangkat tema “Membenci dan Mencintai karena Allah”.
Syaikh Khairiy merupakan guru utusan Al-Azhar yang telah mengabdi sebagai guru kehormatan selama tiga tahun di Ponpes Al-Ishlah. Kultum disampaikan setiap hari usai salat Dzuhur, kecuali Jumat, di Masjid Al-Ishlah, di hadapan kurang lebih 2.000 santri.
Dengan bahasa Arab yang fasih dan suara lantang penuh semangat, Syaikh yang akrab disapa Syaikh Khairy itu menyampaikan pesan-pesan tentang pentingnya menjaga hati. Para santri tampak duduk rapi sesuai saf salat, menyimak dengan penuh konsentrasi meski ceramah disampaikan sepenuhnya dalam bahasa Arab.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa di antara perkara hati yang mendasar adalah kebencian dan mahabbah (cinta). Seorang mukmin, tegasnya, harus menjadikan setiap perbuatan murni karena Allah, baik dalam membenci maupun mencintai.
“Membenci karena Allah berarti membenci apa yang dibenci Allah, seperti kekafiran, kesyirikan, kefasikan, dan kemaksiatan. Namun yang dibenci adalah perbuatannya, bukan pelakunya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kebencian karena Allah mencakup kebencian terhadap kekafiran dan kesyirikan karena rusaknya akidah. Meski demikian, hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk berlaku zalim. Hak-hak sesama manusia tetap harus dijaga dan muamalah tetap dilakukan secara baik.
Selain itu, ia juga menyinggung sikap terhadap pelaku maksiat dan ahli bid’ah. “Kita membenci perbuatannya, bukan orangnya. Selama ia masih Muslim, tetap ada kewajiban menyayangi karena terikat ukhuwah Islamiyah,” imbuhnya.
Di hadapan santri SMPM 12 Spemudas Paciran dan MA Al-Ishlah, Syaikh Khairy juga mengingatkan pentingnya mahabbah karena Allah. Ia menyoroti fenomena remaja yang mengidolakan artis, atlet, atau figur publik tanpa mempertimbangkan perilaku mereka.
“Banyak pemuda dan pemudi mengidolakan seseorang, padahal idolanya melakukan kemaksiatan yang bisa memengaruhi penggemarnya. Mahabbah harus tetap berada dalam koridor syariat,” tegasnya.
Ia menambahkan, seorang Muslim tidak boleh mencintai seseorang secara membabi buta. Jika terdapat perbuatan maksiat, maka perbuatan itulah yang dibenci, agar kecintaan tetap terjaga dalam batas yang diridhai Allah.
Untuk menguatkan penjelasannya, Syaikh Khairy membawakan hadis riwayat Ahmad bin Hanbal tentang seseorang yang mencintai suatu kaum meski belum mampu menyamai amal mereka.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai.” Anas bin Malik ketika meriwayatkan hadis tersebut berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya kami mencintai-Mu dan mencintai Rasul-Mu.”
Di akhir kultum, Syaikh yang selalu mengenakan gamis khas Mesir itu mengajak para santri agar membenci dan mencintai sesuatu semata-mata karena Allah, bukan karena hawa nafsu atau kepentingan pribadi. Keduanya, tegasnya, harus senantiasa berjalan sesuai koridor syariat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments