Suasana siswa Jepang belajar set bilangan dan waktu. Foto: Ria Pusvita Sari/PWMU.CO
Oleh : Ria Pusvita Sari MP.dGuru SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik
pwmu.co -
Observasi di Tsukuba University Elementary School, Tokyo, mengungkap bagaimana guru Jepang membangun kemampuan membaca waktu melalui penguatan komposisi, dekomposisi, dan komplemen bilangan, menjadikan sistem basis-60 sebagai perluasan logis dari basis-10,bukan sekadar materi hafalan. Berikut catatan perjalanan belajar saya di Jepang.
Pagi itu, Selasa (3/2/2026) menjadi hari yang mencerahkan bagi saya. Bertempat di Tsukuba University Elementary School, Tokyo Campus, Japan, sebuah observasi kelas mendalam dilakukan untuk membedah bagaimana guru di Jepang menjembatani pemahaman matematika dasar dengan kompleksitas membaca waktu.
Fokus utama pengamatan ini adalah bagaimana transisi dari Sistem Basis-10 (berhitung sehari-hari) menuju Sistem Basis-60 (waktu) dilakukan bukan melalui hafalan, melainkan melalui penguatan struktur bilangan yang kokoh.
Dalam observasi tersebut, terungkap guru-guru di Tsukuba University Elementary School menekankan empat pilar utama yang menyatukan logika berhitung dengan logika waktu:
Pertama, Konsep Set dan Satuan (Set Number). Anak-anak di Jepang dilatih untuk melihat bilangan sebagai “kelompok”.
Jika dalam Basis-10 mereka memahami bahwa 10 satuan membentuk “1 puluhan”, dalam logika waktu mereka menerapkan hal serupa: satu set 60 menit adalah “1 satuan jam”.
Sesi refleksi pembelajaran set bilangan dan waktu bersama Prof Masami Isoda. Foto: Ria Pusvita Sari/PWMU.CO
Kemampuan abstraksi ini membuat angka 60 tidak lagi terasa asing, melainkan hanya sebuah “set” yang lebih besar.
Kedua, Komposisi: menyusun keutuhan. Sebelum menyentuh jarum jam, siswa ditekankan pada proses menggabungkan bagian-bagian menjadi utuh.
Di kelas, terlihat bagaimana siswa berlatih menyusun angka 10 menggunakan berbagai kombinasi, seperti 5 + 5, 7 + 3, dan lain-lain.
Jam bukan sekadar lingkaran angka yang acak, melainkan peta logis yang dibangun dari potongan-potongan kecil.
Ketiga, dekomposisi: memecah ruang dan waktu. Dekomposisi menjadi kunci saat siswa harus menghitung “waktu tersisa”.
Kemampuan memecah angka 10 (misalnya menjadi 7 dan 3) adalah fondasi bagi mereka untuk melihat bahwa pukul 07.45 adalah hasil dekomposisi ruang antara pukul 07.00 hingga 08.00.
Tanpa kelancaran memecah bilangan, siswa akan kesulitan memahami posisi menit sebagai bagian dari satu jam yang utuh.
Keempat, komplemen enam puluh: mental matematika. Salah satu temuan paling menarik adalah penggunaan komplemen sepuluh (pasangan angka berjumlah 10) yang kemudian dieksplorasi menjadi komplemen enam puluh.
Jika jarum menit berada di angka 40, siswa secara spontan mengetahui ada 20 menit tersisa. Kecepatan berpikir ini lahir karena mereka sudah terbiasa dengan konsep 4 + 6 = 10, yang kemudian diderivasi menjadi 40 + 20 = 60.
Melalui pengamatan di Tsukuba University Elementary School, saya melihat pendidikan matematika di Jepang tidak memisahkan topik “Waktu” sebagai materi hafalan belaka.
Sebaliknya, waktu diperlakukan sebagai perluasan dari tata bahasa matematika yang sudah mereka pelajari dalam Basis-10.
Dengan menguasai komposisi, dekomposisi, dan komplemen, siswa tidak sekadar “melihat jam”, tetapi “memahami ruang waktu” secara numerik. (*)
0 Tanggapan
Empty Comments