Search
Menu
Mode Gelap

Memupuk Semangat Berkurban dan Mewujudkan Kebersamaan Dibahas dalam Kajian Rutin SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen

pwmu.co -
Guru dan karyawan SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen saat mengikuti kajian (Syaiful Efendi/PWMU.CO)

PWMU.CO – Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam serta memperkuat iman dan spiritualitas, para guru dan karyawan SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Malang menggelar Kajian Rutin pada Selasa (20/5/2025) di Masjid Fastabiqul Khairat Kampus 1.

Kajian yang diselenggarakan setiap tanggal 20 setiap bulan ini menghadirkan narasumber Ustadz Hasyim Azhari SPdI, dengan tema “Memupuk Semangat Berkurban, Mewujudkan Semangat Kebersamaan.”

Acara diawali dengan sambutan Kepala SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Luqman Hakim MPd. Ia menekankan pentingnya kajian rutin yang dilaksanakan setiap tanggal 20 setiap bulan ini.

Menurutnya, kajian ini bukan hanya program wajib bagi seluruh guru dan karyawan sekolah, tetapi juga menjadi sarana untuk menambah dan meningkatkan wawasan keagamaan.

“Ilmu agama ibarat air laut, semakin kita minum, semakin kita merasa haus. Semakin kita mendalami persoalan-persoalan agama, semakin kita menyadari bahwa bekal kita masih kurang, karena samudera ilmu agama sangatlah luas,” ujarnya.

Ia juga berharap agar seluruh Bapak dan Ibu Guru serta Karyawan, selama tidak ada kepentingan yang sangat mendesak atau yang dapat dijadwalkan ulang, tetap dapat memenuhi undangan sekolah untuk mengikuti kajian rutin bulanan.

“Kajian rutin ini bertepatan dengan momentum menyambut Hari Raya Idul Adha atau Idul kurban, yang akan dilaksanakan kegiatan-kegiatannya di sekolah. Acara ini mengandung dimensi tarbiyah atau pembelajaran bagi Bapak dan Ibu Guru maupun Peserta Didik,” tuturnya.

Luqman Hakim juga mengatakan bahwa melalui kegiatan Idul Adha ini, kita mengajarkan peserta didik untuk menumbuhkan semangat kebaikan dalam berkurban melalui pengumpulan infaq, yang nantinya diwujudkan dalam bentuk hewan kurban yang disembelih. Hal yang sama juga berlaku bagi Bapak dan Ibu Guru serta Karyawan Sekolah, yang turut dihimpun melalui infaq.

Selain itu, kajian ini juga bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, yang menjadi seruan bagi Bapak dan Ibu Guru serta Karyawan untuk meneladani semangat kebangkitan para pendiri bangsa, yang memulai perjuangan dari kesadaran akan pentingnya persatuan dan identitas nasional.

Kegiatan ini semakin berkesan karena turut hadir kepala sekolah periode sebelumnya, Drs Maryanto MM. Ia hadir untuk berpamitan sekaligus memohon dukungan dan doa restu dalam melaksanakan ibadah haji, yang merupakan rukun Islam kelima.

Mengawali kajian, Hasyim Azhari memanjatkan doa dengan penuh kekhusyu’an agar seluruh peserta kajian rutin senantiasa mendapatkan perlindungan dari Allah SWT, dikaruniai umur yang barakah dan bermanfaat, hingga akhirnya dipertemukan di Surga. Ia menyampaikan bahwa puncak perjalanan panjang manusia tergambar dalam Surat asy-Syura ayat ke-7.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Dan demikianlah Kami wahyukan Al-Quran kepadamu dalam bahasa Arab, agar engkau memberi peringatan kepada penduduk ibukota (Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) di sekelilingnya serta memberi peringatan tentang hari berkumpul (Kiamat) yang tidak diragukan adanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka”.

Ustadz Hasyim Azhari juga menyampaikan pentingnya mempelajari bahasa Arab dengan tiga alasan utama. Pertama, karena dirinya adalah orang Arab, maka mencintai Nabi juga berarti mencintai bahasanya. Kedua, karena al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab, serta ketiga, yang paling indah, adalah karena bahasa yang digunakan di dalam surga juga merupakan bahasa Arab.

“Jadilah kita generasi akhirat, jangan hanya menjadi generasi dunia. Sebab dunia sudah jauh meninggalkan kita, sementara akhirat justru semakin mendekat. Di dunia ini hanya ada kesempatan untuk beramal, belum ada hisab,” tegasnya.

Artinya, perbaikilah amalan-amalan baik selama di dunia. Jaga keseimbangan antara hablumminallah (hubungan dengan Allah) dan hablumminannas (hubungan dengan sesama manusia), karena keduanya merupakan aspek penting yang harus dijaga oleh setiap Muslim untuk mencapai kesempurnaan ibadah.

“Ilmu seseorang dalam menjalani ibadah memiliki tiga tahapan. Tahap pertama adalah takabur (sombong), tahap berikutnya adalah tawadhu (rendah hati), dan tahap terakhir adalah menyadari bahwa diri ini sebenarnya tidak mengetahui apa-apa,” imbuhnya.

Di penghujung ceramahnya, Hasyim Azhari menyampaikan bahwa sebagai manusia, sebagaimana sabda Rasulullah, kita tidak boleh merasa lebih mulia dari orang lain. Sebab, yang membedakan derajat manusia di hadapan Allah hanyalah ketakwaan.

Menurutnya, tanda ketakwaan seseorang terlihat dari kemampuannya menggabungkan hubungan dengan Allah melalui shalat, serta hubungan dengan sesama manusia melalui sikap pengorbanan.

“Jadikanlah semangat berkorban sebagai bentuk pengorbanan demi meraih kebersamaan yang indah. Insyaallah, kita bersama di dunia, bersama di alam barzakh, dan bersama di surga,” pungkasnya. (*)

Penulis Syaiful Efendi Editor Ni’matul Faizah

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments