Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menanam di Rajab, Menyiram di Sya’ban, Memanen di Ramadan

Iklan Landscape Smamda
Menanam di Rajab, Menyiram di Sya’ban, Memanen di Ramadan
Foto: en.aletihad.ae
pwmu.co -

Menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan dan persiapan matang adalah kunci ibadah yang berkualitas.

Langkah utamanya meliputi membersihkan hati (tobat), melunasi utang puasa, meningkatkan amal ibadah (sedekah, tilawah, puasa sunah), serta menjaga kesehatan fisik dan mental.

Tradisi seperti munggahan (silaturahmi/makan bersama) juga memperkuat semangat menyambut bulan suci.

Al-Imam Abu Bakr Al-Balkhi rahimakumullah pernah berkata :

رجب شهر الزرع، وشعبان شهر السقي، ورمضان شهر الحصاد

“Rojab adalah bulan menanam (amal), Sya’ban adalah bulan untuk menyirami, sedangkan Romadhon adalah bulan untuk memanen (pahala).” ( Latho’iful Ma‘ārif, karya Al-Imam Ibnu Rojab Al-Hambali rohimahulloh).

Maksudnya adalah, bahwa bulan Rajab adalah bulan yang sepantasnya kita memulai untuk banyak bertaubat kepada Allah dari semua dosa-dosa, menanam niat yang ikhlas, memulai untuk pembiasaan melakukan berbagai amal saleh dan amal ketaatan kepada Allah, demikian pula untuk membersihkan hati dari dosa-dosa dan kelalaian.

Atau ibaratnya Rajab itu adalah awal persiapan ruhiyah menghadapi bulan Ramadan, bukan bulan untuk panen pahala amal. Sementara

“Sya’ban adalah bulan untuk menyiram”.
Maksudnya adalah, menyiram tanaman iman dengan amal ibadah yang konsisten, memperbanyak puasa sunah, berzikir, tilawah (membaca Al-Qur’an), dan melatih untuk istikomah dalam melakukan berbagai amal saleh.

Karena tanaman yang sudah ditanam, dia tidak akan tumbuh subur dan berkembang tanpa disiram.

“Ramadan adalah bulan untuk memanen”
Maksudnya adalah, bulan untuk menuai/memanen hasil dari tobat dan latihan berbagai amal saleh dan ibadah yang kita lakukan pada bulan-bulan sebelumnya.

Yaitu dengan merasakan manisnya ibadah di bulan Ramadhan ini, lebih mudah khusyuk, lebih sabar, dan lebih istikamah.

Ramadan bukan tempat untuk memulai dari nol, tetapi puncak untuk melakukan berbagai amal saleh, yang kita lakukan secara rutin setiap tahunnya.

Siapa yang tidak menanam dan tidak menyiram, bagaimana mungkin dia akan memanen? Ya, ini adalah teguran yang sangat keras bagi jiwa kita semua.

Orang yang lalai sebelum Ramadan, tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya dengan melatih diri melakukan berbagai amal saleh, bagaimana mungkin dia bisa berharap bulan Ramadan mengubah dirinya secara instan? Jelas tidak mungkin!

Agar Ramadan nanti kita bisa memanen amal saleh yang kita lakukan, hendaknya mulai dari sekarang bulan Sya’ban, untuk mengisinya dengan melakukan berbagai amal shalih dan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Ibadah itu memiliki sebab–akibat, bukan terjadi tiba-tiba. Siapa yang bersungguh-sungguh dalam melatih dirinya untuk terus menerus beribadah dan melakukan berbagai amal saleh dan ketaatan kepada Allah sebelum Ramadan, maka dia akan lebih mudah dan lebih ringan melakukannya di bulan Ramadhan nanti. Demikian pula di bulan-bulan yang lainnya.

Bulan Ramadan bukan bulan untuk bermalas-malasan, tapi bulan produktif untuk beribadah dan beramal saleh.

Pentingnya istikomah dalam melakukan berbagai amal ketaatan, sebelum datangnya musim-musim kebaikan.

Siapa yang terbiasa melakukan amal ketaatan sebelum datangnya bulan Ramadan, maka dia akan lebih mudah untuk melakukan amal ketaatan di saat Ramadan nanti. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu