Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menanam Sejak Dini, Menuai Kader Hebat di Masa Depan

Iklan Landscape Smamda
Menanam Sejak Dini, Menuai Kader Hebat di Masa Depan
pwmu.co -
(Alfain Jalaluddin Ramadlan/PWMU.CO)

Oleh: Alfain Jalaluddin Ramadlan – Ketua Bidang Pustaka dan Literasi Kwarwil HW Jawa Timur, Wakil Sekretaris LSBO PDM Lamongan, Ketua Bidang TKK PC IMM Lamongan, dan Pengajar Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan.

PWMU.CO – Data UNICEF tahun 2020 mencatat, ada sebanyak 41 persen pelajar mengalami kekerasan, dan 45 persen menjadi korban cyber bullying. Angka ini diyakini jauh lebih besar di lapangan, sebab tak semua korban berani bersuara.

Di Indonesia, fenomena perundungan di kalangan pelajar juga sangat memprihatinkan. Mengutip detikEdu, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyebut, kasus bullying banyak terjadi di jenjang SD (25 persen) dan SMP (25 persen), disusul SMA dan SMK (masing-masing 18,75 persen), serta MTs dan Pondok Pesantren (6,25 persen).

Salah satu kasus yang menggemparkan terjadi di Cilacap, Jawa Tengah. Sebuah video berdurasi 4 menit 14 detik memperlihatkan aksi pengeroyokan terhadap seorang siswa SMP hingga korban tak berdaya. Kejadian ini terjadi pada 25 September 2023 lalu

Sementara itu, Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat bahwa jumlah anak-anak Indonesia mencapai 88,7 juta jiwa—sepertiga dari total populasi. Masa depan negeri ini sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda hari ini. Sayangnya, mereka masih menghadapi berbagai persoalan, termasuk kekerasan. Sementara itu, Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 mengungkap, satu dari dua anak usia 13-17 tahun pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya.

Tak hanya itu, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat, selama Januari-Agustus 2023, terdapat 379 kasus kekerasan fisik dan perundungan terhadap anak usia sekolah yang terjadi di lingkungan pendidikan.

Perkaderan Sejak Dini

Dalam situasi seperti ini, perkaderan sejak dini bukan sekadar alternatif, tapi menjadi kebutuhan mendesak. Terutama bagi organisasi keislaman seperti Muhammadiyah dan ortom-ortomnya. Menanamkan nilai-nilai perjuangan tidak cukup jika dimulai saat seseorang telah remaja atau dewasa. Justru, masa kanak-kanak adalah fondasi emas yang harus dibangun kuat sejak awal.

Mengapa sejak dini? Karena anak-anak adalah peniru terbaik. Mereka belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan, bukan hanya dari apa yang diajarkan.

Lingkungan kaderisasi anak seperti TK Aisyiyah, Hizbul Wathan, Tapak Suci, dan Amal Usaha Muhammadiyah menjadi lahan strategis untuk membentuk karakter, membangun kecintaan terhadap organisasi, serta menanamkan semangat perjuangan dan tanggung jawab sosial.

Perkaderan Investasi Peradaban

Membina anak-anak hari ini sesungguhnya adalah membangun kepemimpinan masa depan. Kader yang tumbuh bersama nilai Islam yang mencerahkan sejak dini akan lebih siap mengemban amanah organisasi, memimpin umat, dan menata peradaban.

Perkaderan sejak dini juga menjadi solusi mencegah krisis kader di masa depan. Namun, regenerasi hanya akan berjalan baik jika dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

Perkaderan bukan tugas tunggal ortom atau lembaga pendidikan saja. Namun kerja bersama antara keluarga, sekolah, organisasi, dan masyarakat. Orang tua harus dilibatkan, guru perlu diberdayakan, dan lingkungan mesti menjadi ladang subur bagi nilai-nilai kebaikan.

Mari kita rawat kader-kader kecil kita. Bukan sekadar mencetak generasi pandai, tetapi juga tangguh dalam nilai, istiqamah dalam dakwah, dan rendah hati dalam perjuangan.

Sebab kader unggul tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari benih yang ditanam dengan cinta, dirawat dengan sabar, dan dipupuk oleh keteladanan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Langkah-langkah Strategis yang Dapat Diterapkan ke Depannya

Ke depan, perlu dilakukan langkah strategis dan kolaboratif dalam penguatan kaderisasi usia dini melalui beberapa cara, di antaranya:

Satu, menguatkan sinergi antara sekolah, dan keluarga dalam menciptakan ekosistem kaderisasi yang kondusif.

Dua, meningkatkan pelatihan guru dan pembinaan anak, agar mampu menjadi teladan sekaligus fasilitator nilai perjuangan Muhammadiyah.

Tiga, membentuk kurikulum kaderisasi anak yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam Berkemajuan, berbasis pengalaman, bukan sekadar hafalan.

Empat, Mendorong kreativitas dan keceriaan dalam kegiatan kaderisasi, agar anak-anak belajar dengan riang, bukan dengan tekanan.

Lima, Membangun sistem kaderisasi berjenjang dan berkelanjutan, dari TK hingga remaja, agar nilai-nilai tidak terputus di tengah jalan.

Pada akhirnya, perkaderan adalah investasi jangka panjang yang tidak boleh dilupakan. Mari jadikan setiap pelukan, nasihat, dan bimbingan kepada anak-anak kita sebagai bagian dari proses membangun peradaban Islam yang tercerahkan.

Firman Allah Swt dalam surat at-Tahrim ayat 6 dapat dijadikan pegangan dan pedoman.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (*)

Editor Ni’matul Faizah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu