Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita menyaksikan bahwa persoalan besar justru bermula dari hal-hal kecil: nada suara yang meninggi, wajah yang masam, kalimat yang kurang santun.
Sebaliknya, banyak pula masalah yang mereda bukan karena kekuatan jabatan atau banyaknya harta, melainkan karena satu sikap sederhana: sopan santun.
Sopan santun bukan sekadar etika sosial, tetapi cerminan akhlak dan kedewasaan jiwa. Ia adalah bahasa universal yang dapat dipahami siapa saja, tanpa memandang latar belakang pendidikan, status sosial, atau budaya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (QS. Fushshilat: 34)
Ayat ini bukan hanya nasihat spiritual, tetapi juga pedoman praktis dalam membangun relasi. Allah mengajarkan bahwa kejahatan tidak dibalas dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan yang lebih tinggi kualitasnya. Dan salah satu bentuk kebaikan paling nyata adalah sikap sopan dan santun.
Bayangkan seorang karyawan yang ditegur keras oleh atasannya di depan rekan-rekannya. Hatinya mungkin panas, harga dirinya terasa terusik. Ia memiliki dua pilihan: membalas dengan sikap defensif dan nada tinggi, atau menahan diri, menjawab dengan tenang, dan menyampaikan klarifikasi secara santun setelah suasana reda.
Jika ia memilih yang pertama, konflik bisa melebar. Suasana kerja menjadi tidak nyaman, hubungan memburuk, bahkan bisa berujung pada permusuhan berkepanjangan.
Namun jika ia memilih yang kedua—menahan emosi, tetap hormat, dan berbicara dengan bahasa yang baik—sering kali atasan justru luluh.
Bahkan bisa jadi, setelah menyadari sikap dewasa bawahannya, atasan tersebut meminta maaf dan hubungan keduanya menjadi lebih kuat.
Contoh lain dapat kita lihat di lingkungan bertetangga. Ada kalanya terjadi kesalahpahaman: suara musik yang terlalu keras, kendaraan yang menghalangi jalan, atau persoalan batas tanah.
Jika ditegur dengan kalimat kasar, masalah kecil dapat berubah menjadi pertikaian besar. Namun bila disampaikan dengan kalimat lembut, “Maaf Pak, mungkin bisa sedikit dikecilkan volumenya, anak saya sedang belajar,” maka suasana menjadi cair. Teguran diterima tanpa rasa tersinggung.
Sopan santun adalah jembatan yang menghubungkan hati dengan hati.
Di sisi lain, sering kali orang mengira bahwa simpati dan penghargaan dapat dibeli dengan materi. Padahal, materi memiliki batas, sedangkan akhlak yang baik menjangkau hati tanpa batas.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Kalian tidak dapat menjangkau semua orang dengan harta benda kalian, tapi mereka dapat terjangkau oleh kalian dengan wajah yang cerah dan akhlak yang luhur.” (HR. Al-Bazzar)
Betapa dalam makna hadis ini. Tidak semua orang bisa kita bantu secara finansial. Tidak semua orang bisa kita bahagiakan dengan pemberian materi. Tetapi setiap orang bisa kita sambut dengan senyuman, dengan wajah yang berseri, dengan ucapan yang baik.
Di sebuah pelayanan publik, misalnya, dua petugas memiliki fasilitas yang sama. Namun yang satu melayani dengan wajah masam dan jawaban singkat, sementara yang lain menyapa dengan ramah, menjelaskan dengan sabar, dan menutup dengan doa kebaikan.
Tanpa disadari, masyarakat akan lebih menghargai yang kedua. Bahkan jika ada kekurangan kecil dalam layanan, keramahan itu sering menutupinya.
Sopan santun adalah kekayaan yang tidak menguras harta, tetapi memperkaya jiwa.
Sopan santun adalah hal yang paling cepat terlihat. Ia tidak membutuhkan teori panjang untuk dikenali.
Anak kecil pun dapat merasakan perbedaan antara sapaan hangat dan bentakan keras. Orang yang tidak berpendidikan tinggi pun mampu membedakan mana sikap hormat dan mana yang meremehkan.
Karena itu, sopan santun menjadi wajah pertama Islam di mata orang lain. Dalam dakwah, sering kali bukan argumen yang paling memikat hati, tetapi keteladanan akhlak.
Sejarah membuktikan bahwa banyak orang tertarik kepada Islam bukan karena debat panjang, melainkan karena melihat kejujuran, keramahan, dan kelembutan umatnya.
Jika dalam keluarga, orang tua berbicara lembut kepada anak-anaknya, maka anak belajar bahwa Islam adalah agama kasih sayang.
Jika guru menegur murid dengan penuh hikmah, maka murid merasakan bahwa ilmu berjalan seiring dengan akhlak. Jika pemimpin bersikap santun kepada yang dipimpinnya, maka kepemimpinan terasa sebagai amanah, bukan ancaman.
Ayat dalam QS. Fushshilat tadi memberikan janji yang luar biasa: musuh dapat berubah menjadi teman setia.
Namun perubahan itu tidak terjadi seketika. Ia membutuhkan kesabaran, kelapangan dada, dan keteguhan dalam berbuat baik.
Sikap sopan sering kali adalah ujian terbesar ketika hati sedang terluka. Justru di saat itulah nilainya menjadi sangat tinggi. Membalas kebaikan dengan kebaikan adalah hal biasa. Tetapi membalas keburukan dengan kebaikan adalah kemuliaan.
Ketika kita memilih untuk tetap santun di tengah provokasi, kita bukan sedang merendahkan diri, tetapi sedang meninggikan derajat di sisi Allah.
Sopan santun bukan sekadar strategi sosial, melainkan ibadah. Ia adalah wujud ketaatan kepada perintah Allah dan keteladanan Rasulullah. Dengan sopan santun, keluarga menjadi harmonis, lingkungan menjadi damai, dan masyarakat menjadi lebih beradab.
Mari kita memohon kepada Allah agar dihiasi dengan akhlak yang mulia, wajah yang cerah, dan hati yang lembut.
Yaa Allah Yaa Rabb, Yaa Rahman Yaa Rohim, ampuni salah dan dosa kami. Jadikanlah kami hamba yang istiqamah menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu.
Tetapkan kami sebagai hamba yang tetap beriman dan berislam, sehat serta selalu dalam limpahan hidayah, rahmat, dan lindungan-Mu di dunia dan di akhirat.
Yaa Allah, berilah kami ilmu yang bermanfaat, rezeki yang barokah, dan amalan yang Engkau terima. Terimalah dan kabulkanlah doa-doa kami.
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.
Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments