Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi, Lamongan kelas VIII kembali menghadirkan pengalaman menarik bagi siswa.
Pada Rabu (10/9/2015), guru IPA mengajak para siswa melakukan kegiatan identifikasi kandungan gizi pada bekal makanan yang mereka bawa dari rumah.
Kegiatan sederhana namun bermakna ini bertujuan agar siswa tidak hanya memahami teori gizi dari buku pelajaran, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap siswa diminta membuka bekal makanan, kemudian bersama kelompoknya mencatat komposisi makanan dan mengidentifikasi kandungan gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.
Kepala MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi, Helmi Rohmanto SPdI mengapresiasi metode pembelajaran tersebut.
“Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mampu dihubungkan dengan kehidupan nyata. Dengan kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa bekal yang mereka bawa setiap hari tidak sekadar untuk mengenyangkan perut, tetapi juga menentukan kesehatan dan kecerdasan mereka,” ungkapnya.
Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum Us’idah SPdI juga menegaskan bahwa pembelajaran kontekstual seperti ini sangat sejalan dengan arah pendidikan.
“IPA tidak boleh hanya berhenti di teori. Anak-anak harus menyaksikan langsung bagaimana konsep gizi itu hadir dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan demikian, ilmu akan lebih mudah dipahami dan membekas lebih lama,” tuturnya.
Khumaidah SSi MM, guru IPA yang memandu jalannya kegiatan, menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan siswa.
“Pertama, siswa mencatat jenis makanan yang ada di bekal, kemudian mengelompokkannya sesuai kandungan gizi utama. Misalnya nasi sebagai sumber karbohidrat, telur sebagai sumber protein, buah sebagai sumber vitamin dan serat. Dengan cara ini, siswa diajak berpikir kritis sekaligus menghargai pentingnya bekal sehat,” terangnya.
Suasana kelas pun berlangsung antusias. Siswa tampak saling berdiskusi, ada yang membandingkan bekalnya dengan temannya, ada pula yang terkejut saat menyadari bahwa makanannya lebih banyak mengandung karbohidrat daripada vitamin.
Aktivitas itu menumbuhkan kesadaran bahwa keseimbangan gizi penting bagi tubuh. Salah seorang siswa, Neelofa Anggarany, mengaku senang dengan pengalaman tersebut.
“Biasanya saya tidak terlalu memperhatikan isi bekal, yang penting enak. Tapi setelah kegiatan ini, saya jadi tahu kalau makanan sebaiknya seimbang, ada karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Mulai sekarang saya ingin minta ibu menambahkan buah dalam bekal saya,” ucapnya dengan polos namun penuh kesadaran baru.
Kegiatan identifikasi gizi ini menjadi bukti bahwa pembelajaran IPA tidak harus kaku dan penuh rumus, tetapi bisa menyenangkan, mendidik, dan sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Lebih dari itu, kegiatan ini juga menanamkan budaya membawa bekal sehat ke madrasah, sebagai upaya menjaga kesehatan siswa sekaligus menumbuhkan kebiasaan hidup bersih dan bergizi seimbang.
Dengan demikian, pembelajaran IPA di MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran hidup sehat bagi para siswanya.






0 Tanggapan
Empty Comments