Dunia hari ini tidak lagi sekadar bergerak cepat, ia bergerak dalam arah yang saling bertolak belakang. Kita hidup di era yang disebut sebagai Paradoxical World sebuah fenomena di mana kemajuan dan kemunduran berjalan beriringan.
Di satu sisi, teknologi kecerdasan buatan (AI) menjanjikan efisiensi, namun di sisi lain, ia memicu krisis eksistensi manusia.
Dalam pusaran kontradiksi ini, sebuah pertanyaan besar muncul: Jika dunia terus bergerak ke arah yang paradoks, apa yang seharusnya dijaga oleh pendidikan?
Jawabannya bukan terletak pada pembaruan kurikulum administratif, melainkan pada sebuah langkah radikal: Reset, bukan sekadar Restart.
Fenomena Paradoxical World dan Krisis Logika
Dunia paradoks ditandai oleh gejala yang kontradiktif. Menurut Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan, Muhammad Nur Rizal menegaskan, bahwa kita saat ini semakin terhubung secara digital namun semakin terasing secara sosial.
Kita lebih mudah belajar karena akses informasi, tetapi justru lebih mudah malas. Yang paling berbahaya, kecerdasan manusia terus meningkat secara teknis, tetapi kebijaksanaan (wisdom) justru tertinggal jauh di belakang.
Paradoks ini nyata dalam kebijakan dan perilaku sosial kita. Sebagai contoh, eksploitasi hutan di Sumatera yang dianggap sebagai instrumen investasi, justru mendatangkan kerugian ekonomi yang lebih besar akibat banjir bandang dan longsor.
Di sini letak ironinya: kita mencetak banyak sarjana, namun keputusan yang diambil sering kali mengabaikan data, logika, dan moral. Pendidikan kita berhasil menciptakan “pekerja”, namun gagal membangun manusia yang mampu membaca realitas alam.
Human Reset: Kembali ke Mode Dasar Manusia
Dalam menghadapi dunia yang paradoks, Muhammad Nur Rizal menawarkan konsep Human Reset. Istilah ‘reset’ dipilih karena pendidikan tidak boleh hanya sekadar “mulai ulang” (restart) dengan cara lama.
Reset berarti menata ulang sistem dan kembali ke mode dasar manusia untuk membangun pola pikir yang jernih dan sehat.
Apa yang harus dijaga oleh pendidikan dalam proses reset ini? Fondasi kemanusiaan. Fondasi ini mencakup kemampuan berpikir jernih, membaca realitas, memberi makna pada setiap peristiwa, serta kemampuan membedakan benar dan salah.
Tanpa fondasi ini, manusia hanya akan menjadi objek bencana dan budak teknologi, alih-alih menjadi subjek yang mampu mencegah krisis melalui ilmu pengetahuan dan kebijakan yang etis.
Pendidikan sebagai “Api Prometheus”
Pendidikan seharusnya berfungsi seperti kisah “Api Prometheus” sebuah cahaya pengetahuan yang diberikan untuk memberikan keselamatan bagi jiwa manusia.
Namun, realita pendidikan di Indonesia sering kali berjalan ke arah sebaliknya. Belenggu administratif dan fokus berlebihan pada nilai angka telah membuat masyarakat meninggalkan logika, sains, dan moral.
Rizal menyebutkan, pendidikan kita saat ini kehilangan dua hal krusial: alat berpikir dan rasa keteraturan alam. Tanpa alat berpikir (logika), siswa tidak mampu memproses informasi yang membanjir di era digital.
Tanpa rasa keteraturan alam, manusia bertindak destruktif terhadap bumi meski mereka tahu konsekuensinya secara teoritis. Inilah paradoks terbesar: kita pintar secara kognitif, namun rapuh secara moral dan ekologis.
Education Reset: Guru sebagai Pendongeng, Bukan Operator
Untuk menjaga kemanusiaan di tengah dunia yang paradoks, perlu adanya Education Reset. Pendidikan tidak boleh lagi hanya menjadi tempat transfer pengetahuan searah.
Guru di era ini dituntut untuk tidak sekadar berkutat pada metodologi atau kurikulum baru, melainkan kembali menjadi “manusia”.
Dalam hal ini guru di dorang menjadi pendongeng yang mampu mengajak siswa berrefleksi dan berdialog.
Pendidikan harus mengadopsi semangat liberal arts sebagai praktik hidup di mana kemerdekaan berpikir diberikan seluas-luasnya, namun tetap dibersamai dengan tuntunan moral yang jelas.
Kecerdasan yang dibutuhkan saat ini bukanlah kepintaran administratif, melainkan kemampuan untuk mengaitkan antar-cabang ilmu demi memecahkan masalah kemanusiaan yang kompleks.
Di era di mana “Akal Imitasi” (AI) mulai mengambil alih peran pengaturan dunia, pendidikan adalah benteng terakhir yang menjaga “Akal Budi”. Jika pendidikan gagal melakukan reset, kita hanya akan melahirkan generasi yang mahir mengoperasikan teknologi namun buta terhadap etika.
Keputusan manusia yang semakin destruktif terhadap bumi meski teknologi sudah mampu memprediksi dampaknya adalah bukti bahwa ada yang salah dengan cara kita mendidik.
Pendidikan harus menjaga kemampuan manusia untuk merasa bersalah saat merusak alam, merasa empati saat melihat ketidakadilan, dan merasa bertanggung jawab atas masa depan planet ini.
Epilog
Dunia paradoks adalah keniscayaan, namun kehancuran peradaban akibat ketidaksiapan manusia adalah pilihan yang bisa kita hindari.
Apa yang harus dijaga oleh pendidikan? Bukan tumpukan kertas ujian atau deretan gelar, melainkan jiwa kemanusiaan itu sendiri.
Dalam hal ini, kita diajak untuk kembali ke marwah pendidikan: membangun manusia yang utuh. Human Reset dan Education Reset adalah harga mati jika kita ingin pendidikan Indonesia tidak hanya mencetak robot-robot cerdas, tetapi manusia-manusia bijaksana yang mampu menjadi nahkoda di tengah badai paradoks global.
Pendidikan harus kembali menjadi tempat di mana nalar diasah, nurani dibangun, dan harmoni dengan alam dipulihkan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments