Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mencegah Budaya Merokok Bagi Pelajar

Iklan Landscape Smamda
Mencegah Budaya Merokok Bagi Pelajar
Oleh : Bening Satria Prawita Diharja M.Pd Guru PJOK SMP Muhammadiyah 1 Gresik
pwmu.co -

World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia, pada tahun 2008 menginformasikan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah perokok pemula terbesar di dunia. Lebih dari tiga juta anak dan remaja di Indonesia tercatat sebagai perokok aktif. Prevalensi tinggi pada kelompok usia 13–15 tahun.

Setiap tahun, sekitar 19,2 persen perokok aktif berasal dari kalangan pelajar. Angka ini terus meningkat dalam 15 tahun terakhir, sehingga menjadi perhatian serius bagi berbagai pihak. Utamanya bagi orang tua dan para pengambil kebijakan di bidang pendidikan.

Saat ini, perilaku merokok di kalangan pelajar seolah telah menjadi hal yang lumrah di lingkungan sekolah. Padahal, rokok mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Salah satunya adalah nikotin, yang dapat menumpuk di otak dan menurunkan konsentrasi belajar siswa. Akibatnya, prestasi belajar pun ikut mengalami penurunan.

Hasil penelitian Destri (2019) terhadap 169 siswa laki-laki di salah satu SMK di Lampung menunjukkan bahwa 55,6 persennya memiliki kebiasaan merokok.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan aturan tegas untuk menanggulangi masalah ini. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Pasal 151 dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 secara jelas melarang aktivitas merokok di lingkungan fasilitas pendidikan, baik di sekolah maupun perguruan tinggi.

Pelanggaran terhadap ketentuan ini dapat terkenai sanksi pidana serta denda maksimal sebesar Rp 50 juta. Aturan tersebut semestinya dapat menjadi dasar hukum yang kuat untuk melindungi pelajar dari bahaya rokok dan menciptakan lingkungan belajar yang sehat.

Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Kasus dugaan tamparan yang dilakukan oleh Kepala SMA Negeri 1 Cimarga, Lebak, Banten, terhadap seorang siswa kelas XII yang ketahuan merokok di lingkungan sekolah, viral di media sosial. Aksi spontan sang kepala sekolah itu justru membuat orang tua siswa tidak terima hingga berujung pada pelaporan ke pihak berwajib atas dugaan penganiayaan.

Mencermati peristiwa tersebut, penulis—yang juga merupakan guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di SMP Muhammadiyah 1 Gresik—mengaku menghadapi problematika serupa. Maraknya kebiasaan merokok di kalangan remaja, terutama yang masih berstatus pelajar, menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik dalam upaya mencegah perilaku negatif tersebut.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Tujuan utama pembelajaran PJOK di sekolah bukan hanya untuk meningkatkan aktivitas gerak dan menumbuhkan kesenangan siswa terhadap kegiatan fisik, tetapi juga untuk membentuk kesadaran akan pentingnya kesehatan. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menanamkan pemahaman tersebut adalah Spectrum of Teaching Style (STS) yang dikembangkan oleh Muska Mosston dan Sara Ashworth melalui buku Teaching Physical Education.

Pendekatan STS ini membantu guru mengajarkan nilai-nilai kesehatan secara lebih efektif, sehingga siswa tidak hanya aktif secara fisik, tetapi juga memiliki pemahaman dan sikap positif terhadap perilaku hidup sehat.

Pada buku Teaching Physical Education dijelaskan berbagai gaya mengajar PJOK dari A hingga K. Setiap gaya dirancang untuk memperkaya pengetahuan peserta didik tentang pendidikan jasmani, olahraga prestasi, dan kesehatan. Gaya-gaya tersebut dijabarkan sebagai berikut:

  1. Gaya A Komando, siswa belajar menyelesaikan tugas secara akurat dalam periode waktu yang pendek, mengikuti segala petunjuk yang diberikan oleh guru PJOK. Hasil kegiatan harus akurat dan segera, dan merupakan peniruan terhadap contoh yang diberikan sebelumnya.
  2. Gaya B Latihan, memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkeja secara individual dan pribadi, dan memberikan kesempatan bagi guru untuk memberikan umpan balik secara individual.
  3. Gaya C Resiprokal, siswa bekerja berpasangan dan saling mengoreksi, berdasarkan kriteria yang disiapkan oleh guru.
  4. Gaya D Uji Diri, siswa belajar melaksanakan tugas dan menguji sendiri hasil pekerjaannya,
  5. Gaya E Inklusi, gaya ini bertujuan agar siswa mampu memilih sendiri titik awal tugas yang akan dikerjakan dan mampu menguji sendiri hasil yang dicapai.
  6. Gaya F Penemuan Terbimbing, gaya ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep dengan menjawab serangkaian pertanyaan yang diberikan oleh guru.
  7. Gaya G Penemuan Sejenis, siswa diarahkan untuk menemukan jawaban atas sebuah masalah dan belajar mengklarifikasi sebuah isu dan sampai kepada sebuah kesimpulan dengan menggunakan prosedurlogis, alasan-alasan, dan pemikiran yang kritis.
  8. Gaya H Penemuan Divergen, gaya ini mendorong siswa untuk menemukan jawaban yang beragam atas sebuah masalah, semua jawaban yang diberikan tidak ada yang salah.
  9. Gaya I Program yang didesain oleh siswa secara individu, gaya ini bertujuan untuk mendorong siswa mendesain, mengembangkan, dan melakukan serangkaian tugas yang diorganisasikan menjadi program individu dengan konsultasi kepada guru.
  10. Gaya J Inisiasi Siswa, siswa mengusulkan pengalaman belajar, mendesain, melakukan, dan mengevaluasinya bersama guru berdasarkan kriteria yang telah disepakati.
  11. Gaya K Mengajar Diri, gaya ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat keputusan maksimal tentang pengalaman belajarnya tanpa keterlibatan langsung gurunya.

Diharapkan melalui penerapan 11 gaya Spectrum Teaching Style, peserta didik dapat memahami pentingnya menjaga kesehatan, terutama mengenai dampak negatif dari perilaku merokok. Dengan pemahaman tersebut, proses pembelajaran PJOK dapat berlangsung secara menyenangkan tanpa perlu peringatan keras atau tindakan kekerasan, sehingga menjadi kebutuhan utama bagi peserta didik.

Sekolah memiliki peran penting dalam mengatasi perilaku merokok di kalangan siswa. Perlu kebijakan yang tegas dan terarah untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, aman, serta bebas dari dampak buruk rokok. Lingkungan belajar yang sehat ini akan mendukung peningkatan prestasi akademik maupun non akademik peserta didik.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡