
PWMU.CO – Tilik bayi merupakan tradisi turun temurun dengan beragam barang bawaan, ada yang cukup bawa uang dimasukan dalam amplop, bawa peralatan mandi, pakaian bayi, mainan bayi, tas bayi, gendongan bayi, perlengkapan mencuci, sembako, dan ragam lainnya. Bahkan ada yang dengan gula 2 kg atau lebih.
Prinsipnya adalah nilai silaturahmi yang menjadi hikmah di dalam tilik bayi, keluarga menjadi kenal dan dikenalkan. Hal ini sebagai bentuk ungkapan turut bahagia atas lahirnya jabang bayi.
Bagi warga Sendangagung dan sekitarnya, tradisi tilik bayi tempo dulu dengan membawa 1 atau 2 sisir pisang, tapi kini telah bertransformasi berubah dengan membawa 2 kg atau lebih gula pasir, dan si tuan rumah membalasnya dengan cindera mata, sabun, mie, atau bentuk barang lainnya.
Saat kegiatan tilik ini berlangsung, tiba-tiba ada reuni dan halalbihalal yang tidak direncanakan, hal ini terjadi pada grup Alumni Kompak SMP Muhammadiyah (SMPM) 12 Sendangagung dan MA Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, angkatan tahun 1993 di Gudang Pindang “Dobel Mus” Brondong Lamongan, Ahad (06/04/2025).
Kegiatan tilik yang diikuti 19 peserta ini dalam rangka turut menyambut cucu perdana Muslihah binti Istijab (alumnus SMPM 12 Sendangagung) dari putra pertama Afrils Virgian Perdana yang menikahi Baitul Rohmawati, dan cucu putri ini diberi nama Bianca Mazida Wasyifa, lahir Jumat (28/03/2025).

Rombongan yang diangkut dua mobil, dengan juru kemudi Musil dan Soni Arif ini dipimpin oleh Nur Hidayah, menempuh perjalanan 15 menit dari Desa Sendangagung ke Brondong, berangkat pukul 13.15-13.30 WIB.
Meski reuni dan halalbihalal ini dadakan tanpa rencana, tetapi keseruan dan khidmatnya acara bisa dirasakan oleh peserta yang rata-rata kelahiran 1974, dan telah mencapai umur 50 tahun ini.
Sulton yang hadir sambil momong cucunya nampak gelak tawanya tak henti-henti pertanda bahagia dan senang hatinya bisa ketemu teman-teman seangkatan, meskipun bersama istrinya dia tidak canggung untuk bercengkrama dengan teman sebayanya.
Demikian juga yang lainnya, hampir tidak ada yang menampakkan muka murung, semua nampak sumringah meski rambut yang mulai memutih dan kerutan kulit wajah yang tak mampu lagi memungkiri bahwa mereka telah memasuki usia.
Tuan rumah Muslihah dan Mustain nampak sigap menyiapkan segala sesuatunya, dari mulai suguhan ikan asap, aneka macam sambal, tikar untuk lesahan, salon portabel, dan minuman cincau dengan jurah tulen (rebusan legen dari pohon Siwalan).
Muslihah juga menyambut setiap tamu dan bersalaman sambil ucapkan mohon maaf lahir batin, dan mempersilakan menikmati hidangan jajanan lebaran, sementara Mustain suaminya disibukkan dengan memutar lagu-lagu lawas di salon yang telah disiapkan.
Acara reuni dan halalbihalal yang ada dalam kegiatan tilik bayi ini diakhiri dengan foto bersama, dan take short video untuk ucapan mohon maaf lahir dan batin.(*)
Penulis Gondo Waloyo Editor Zahrah Khairani Karim





0 Tanggapan
Empty Comments