Search
Menu
Mode Gelap

Mendidik Jiwa Tangguh di Alam Terbuka

pwmu.co -
Survival Camp HW SMP Muhammadiyah 4 Boarding School Porong. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Di tengah gempuran digitalisasi dan kenyamanan hidup modern, anak-anak kita tumbuh dalam suasana yang serba instan. Namun, sejarah umat ini membuktikan bahwa peradaban Islam dibangun oleh generasi tangguh yang dididik dalam kesederhanaan, terbiasa menghadapi tantangan, dan memiliki kesadaran spiritual yang tinggi.

Survival Camp yang diselenggarakan oleh Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) SMP Muhammadiyah 4 Boarding School Porong, menjadi satu bentuk ikhtiar membentuk pribadi-pribadi semacam itu.

Kegiatan ini bukan sekadar berkemah. Ia adalah simulasi kehidupan yang merangkum nilai-nilai Qurani, semangat menegakkan sunnah, dan filosofi ketahanan yang berakar dalam tradisi Islam.

Terletak di alam terbuka Bumi Perkemahan Claket, Pacet, Mojokerto, para pelajar dilepas oleh orang tua dan pengasuh pesantren lalu dijemput oleh pasukan TNI, kemudian dibawa menuju bumi perkemahan.

Perjalanan ini secara simbolik menggambarkan proses transisi dari zona nyaman menuju ruang tempaan karakter. Di sanalah mereka dididik untuk hidup mandiri, menjaga ibadah dalam kondisi terbatas, dan membangun ukhuwah yang tulus.

Islam tidak hanya mengajarkan ritual, tapi juga mengajarkan keteguhan dalam menegakkan ibadah dalam situasi apapun. Ketika udara pegunungan menggigit kulit, para pelajar Muhammadiyah belajar untuk tetap menjaga kaifiyat wudhu dengan air terbatas.

Mereka menyikapi dingin sebagai bentuk ujian dalam menjaga kesucian dan ketaatan. Di sinilah pembelajaran Fiqh Ibadah dipraktikkan, nalar berpikir kapan rukhsah bisa diambil dan batasan apa saja yang harus diperhatikan.

Semisal batasan rukun wudhu antara yang wajib dan mustahab, sehingga tetap bisa memilih yang paling ringan tanpa mengurangi esensi wudhu itu sendiri. Bijak menyikapi pilihan kondisi dan memutuskan untuk mengambil rukhsah shalat antara taqdim dan takhir.

Inilah nilai penting yang dihidupkan, bahwa beribadah bukan sekadar rutinitas, tapi bentuk loyalitas kepada Allah, bahkan dalam kondisi berat sekalipun.

Dalam pendidikan Muhammadiyah, semangat ijtihad dan pemahaman kontekstual terhadap fiqih ibadah menjadi dasar penting. Maka praktik wudhu dalam dingin, pengaturan shalat jamak dan qashar, hingga penghayatan dzikir dan ayat-ayat mu’awwidzat menjadi pendidikan praktis yang mendalam.

Dalam Islam, kekuatan bukan hanya fisik, tetapi juga kemampuan bertahan dalam kesederhanaan. Pelajar Muhammadiyah diajak memasak sendiri, makan bersama dalam regu, dan mengatur logistik makanan secara kolektif.

Pelaksanaan ibadah di Survival Camp. (Istimewa/PWMU.CO)

Tidak ada yang dilayani, tidak ada menu pesan. Semua harus mengandalkan kerja sama, kesabaran, dan kreativitas.

Pengalaman ini menghidupkan kembali nilai qana’ah dan tawakkal. Mereka belajar bahwa keberkahan makanan bukan dari jumlah, tetapi dari rasa syukur dan kebersamaan.

Rasulullah SAW sendiri mengajarkan hidup sederhana dan tidak berlebihan. Bahkan ketika menjadi pemimpin negara, beliau tetap memelihara kesahajaan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Selain itu, kemampuan bertahan hidup—survive—dengan memasak, mengelola bahan pangan, hingga mendirikan tenda dan mengenal medan, mengajarkan ketahanan pangan personal yang menjadi bagian penting dari wacana keberlanjutan di masa depan.

Salah satu aktivitas penting dalam camp ini adalah pendakian ke puncak bukit. Ini bukan sekadar olahraga alam, tapi bentuk penghayatan terhadap falsafah perjuangan.

Mendaki mengajarkan bahwa setiap puncak harus diraih dengan susah payah, melalui kerja sama, sabar, dan pantang menyerah.

Dalam surah al-Insyirah, Allah SWT menegaskan bahwa “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. Maka pendakian itu menjadi pelajaran spiritual: bahwa hidup adalah jalan terjal yang jika ditempuh dengan niat yang lurus dan ikhtiar yang sungguh-sungguh, pasti akan menemukan kelapangan.

Di akhir pendakian, para santri diajak merenung, mengamati cakrawala, dan berdiskusi tentang peran generasi muda dalam menghadapi tantangan global. Mereka belajar bahwa umat Islam harus berpikir global, bertindak lokal, dan hidup dengan kesadaran semesta.

Di dalam tenda-tenda yang berdiri tanpa sekat kelas sosial, mereka belajar bahwa semua manusia setara di hadapan Allah. Mereka saling membantu, saling menguatkan, dan saling mengingatkan. Di sinilah nilai ta’awun dan ukhuwah Islamiyah benar-benar hidup.

Kegiatan HW ini menjadi praktik nyata dari pendidikan karakter berbasis al-Quran dan Sunnah dengan pendekatan pendidikan mental Islami ala Muhammadiyah: menekankan akal sehat, keterbukaan, dan kepekaan sosial.

Pelajar diajak tidak hanya menjadi pribadi salih untuk dirinya, tapi juga membawa maslahat bagi lingkungannya. HW meski secara formal adalah Ekstrakurikuler di sekolah, namun ia sejatinya Organisasi Otonom di Muhammadiyah yang justru menjadi ruh bagi pendidikan kader Muhammadiyah.

Di tengah arus zaman yang kian kompleks, kita membutuhkan generasi yang tidak sekadar cerdas secara akademik, tapi juga tangguh secara mental, spiritual, dan sosial. HW Survival Camp memberi ruang untuk melatih semua itu secara nyata.

Ini bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah metode pendidikan alternatif, yang menggabungkan ruh keislaman, semangat kebangsaan, dan kesadaran ekologis—sesuai dengan ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Mari kita terus dukung program-program pendidikan yang menanamkan nilai luhur seperti ini. Karena dari tenda-tenda sederhana itulah, insyaAllah akan lahir para pemimpin masa depan—yang kuat imannya, bersahaja hidupnya, luas wawasannya, dan teguh langkahnya di jalan kebenaran.(*)

Penulis Rozaq Akbar Editor Zahrah Khairani Karim

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments