Masjid Baitut Tholibin di Kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, dipenuhi ribuan jemaah pada Jumat (27/2). Suasana khusyuk terasa sejak khutbah dimulai hingga rangkaian bedah buku yang menghadirkan Ustaz Abdul Somad.
Di tengah momentum itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengingatkan para aparatur sipil negara (ASN) agar tidak sekadar bekerja menjalankan tugas administratif. Menurutnya, pekerjaan harus dimaknai sebagai bagian dari ibadah sekaligus wujud menjaga integritas.
“Bekerjalah dengan penuh tanggung jawab. Jadikan pekerjaan sebagai ibadah, dan jauhi segala bentuk pelanggaran hukum, terutama yang mengarah pada korupsi,” tegasnya.
ASN Jadikan Kantor sebagai Ruang Ibadah
Mu’ti menilai, suasana kerja yang religius akan berpengaruh langsung terhadap sikap dan karakter pegawai. Karena itu, kegiatan keagamaan seperti khutbah dan bedah buku di lingkungan kementerian bukan sekadar seremoni, tetapi bagian dari pembinaan moral.
“Ini bagian dari upaya kita meningkatkan literasi, termasuk literasi sosial keagamaan dengan masjid sebagai sarananya. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara berkala,” ujar Mu’ti.
Ia menegaskan, penguatan suasana religius di lingkungan kerja diharapkan berdampak langsung pada kesalehan pribadi sekaligus integritas seluruh insan pendidikan.
Mu’ti juga berpesan agar aparatur sipil negara (ASN) bekerja dengan penuh tanggung jawab serta menjadikan tugas sebagai bentuk ibadah. Ia mengingatkan pentingnya menjauhkan diri dari perilaku yang bertentangan dengan hukum, termasuk praktik korupsi.
“Bekerjalah dengan baik, penuh tanggung jawab, dan jauhkan diri dari segala bentuk pelanggaran hukum serta tindakan yang mengarah pada korupsi,” tegasnya.
UAS: Pendidikan Fondasi Kemajuan Umat
Dalam khutbahnya, Ustaz Abdul Somad menekankan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama kemajuan bangsa dan martabat umat manusia. Ia mengisahkan Perang Badar pada 17 Ramadan tahun kedua Hijriah sebagai contoh bagaimana Islam mengedepankan pendidikan.
Pada peristiwa tersebut, Nabi Muhammad SAW membebaskan tawanan perang dengan syarat mereka mengajarkan baca tulis kepada anak-anak Muslim. Menurut UAS, kebijakan itu menunjukkan bahwa pendidikan lebih berharga daripada harta.
“Dengan pendidikan, seseorang dapat memperoleh harta. Namun harta tanpa pendidikan yang baik akan habis begitu saja,” ujarnya.
Puasa dan Pendidikan Karakter
UAS juga menjelaskan bahwa pendidikan dalam Islam tidak terbatas pada ilmu agama semata, tetapi mencakup ilmu pengetahuan yang luas. Ia menyebut Ramadan sebagai proses pendidikan terpanjang bagi umat Islam.
Menurutnya, puasa melatih seseorang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengelola emosi dan memperkuat spiritualitas.
“Cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual, itulah ciri orang yang terdidik,” jelasnya.
Peran Guru dalam Sejarah Bangsa
Lebih lanjut, UAS menguraikan bahwa dalam Islam, guru memiliki kedudukan mulia. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga pendidik akhlak dan pembimbing kehidupan.
Ia mengingatkan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia juga tidak lepas dari peran para guru dan tokoh pendidikan. Sejumlah tokoh nasional disebut memiliki latar belakang sebagai pendidik sebelum berjuang di medan perjuangan.
Organisasi masyarakat Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Perti, dan Al-Washliyah juga lahir dari semangat para guru yang menimba ilmu di Makkah dan kembali ke Tanah Air untuk mendirikan pesantren.
“Apa yang sudah diperjuangkan melalui pendidikan, jangan pernah dirusak dengan pembodohan,” pesan UAS menutup khutbahnya.






0 Tanggapan
Empty Comments