Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengajak peserta didik di seluruh Indonesia untuk tumbuh menjadi Anak Indonesia Hebat melalui pertemanan yang sehat dan lingkungan sosial yang positif.
Ajakan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Bootcamp Anak Indonesia Hebat dan Semiloka Pengasuhan Anak Sejak Usia Dini yang digelar di Jakarta, Senin (15/12/2025).
Dalam kesempatan itu, Mendikdasmen menegaskan bahwa bermasyarakat merupakan nilai keenam dari tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) yang terus digaungkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat untuk Generasi Berkarakter
“Generasi hebat dan berkarakter lahir dari kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten. Kemendikdasmen memiliki program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang bertujuan membentuk generasi muda Indonesia berkarakter kuat dan berdaya saing global,” ungkap Abdul Mu’ti dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, pertemanan yang sehat berperan penting dalam membangun rasa aman, kepercayaan diri, serta kemampuan anak untuk berkembang di lingkungan sosial. Menurutnya, komunikasi antarteman sebaya juga dapat menjadi alternatif positif untuk mengurangi dominasi gawai di kehidupan anak-anak saat ini.
Peran Orang Tua dan Guru Tak Tergantikan
Selain peran teman sebaya, Mendikdasmen menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dan guru sebagai pendengar yang baik sekaligus teladan bagi peserta didik.
“Proses pembentukan karakter anak sangat ditentukan oleh siapa mereka berinteraksi, bagaimana potensi dikembangkan, serta aktivitas yang mampu menumbuhkan kreativitas,” jelasnya.
Mendikdasmen Ajak Anak Bermain Sambil Belajar
Suasana Bootcamp Anak Indonesia Hebat semakin hidup ketika Mendikdasmen melakukan interaksi langsung dengan peserta didik. Pandangannya tertuju pada barisan siswa sekolah dasar, lalu ia memanggil seorang anak laki-laki berkemeja rapi ke depan.
Anak tersebut bernama Radit, siswa kelas 4 SDN 05 Lubang Buaya, Jakarta Timur. Dengan percaya diri, Radit bercerita tentang kecintaannya pada pelajaran IPA dan cita-citanya melanjutkan studi di Universitas Airlangga (UNAIR) pada jurusan Informatika dan Teknologi.
Pantun Kolaborasi SD–SMA Bikin Suasana Cair
Keseruan berlanjut ketika Menteri Mu’ti menantang peserta membuat pantun bertema buah-buahan. Seorang siswa SD bernama Denas maju ke mimbar, disambut tepuk tangan meriah.
“Beli buah ke pasar…
Tidak lupa menemui Radit,”
Namun, Denas terdiam sejenak, mencari rima lanjutan. Melihat hal itu, Mendikdasmen spontan mengajak peserta lain untuk berkolaborasi.
Dari barisan belakang, seorang siswa SMA bernama Waldan maju dan melengkapi pantun tersebut dengan jenaka,
“Rajinlah kita belajar, kalau besar dapat duit.”
Pantun kolaborasi lintas jenjang itu sukses mencairkan suasana dan mengundang gelak tawa peserta. Mendikdasmen pun memberikan apresiasi langsung kepada Denas, Radit, dan Waldan atas keberanian serta kreativitas mereka.
Kolaborasi Sederhana, Pesan Pendidikan Mendalam
Apresiasi spontan tersebut bukan sekadar hadiah, melainkan simbol penghargaan terhadap keberanian, kreativitas, dan semangat kolaborasi antarpeserta didik. Melalui momen sederhana itu, Mendikdasmen menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat tumbuh dari interaksi yang hangat, menyenangkan, dan penuh makna.
Pesan utama pun tersampaikan: anak-anak Indonesia dapat menjadi hebat ketika tumbuh dalam lingkungan pertemanan yang positif, kolaboratif, dan saling mendukung.





0 Tanggapan
Empty Comments