
Program lainnya meliputi sekolah satu atap, operasi sekolah bersama antara jenjang pendidikan berbeda (misalnya antara prasekolah dan sekolah dasar), serta program kesetaraan (Paket A, B, dan C) bagi pelajar di luar usia sekolah tradisional.
Indonesia juga secara berkesinambungan memperhatikan perluasan layanan pendidikan bagi anak-anak di luar negeri serta terus mengembangkan pembelajaran jarak jauh dan membuka program sekolah di dalam negeri untuk memastikan lokasi geografis tidak menjadi hambatan dalam mengakses pendidikan,” tegas Mu’ti.
Indonesia memandang Rencana Strategis Pasca-2025 ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) sebagai kerangka kerja penting untuk memajukan pendidikan, perlindungan sosial, dan inklusi secara lebih terintegrasi dan berwawasan ke depan di seluruh wilayah ASEAN.
Semua upaya ini mendukung Visi Komunitas ASEAN 2045, yang membayangkan komunitas yang damai, inklusif, berkelanjutan, dan tangguh, yang memberdayakan seluruh warga negara, terutama kaum muda. Memastikan tidak ada anak yang tertinggal adalah kewajiban kebijakan sekaligus kewajiban moral.
Ia menambahkan, mobilisasi sumber daya, pemanfaatan teknologi, dan kemitraan lintas batas yang kuat menjadi solusi dalam membangun sistem pendidikan yang tangguh dan siap di masa depan.
Indonesia tetap berkomitmen penuh dan berharap dapat bekerja sama dengan semua negara ASEAN untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal.
Partisipasi Semesta Atasi Tantangan OOSCY di ASEAN
Sejalan dengan partisipasi semesta yang digaungkan Mendikdasmen dalam mewujudkan visi Pendidikan Bermutu untuk Semua, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa kolaborasi regional sangat penting, terutama untuk mengatasi OOSCY di daerah perbatasan yang rentan.
“Indonesia telah mengambil langkah konkret untuk mengatasi OOSCY sebagai bagian penting dalam mewujudkan pendidikan inklusif dan bermutu untuk semua,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Mendikdasmen menyerukan kolaborasi berbagai pihak untuk mengatasi tantangan kompleksitas OOSCY di wilayah ASEAN. Partisipasi semua pemangku kepentingan dalam mencermati situasi di daerahnya serta kepedulian untuk turut mencari solusi yang cermat dan sesuai dengan konteks lokal, dinilai Mendikdasmen harus dilakukan.
“Mengatasi tantangan ini menuntut upaya terkoordinasi lintas sektoral. Kita perlu memperkuat dan meningkatkan kemitraan kita dengan mitra ASEAN, yang kolaborasi dan keahlian bersama meningkatkan kapasitas regional dan tekad kolektif kita dalam memajukan pendidikan bagi semua, termasuk untuk mengatasi OOSCY,” jelas Mu’ti.
Sebelum menutup pidatonya, Pemerintah Indonesia mendorong semua negara anggota ASEAN untuk mengintensifkan upaya kolektif dalam mengidentifikasi strategi yang efektif dan memajukan program kolaboratif yang konkret.
Mendikdasmen menyerukan perjuangan pendidikan yang inklusif, mudah diakses, dan berkualitas tinggi bagi setiap pelajar di wilayah ASEAN.
“Saya dengan hangat menyerukan kepada sesama menteri untuk mengambil tindakan berani dan bersatu untuk mengatasi OOSCY. Bersama-sama, mari kita memperkuat sistem data, memperluas jalur pembelajaran yang fleksibel, dan berinvestasi dalam pengembangan guru dan kurikulum inovatif.”
Penulis Humas Kemendikdasmen Editor Zahra Putri Pratiwig






0 Tanggapan
Empty Comments