Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, meresmikan Revitalisasi Satuan Pendidikan SLBN Taruna Mandiri, Sabtu (20/12/2025) di Kuningan, Jawa Barat. Berbagai perubahan semakin dirasakan oleh warga sekolah pasca-revitalisasi, salah satunya pembelajaran vokasional yang menguat.
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa saat ini jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia semakin bertambah. Namun, di sisi lain berbagai kendala masih dihadapi oleh anak-anak berkebutuhan khusus, mulai dari persoalan finansial, stigma sosial, kesiapan institusi, hingga kendala kultural yang menempatkan ABK pada kondisi yang kurang menguntungkan.
Oleh karena itu, Kemendikdasmen berkomitmen menghadirkan layanan pendidikan khusus yang lebih baik bagi ABK, baik melalui pendidikan inklusi maupun melalui layanan sekolah luar biasa (SLB). Salah satunya adalah melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan, khususnya di SLB.
“Revitalisasi ini menjadi bagian dari komitmen kami memberikan layanan yang lebih baik. Apa pun kondisi fisik dan keadaan intelektual, tidak boleh menjadi alasan mereka tidak mendapat hak pendidikan bermutu,” ujar Mendikdasmen.
Mendikdasmen juga mendorong masyarakat untuk terbuka dan menghapus stigma negatif para ABK. Menurutnya, ABK memiliki potensi menjadi anak hebat jika potensi mereka dapat ditumbuhkan dan di kembangkan, salah satunya melalui jalur pendidikan layanan khusus seperti SLB.
Kepala SLBN Taruna Mandiri, Kokoy Kurnaeti, menyampaikan bahwa program revitalisasi telah membawa perubahan besar dalam penguatan pembelajaran vokasional di SLBN Taruna Mandiri.
“Sebelumnya bengkel-bengkel sekolah yang jadi ruang keterampilan siswa kan sudah pada rusak. Sekarang lebih nyaman, lebih representatif untuk mendukung dan mengembangkan keterampilan dan kompetensi murid,” kata Kokoy.
Sejak dibangun pada 2008 lalu, SLBN Taruna Mandiri memfokuskan diri pada pembelajaran vokasional bagi para muridnya. Ada 13 keterampilan yang diajarkan di sekolah tersebut, mulai dari keterampilan membatik, tata boga, kecantikan, hingga hospitality.
Menurut Kokoy, beberapa ruang yang direvitalisasi merupakan ruang keterampilan yang dirancang tidak hanya lebih nyaman, tetapi juga selaras dengan industri. Misalnya adalah ruang keterampilan kecantikan spa yang direhab dan dilengkapi dengan peralatan spa berkelas industri.
Selain ruang keterampilan, revitalisasi juga dilakukan dengan merehab ruang serbaguna yang dirancang kedap suara. Selain menyesuaikan standar industri untuk ruang ballroom, ruang serbaguna yang kedap suara juga membantu anak-anak, khususnya tunanetra lebih fokus karena ruangan tidak bising.
“Kami berharap revitalisasi ini dapat menjadikan SLB tersebut sebagai contoh bagi SLB lainnya dalam menyiapkan peserta didik yang memiliki keterampilan kerja, didukung oleh ruang-ruang keterampilan yang semakin memadai dan selaras dengan kebutuhan industri,” harapnya.
Sementara itu, salah satu murid kelas 10 SLBN Taruna Mandiri, Arvan Rritzi Ronggoaji, mengaku lebih termotivasi untuk mengembangkan keterampilan membatiknya dengan ruangan keterampilan yang kini kian nyaman.
“Saya senang membatik dan sekarang ruangan lebih nyaman, tidak gerah lagi saat membatik,” kata Arvan.
Sebagai informasi, pada tahun 2025, pemerintah telah melakukan revitalisasi terhadap 382 SLB di seluruh Indonesia dengan total anggaran mencapai Rp526 miliar. Tiga di antaranya merupakan pembangunan unit sekolah baru.
Sementara itu, di wilayah Jawa Barat, program Revitalisasi Satuan Pendidikan menyasar 60 SLB yang terdiri 32 SLB negeri dan 28 SLB swasta. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments