Search
Menu
Mode Gelap

Menegaskan Akar Epistemologi Muhammadiyah

Menegaskan Akar Epistemologi Muhammadiyah
Oleh : Suryawan Ekananto Alumni IMM Malang era 80'an
pwmu.co -

Tulisan Qosdus Sabil, “Refleksi Milad Muhammadiyah ke-113: Ijtihad Muktamar Berkemajuan” (pwmu.co, 13/11/2025), telah memantik diskusi menarik di kalangan intelektual muda Muhammadiyah.

Qosdus mengajukan pertanyaan kritis yang cukup tajam mengenai efisiensi pelaksanaan Muktamar —mulai dari pemborosan energi dan dana, hingga peluang untuk mengubahnya menjadi Muktamar daring yang lebih hemat dan ramah lingkungan.

Gagasan tersebut sangat baik, bahkan layak mendapatkan apresiasi sebagai semangat pembaharuan.

Namun, dibalik pendekatan yang tampak teknis (tehnokratis) itu, muncul pertanyaan mendasar yang perlu dijawab: apa landasan epistemologis atau cara pandang utama yang mendasari ide ini?

Di Muhammadiyah, ijtihad bukan sekadar persoalan inovasi teknis, tetapi juga berakar dari cara kita memahami sumber ilmu dan kebenaran.

Inilah pentingnya membicarakan kembali epistemologi Muhammadiyah.

Tujuannya agar setiap gagasan tajdid (pembaharuan) memiliki landasan yang jelas —bukan sekadar riak pemikiran sesaat, melainkan gelombang ilmu yang berpijak kuat pada wahyu.

Epistemologi wahyu: jalan tengah antara rasionalisme dan empirisme

Bagi Muhammadiyah, cara mendapatkan ilmu adalah kunci pencerahan umat, karena epistemologi menentukan arah gerak amal.

Banyak orang berbuat baik, tetapi tanpa dasar wahyu, tindakan mereka ibarat berjalan di ruang hampa: tampak bermoral, tetapi kehilangan orientasi ilahiah (ketuhanan).

Sejarah filsafat seringkali menunjukkan dua arus besar yang berisiko menyesatkan. Pertama, rasionalisme murni, yang menjadikan logika deduktif sebagai sumber kebenaran tunggal, menghasilkan narasi yang indah namun seringkali kosong dari realitas.

Kedua, empirisme murni, yang menuhankan pengalaman inderawi dan menolak hal-hal yang tak bisa diukur.

Kedua arus tersebut sama-sama mengabaikan peran wahyu.

Dalam persoalan ini, Muhammadiyah memilih jalan tengah: menjadikan wahyu sebagai sumber ilmu utama, akal sebagai alat memahami, dan pengalaman empiris sebagai sarana pembuktian.

Inilah sistem epistemologi khas Muhammadiyah—harmonis, praktis, dan berorientasi pada amal saleh.

“Iqra’” sebagai revolusi epistemologis

Kiai Haji Ahmad Dahlan memulai tajdid dengan seruan yang sederhana namun sangat revolusioner: Iqra’ (Bacalah).

Membaca bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga tindakan menyingkap tanda-tanda kebesaran Tuhan.

Maka, pendidikan Muhammadiyah secara substansial merupakan turunan langsung dari perintah wahyu pertama tersebut.

Iqra’ dalam makna tauhid (mengesakan Tuhan) melahirkan manusia merdeka. Manusia yang akalnya berpikir, jiwanya beriman, dan tindakannya memberikan manfaat bagi sesama.

Tauhid menjadi dasar seluruh gerak ilmu dan amal. Ia membebaskan manusia dari belenggu selain Tuhan—baik belenggu tradisi, kekuasaan, maupun nalar murni yang berlebihan.

Karena itu, epistemologi Muhammadiyah tidak berhenti pada teori kebenaran, tetapi berujung pada tindakan pembebasan manusia.

Epistemologi tindakan: dari individu ke institusi

Salah satu kelemahan dalam sejarah Islam klasik adalah ilmu yang bersifat individual.

Para ulama besar memang melahirkan karya monumental, tetapi seringkali belum berhasil membangun sistem sosial pengetahuan yang terstruktur.

Muhammadiyah melangkah lebih jauh: menjadikan ilmu sebagai kesadaran kolektif yang diinstitusionalisasikan.

Kini, lebih dari 170 perguruan tinggi Muhammadiyah berdiri sebagai poros ilmu dan tajdid.

Dari sanalah epistemologi tindakan bekerja setiap hari: meneliti, mengajar, mengabdi, dan menyinari masyarakat.

Jika setiap perguruan tinggi menghasilkan satu jurnal ilmiah per bulan, maka setiap tahun dunia menerima dua ribu karya yang berakar dari tauhid dan berbuah kemanusiaan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Inilah revolusi epistemologi tindakan Muhammadiyah.

Ilmu tidak berhenti di ruang kuliah atau mimbar seminar, tetapi menjelma menjadi rumah sakit, sekolah, dan program pemberdayaan nyata.

Epistemologi Muhammadiyah adalah ilmu yang menjadi gerakan, bukan sekadar wacana.

Menegur dengan cinta: Nurcholish Madjid dan Qosdus Sabil

Saya mengagumi Nurcholish Madjid sejak lama. Ia berhasil membangun jembatan kokoh antara iman dan modernitas.

Namun, saya juga melihat adanya benang merah antara pandangan Nurcholish dengan sebagian intelektual muda Muhammadiyah —yang satu diantaranya adalah Qosdus Sabil— yang tampaknya belum membaca secara utuh epistemologi tajdid (pembaharuan) Muhammadiyah.

Nurcholish pernah menilai Muhammadiyah hanya sebatas “infrastruktur” (organisasi fisik), padahal sejatinya Muhammadiyah adalah arus epistemologi tindakan yang berwajah wahyu.

Qosdus, di sisi lain, mengajukan ijtihad (pemikiran) tentang efisiensi Muktamar, namun seolah melewatkan fondasi epistemologis bahwa tajdid Muhammadiyah tidak bermula dari rasionalitas pragmatis, melainkan dari kesadaran tauhidi (keesaan Tuhan).

Artinya, setiap perubahan harus berakar pada nilai wahyu dan berbuah pada amal saleh.

Karena itu, pembaruan sejati bukan sekadar memindahkan Muktamar ke ruang digital.

Lebih dari itu, pembaruan adalah penegasan bahwa setiap inovasi adalah ibadah yang dipandu oleh wahyu, bukan sekadar kalkulasi efisiensi teknis semata.

Ismail Raji al-Faruqi dan cita-cita hidup di Muhammadiyah

Ismail Raji al-Faruqi menulis tentang tauhid sebagai asas pembebasan epistemologi pada tahun 1960–70-an.

Menariknya, ide fundamental tersebut sejatinya telah hidup lebih dulu di Muhammadiyah.

Ketika al-Faruqi menyerukan Islamisasi ilmu secara teoritis, Ahmad Dahlan justru telah mempraktikkan Islamisasi tindakan sejak awal berdirinya organisasi.

Apa yang bagi al-Faruqi masih menjadi cita-cita teoritis, bagi Muhammadiyah sudah menjelma menjadi praksis (praktik) sosial yang nyata.

Muhammadiyah memerdekakan akal dari belenggu logika murni dan menuntun ilmu kembali ke akar wahyu.

Di sinilah tajdid menemukan bentuk sejatinya: wahyu yang menumbuhkan ilmu, ilmu yang melahirkan amal, dan amal yang menerangi dunia.

Bukan sekedar simbol

Muktamar, universitas, rumah sakit, dan sekolah Muhammadiyah bukan sekadar simbol organisasi.

Semua itu adalah manifestasi nyata dari epistemologi wahyu yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak berhenti pada nalar dan wacana, tetapi bergerak menjadi tindakan nyata (amal).

Proses ini melahirkan manusia yang berilmu, beriman, dan bertindak nyata di masyarakat.

Maka, tajdid sejati bukanlah pesta seremonial, melainkan keberanian epistemologis untuk menegaskan bahwa wahyu adalah pusat dari seluruh pengetahuan manusia.

Inilah epistemologi Muhammadiyah —jalan tengah yang harmonis antara akal dan iman, antara ilmu dan amal, antara manusia dan Tuhannya.

Selama jalan ini dijaga, Muhammadiyah akan terus menjadi gerakan ilmu yang mencerahkan dunia.***

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments