Dalam upaya memperkuat pemahaman keislaman dan semangat ber-Muhammadiyah di kalangan guru serta karyawan, SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) menggelar kajian pagi bertema “Relevansi Kerja dan Ibadah di Era Digital dalam Memperkuat Militansi Ber-Muhammadiyah”.
Kegiatan yang dilaksanakan di Ruang Demokrasi Smamita pada Senin (3/11/2025) ini menjadi wadah refleksi sekaligus penguatan nilai-nilai kerja ikhlas, profesional, dan berkemajuan di tengah tantangan era digital. Seluruh civitas akademika, mulai dari jajaran pimpinan sekolah, guru, hingga karyawan, turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Kajian pagi menghadirkan Ustadz Dr. H. Badarman, M.A., yang juga menjabat sebagai Koordinator Majelis Tabligh Pemberdayaan Ranting dan Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sepanjang. Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan pentingnya keseimbangan antara kinerja profesional dan spiritualitas ibadah.
“Era digital tidak boleh menjauhkan kita dari nilai-nilai ibadah dan semangat dakwah Muhammadiyah. Justru teknologi harus kita jadikan sarana untuk memperluas kebermanfaatan,” ujarnya.
Ustadz Badarman menjelaskan bahwa bekerja dalam Islam bukan sekadar aktivitas duniawi, melainkan bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar serta memberi manfaat bagi sesama. Dalam perspektif Muhammadiyah, semangat kerja keras, tanggung jawab, dan inovasi digital harus senantiasa disertai etos dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
Beliau juga menyampaikan lima poin penting sebagai refleksi diri:
Keberhasilan dimulai dari kebiasaan. Setiap orang sukses tidak lahir dari keberuntungan semata, melainkan dari kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten. Kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari akan membentuk arah hidup kita.
Kebiasaan dimulai dari pikiran dan perasaan. Apa yang sering kita pikirkan dan rasakan akan menjadi dorongan untuk bertindak. Pikiran positif dan semangat akan melahirkan tindakan yang sejalan.
Pikiran dan perasaan berawal dari kata-kata. Ucapan memiliki kekuatan besar, baik yang ditujukan pada diri sendiri maupun orang lain. Kata-kata positif menumbuhkan semangat, sedangkan kata-kata negatif melemahkan diri.
Kata-kata berasal dari hati. Ucapan mencerminkan isi hati. Jika hati bersih dan penuh keikhlasan, maka kata-kata yang keluar pun menyejukkan dan membangun.
Hati dimulai dari niat. Niat adalah akar dari segala perbuatan. Jika niat baik, maka seluruh proses yang mengikuti akan bernilai kebaikan, bahkan jika hasilnya belum sempurna. Niat yang lurus akan menuntun hati, pikiran, perasaan, dan kebiasaan menuju keberhasilan.
“Maka jagalah niatmu, karena dari situlah segalanya bermula. Niat membentuk hati, hati melahirkan kata, kata memengaruhi pikiran dan perasaan, dari sanalah kebiasaan terbentuk, dan kebiasaanlah yang menuntunmu pada keberhasilan,” pesannya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh warga Smamita semakin memahami bahwa kerja profesional dan ibadah tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus berjalan selaras sebagai bentuk komitmen meneguhkan militansi ber-Muhammadiyah di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments