Darul Arqom Organisasi Otonom Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Timur resmi dibuka dengan materi yang penuh makna: “Meneguhkan Tauhid melalui Dakwah Kultural dan Dakwah Digital Muhammadiyah” (28/8/2025).
Materi sesi pertama ini disampaikan oleh seorang akademisi sekaligus penggerak Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PWM Jawa Timur, Dr Moh. Ahyan Yusuf Sya’bani MPdI.
Dalam forum yang berlangsung hangat di Argo Mulia, Prigen, Pasuruan, peserta diajak untuk meneguhkan kembali pemahaman tentang tauhid sebagai fondasi utama kehidupan seorang muslim, sekaligus menimbang bagaimana nilai tauhid itu bisa disampaikan melalui strategi dakwah yang adaptif: kultural dan digital.
Materi yang Membuka Kesadaran Baru
Sesi ini berjudul “Meneguhkan Tauhid melalui Dakwah Kultural dan Dakwah Digital Muhammadiyah”, sebuah topik yang lahir dari keprihatinan sekaligus harapan besar: bahwa dakwah Muhammadiyah harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan substansi iman.
Tauhid, menurut Ahyan, bukan sekadar konsep teologis yang mengajarkan keesaan Allah. Lebih dari itu, tauhid adalah prinsip hidup yang mengikat seluruh aspek manusia–mulai dari ibadah pribadi, relasi sosial, hingga cara seseorang bermedia di ruang digital.
“Tauhid bukan hanya di masjid, bukan hanya di majelis taklim, tetapi juga harus hadir di layar gawai kita, di konten yang kita bagikan, dan di dunia digital yang kita huni setiap hari,” tegas Ahyan di hadapan para peserta.
Sosok Pemateri dan Peserta
Dr Moh. Ahyan Yusuf Sya’bani MPdI merupakan salah satu kader intelektual Muhammadiyah Jawa Timur yang selama ini aktif di bidang pendidikan kader. Beliau menekankan bahwa dakwah kultural dan digital harus menjadi arus utama bagi gerakan dakwah Muhammadiyah ke depan.
Peserta yang hadir adalah kader terpilih dari Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) dan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) tingkat Jawa Timur. Mereka berasal dari berbagai kota dan kabupaten, membawa semangat belajar sekaligus tekad untuk melanjutkan estafet perjuangan persyarikatan.
“Forum ini memberi kesempatan luar biasa bagi kami untuk tidak hanya belajar teori tauhid, tetapi juga cara mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata, terutama di media digital,” kata M Syahru Ramdani Al Mubarok, salah satu peserta dari IMM Gresik
Momentum yang Tepat di Era Disrupsi
Materi ini disampaikan pada 28 Agustus 2025, hari pertama sesi luring Darul Arqom di Pasuruan. Pemilihan tema tauhid di awal kegiatan bukan kebetulan.
Panitia ingin menegaskan bahwa semua bekal kaderisasi Muhammadiyah harus berangkat dari pondasi tauhid yang kuat.
Di tengah era disrupsi digital, ketika informasi berhamburan tanpa kendali, tauhid menjadi filter penting. Ia menjaga agar kader Muhammadiyah tidak terjebak dalam arus hoaks, ujaran kebencian, atau konten yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Suasana Sejuk Prigen, Pasuruan
Kegiatan berlangsung di Argo Mulia, Prigen, Pasuruan, sebuah lokasi yang dipilih karena nuansanya yang sejuk, tenang, dan kondusif untuk refleksi spiritual.
Suasana alam yang damai membuat materi tentang tauhid terasa lebih meresap. Para peserta tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga merenungkan makna tauhid di sela-sela udara segar pegunungan.
“Lingkungan ini benar-benar mendukung. Rasanya setiap kata yang disampaikan ustadz Ahyan seperti menembus hati kami. Seolah alam pun ikut mengingatkan tentang kebesaran Allah,” ungkap Siti Rohmah, kader IPM asal Malang.
Pentingnya Dakwah Kultural dan Digital
Mengapa tema ini penting? Sebab dakwah Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada mimbar-mimbar konvensional. Dunia sedang berubah. Generasi baru– yang disebut digital native–lebih banyak menghabiskan waktunya di dunia maya.
Dakwah kultural menjadi jembatan agar pesan tauhid bisa diterima tanpa menabrak budaya setempat. Sementara dakwah digital adalah keharusan untuk menyapa umat di ruang-ruang virtual.
Ahyan menjelaskan, Islam bisa berkembang besar di Nusantara karena adanya komunitas yang dirawat secara konsisten oleh para ulama melalui pendekatan kultural. Kini, perawatan itu harus diperluas ke komunitas digital.
“Kalau dakwah kita berhenti di masjid saja, kita akan tertinggal. Padahal, setiap hari ada jutaan interaksi di media sosial yang membentuk cara pandang masyarakat. Di situlah kita harus hadir dengan membawa nilai tauhid,” tegasnya.
Langkah Praktis Dakwah Digital
Dalam paparannya, Ahyan menawarkan langkah praktis bagi kader Muhammadiyah untuk berdakwah di era digital. Di antaranya:
- Menguasai teknologi internet sebagai media transformasi pemikiran.
- Menciptakan konten kreatif dan interaktif yang mudah diakses masyarakat luas.
- Menggunakan pendekatan persuasif alih-alih konfrontatif dalam menyampaikan pesan Islam.
- Membangun komunitas digital yang solid, seperti grup kajian online, kanal dakwah di YouTube, hingga dakwah berbasis podcast.
- Mengintegrasikan budaya lokal dalam konten dakwah digital agar pesan lebih membumi.
Menurutnya, keunggulan dakwah digital terletak pada kemudahan akses, keragaman konten, dan sifat interaktif. Hal ini menjadikan dakwah digital lebih relevan bagi generasi muda yang haus informasi cepat dan visual.
Suasana Forum: Antara Refleksi dan Inspirasi
Sesi pertama ini berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga berdiskusi, bertanya, bahkan berbagi pengalaman tentang bagaimana mereka berdakwah di sekolah, kampus, maupun media sosial. Beberapa peserta mengaku mendapat pencerahan.
“Selama ini saya hanya aktif di media sosial untuk hal-hal ringan. Setelah sesi ini, saya merasa punya tanggung jawab untuk menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah yang bermanfaat,” ujar Siska Fadilatul Laili kader IPM dari Trenggalek.
Di akhir sesi, Ahyan mengajak peserta merenungkan kembali ayat al-Quran:
“Barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang teguh pada tali yang kokoh yang tidak akan putus” (QS. Al-Baqarah: 256).
Ayat ini ditegaskan sebagai pondasi tauhid sekaligus spirit untuk terus berdakwah, baik di ruang nyata maupun ruang digital.
Tauhid Sebagai Bekal Perjalanan
Materi pertama ini menegaskan bahwa segala perjalanan kaderisasi Muhammadiyah harus bertolak dari tauhid. Tanpa tauhid, dakwah bisa kehilangan ruhnya.
Tanpa dakwah kultural, pesan Islam bisa kering dan tidak membumi. Tanpa dakwah digital, Islam bisa kehilangan relevansi di mata generasi muda.
Darul Arqom IMM dan IPM Jawa Timur memulai langkahnya dengan mengingatkan: tauhid adalah pusat orbit kehidupan seorang kader. Dan di era digital ini, tauhid harus menemukan jalannya di layar-layar gawai, di postingan media sosial, hingga di komunitas virtual.
“Kalau tauhid teguh, insyaAllah kader Muhammadiyah akan kuat menghadapi tantangan apa pun. Baik di dunia nyata maupun dunia maya,” pungkas Ahyan, menutup sesi penuh makna itu.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments