Kita hidup di era di mana hal pertama yang menyapa kesadaran kita di pagi hari bukan lagi sinar matahari atau sapaan keluarga, melainkan guliran tanpa henti di layar ponsel. TikTok, dengan For Your Page (FYP) yang legendaris, telah bertransformasi dari sekadar platform hiburan menjadi “perancang emosional” yang bekerja di balik layar.
Tanpa kita sadari, algoritma ini memegang kendali penuh dalam mendikte warna suasana hati kita, menciptakan sebuah realitas di mana stabilitas mental kita sangat bergantung pada apa yang disajikan oleh FYP dalam hitungan detik.
Mekanisme FYP bekerja layaknya mystery box yang terus memberikan kejutan dopamin secara acak. Kita dipaksa melakukan transisi emosi yang sangat tidak alamiah, dalam satu menit saja kita bisa tertawa terbahak-bahak melihat komedi, namun detik berikutnya terlempar ke dalam duka mendalam melalui video melankolis. Kecepatan perubahan emosi yang drastis dapat menguras energi kita, menyebabkan kelelahan empati bahkan sebelum hari dimulai.
Dari Validasi Semu ke Penjara Self-Diagnosis
Masalah mulai muncul ketika algoritma FYP menciptakan gema emosional yang menyesatkan. Algoritma tidak memiliki empati maupun moral, ia hanya mengenal pola yang ada saja. Jika kita sedang merasa sedih dan terpaku pada suatu konten galau, maka algoritma akan terus menyuapi kita dengan kesedihan yang sama secara berulang-ulang. Bukan kesembuhan yang kita dapatkan, melainkan validasi semu yang memperparah kondisi psikologis.
Ketika konten TikTok dirasa sesuai dengan apa yang dirasakan, maka akan muncul self-diagnosis, dan algoritma akan mendukungnya dengan bukti-bukti semu seolah-olah seluruh dunia memiliki gejala yang sama, yang pada akhirnya berakhir disepelekan.
Hal ini sejalan dengan kekhawatiran Dr. John Read, seorang profesor psikologi klinis, yang menyatakan bahwa, “Diagnosis kesehatan mental yang dilakukan secara mandiri melalui potongan video pendek dapat mengaburkan batas antara respons emosional normal terhadap stres dengan gangguan klinis yang serius.”
Fenomena ini diperkuat oleh data dari Journal of Medical Internet Research yang menunjukkan bahwa hampir 84% informasi kesehatan mental di TikTok bisa jadi menyesatkan atau tidak memiliki dasar klinis, namun tetap dipercayai karena algoritma menciptakan echo chamber (ruang gema) yang terus memvalidasi kecurigaan pengguna terhadap kondisi mentalnya sendiri.
Erosi Realita: Pelarian Emosional dan Doktrin Standar Hidup
Dampak paparan ini tidak berhenti ketika layar dimatikan. Di dunia nyata, FYP sering kali menjadi bentuk “obat penenang” yang digunakan ketika realita tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ketika scrolling bukan lagi sebagai hiburan semata melainkan digunakan sebagai pelarian dari masalah hidup, hal tersebut pada akhirnya justru menumpuk kecemasan saat kita kembali ke realita kehidupan. Selain itu, standar hidup yang didoktrin FYP, mulai dari fisik hingga pencapaian finansial yang dipamerkan, menciptakan rasa insecurity yang merusak rasa kepercayaan diri dan membuat interaksi sosial hambar serta penuh dengan perbandingan.
Hal ini disebut sebagai Social Comparison Theory yang dikemukakan oleh psikolog Leon Festinger. Di era digital ini, perbandingan tidak lagi terjadi dengan tetangga sebelah, melainkan dengan standar global yang sudah dikurasi secara ekstrem.
Sebuah studi dari University of Pennsylvania menegaskan bahwa membatasi penggunaan media sosial hingga 30 menit sehari dapat secara signifikan mengurangi depresi dan kesepian. Tanpa batasan, kita hanya akan terus mengejar bayang-bayang kesuksesan orang lain yang dipoles oleh algoritma, sementara hidup kita sendiri terbengkalai dalam penundaan emosional yang tak berujung.
Pada akhirnya, kenyamanan instan yang ditawarkan oleh FYP TikTok adalah pedang bermata dua yang perlahan mengikis ketahanan emosional kita. Ketika algoritma mengambil alih kendali atas apa yang kita rasa dan yakini, kita tidak hanya kehilangan waktu, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk memproses realita secara jujur.
Self-diagnosis yang lahir dari validasi semu dan doktrin standar hidup yang mustahil hanyalah gejala dari pelarian emosional yang kita lakukan setiap hari. Jika kita terus membiarkan layar ponsel mendikte definisi kebahagiaan dan penderitaan kita, maka kita akan selamanya terjebak dalam ruang gema digital yang memisahkan kita dari diri sendiri.
Kembali ke dunia nyata, membatasi guliran layar, dan berani menghadapi emosi tanpa filter algoritma adalah satu-satunya cara untuk merebut kembali stabilitas mental yang telah lama terdistorsi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments