
Oleh: Alfain Jalaluddin Ramadlan – Wakil Sekretaris LSBO PDM Lamongan, Ketua PC IMM Lamongan Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman, Ketua Bidang Pustaka dan Literasi Kwarwil Hizbul Wathan Jawa Timur, Pengajar Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, dan KM3 Pimpinan Pusat Muhammadiyah
PWMU.CO – Pendidikan sejati tidak hanya berlangsung di sekolah atau madrasah, tetapi dimulai dari rumah. Keluarga adalah tempat pertama dan utama di mana anak mengenal nilai, etika, dan keimanan.
Dalam konteks inilah, kisah keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam menjadi cerminan bagi setiap orang tua tentang bagaimana mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi saleh dan berkarakter kuat.
Nabi Ibrahim bukan hanya seorang Nabi, tetapi juga sosok ayah yang luar biasa. Ia tidak hanya mendidik dengan perintah, tetapi dengan keteladanan. Beliau adalah simbol dari orang tua yang menjadikan dirinya sebagai contoh utama dalam beribadah, bertauhid, dan bertanggung jawab terhadap amanah anak.
Pelajaran pertama yang dapat diambil dari Nabi Ibrahim AS adalah bahwa untuk menghasilkan anak yang saleh, orang tua terlebih dahulu harus menjadi pribadi yang saleh.
Keluarga bukanlah sekadar tempat tinggal, melainkan ruang pendidikan pertama yang paling menentukan arah kehidupan seorang anak. Keteladanan dalam berkata, bersikap, dan beribadah menjadi modal utama yang tak tergantikan oleh metode pendidikan modern sekalipun.
Sayangnya, di era ini banyak orang tua yang lebih sibuk mengejar pekerjaan dan prestise sosial, namun melupakan peran mereka sebagai pendidik utama bagi anak. Anak-anak tumbuh dalam limpahan fasilitas, tetapi kekurangan perhatian dan bimbingan.
Tak sedikit pula yang menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan kepada lembaga formal, padahal rumah dan keluarga adalah pusat pendidikan akhlak yang sesungguhnya.
Pelajaran kedua dari Nabi Ibrahim AS adalah kesungguhan dalam berdoa. Sebuah doa yang tulus dan konsisten menjadi kekuatan batin yang luar biasa dalam proses pendidikan anak. Allah mengabadikan doa beliau dalam al-Quran:
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
Artinya: “Tuhanku, karuniakanlah untukku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh.” (Qs Ash-Shaffat: 100).
Selain itu dalam surat Ibrahim ayat 40:
رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ
Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan salat, juga dari keturunanku.” (Qs Ibrahim: 40).
Ini adalah bukti bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya terletak pada metode dan strategi, tetapi juga pada kekuatan spiritual, doa yang terus dipanjatkan orang tua untuk kebaikan dan keberkahan anak-anak mereka.
Namun, mari kita jujur, berapa banyak di antara kita yang benar-benar bersungguh-sungguh mendoakan anak kita dalam setiap sujud? Berapa banyak di antara kita yang meneteskan air mata dalam keheningan malam, berharap agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi penerus yang beriman, cerdas, dan berakhlak mulia?.
Pelajaran ketiga, dan mungkin yang paling mendesak saat ini, adalah memperkenalkan anak kepada al-Quran sejak dini. Di tengah gempuran teknologi dan hiburan digital, anak-anak lebih hafal tokoh-tokoh di media sosial daripada ayat-ayat suci al-Quran.
Inilah tantangan baru dalam pendidikan: bagaimana orang tua bisa menanamkan kecintaan terhadap al-Quran dan menjadikannya sebagai pedoman hidup?.
Padahal banyak sekali keutamaan membaca ayat al-Quran, baik keutamaan membaca ayat al-Quran secara umum maupun secara khusus. Membaca al-Quran termasuk ibadah paling utama di antara ibadah-ibadah yang lain, sebagaimana yang diriwayatkan oleh an-Nu‘man ibn Basyir:
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِي قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ
Artinya: “Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baiknya ibadah umatku adalah membaca al-Quran.” (HR. al-Baihaqi).
Selain itu di hadits yang lain:
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا , لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ”
رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ
Artinya: Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tetapi aliif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf.” (HR. Tirmidzi, no. 2910. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Tirmidzi, no. 2910. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih].
Jadi, al-Quran bukan sekadar bacaan, tetapi cahaya yang akan menerangi jalan kehidupan anak-anak kita. Bahkan, Rasulullah menjanjikan bahwa orang tua dari penghafal al-Quran akan mendapatkan mahkota cahaya dan pakaian kemuliaan di akhirat.
Seperti yang dijelaskan dalam hadits Buroidah Al-Aslamiy radhiyallaahu ‘anhu:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ الأَسْلَمِيِّ ، عَنْ أَبِيْهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ أُلْبِسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ نُورٍ ضَوْءُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ، وَيُكْسَى وَالِدَيْهِ حُلَّتَانِ لاَ يَقُومُ بِهِمَا الدُّنْيَا فَيَقُولانِ : بِمَا كُسِيْنَا ؟ فَيُقَالُ : بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ .
Artinya: Dari Abdulloh bin Buraidah Al-Aslamiy, dari bapaknya radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa membaca al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka akan dipakaikan kepadanya sebuah mahkota yang terbuat dari nur (cahaya), sinarnya seperti sinar matahari. Kedua orang tuanya akan dipakaikan sepasang pakaian yang tiada bandingannya di dunia ini. Orang tuanya akan bertanya, “Mengapa kami diberi pakaian ini?” Maka dijawab, “Disebabkan anakmu berpegang dengan al-Quran”.
Maka, sangat disayangkan jika umat Islam justru asing dengan kitab sucinya sendiri. Di sinilah letak urgensinya peran orang tua. Pendidikan bukan hanya tentang prestasi akademik, tetapi juga tentang keteladanan akhlak dan spiritual. Orang tua perlu hadir secara utuh, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan rohani, dalam tumbuh kembang anak.
Luangkan waktu untuk mengenal siapa teman anak kita, apa kebiasaannya, bagaimana shalat dan bacaan Qurannya. Jadikan rumah sebagai madrasah pertama yang penuh dengan cinta, ilmu, dan tuntunan iman.
Sebagai penutup, kisah Nabi Ibrahim AS bukanlah kisah sejarah masa lalu. Ia adalah pedoman hidup yang sangat relevan hari ini, khususnya dalam dunia pendidikan keluarga. Mari kita mulai dari diri kita sendiri: menjadi pribadi yang saleh, mendoakan anak-anak dengan sungguh-sungguh, dan membimbing mereka agar tumbuh sebagai generasi yang cinta ilmu, cinta agama, dan cinta kebaikan.
Maka, Qs at-Tahrim ayat 6 dapat menjadi renungan bagi kita semua:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ٦
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs At-Tahrim: 6). (*)
Editor Ni’matul Faizah





0 Tanggapan
Empty Comments