
PWMU.CO – Rene Descartes, seorang filsuf modern, pernah menyatakan, “Aku berpikir, maka aku ada” atau dalam Bahasa Yunani “Cogito Ergo Sum”. Ungkapan ini menegaskan bahwa eksistensi manusia ditentukan oleh kemampuan daya nalarnya.
Permasalahannya, bagaimana jika seseorang itu tidak mampu berpikir? Dan, bagaimana jika seseorang itu tidak memiliki kesempatan untuk berpikir? Apakah mereka sama dengan hewan?
Sejak dahulu, yang menjadi pembeda bagi manusia dan hewan adalah akal dan hati nurani. Tuhan telah menciptakan manusia sebagai makhluk sempurna. Sayangnya sebagian orang jarang memanfaatkan kesempatan untuk berpikir secara mendalam dan positif.
Hidup dengan berfilsafat
Descartes juga mengatakan, “Hidup tanpa berfilsafat itu sama dengan terus-menerus menutup mata tanpa berusaha membukanya.” Namun, apakah hidup berfilsafat hanya sebatas mempelajari teori para filsuf dari zaman klasik hingga postmodern? Apakah berfilsafat berarti meragukan keberadaan Tuhan? Ternyata tidak. Descartes sendiri sangat mempercayai keberadaan Tuhan.
Hidup berfilsafat berarti berpikir kritis dan tidak menutup mata terhadap realitas yang ada. Misalnya, ketika kita melihat ketidakadilan gender dalam sebuah organisasi, tetapi justru memilih diam karena takut terganggu kenyamanan. Maka sesungguhnya kita sedang memejamkan mata. Dalam perspektif Descartes, kita seharusnya berani membuka mata dan bersikap kritis terhadap lingkungan sekitar.
Berpikir kritis juga berarti mampu mengenali batasan diri dan keluar diri dari zona nyaman. Konsep ini berhubungan dengan fixed mindset — yaitu pola pikir yang menganggap kemampuan seseorang sebagai sesuatu yang tetap dan tidak dapat diubah. Seseorang dengan pola pikir ini cenderung takut menghadapi kegagalan dan memilih tetap berada dalam kenyamanan tanpa mencoba berkembang. Padahal, keberanian untuk berpikir lebih luas adalah awal dari perubahan besar dalam hidup.
Memulai berfilsafat
Bagaimana cara memulai berpikir filosofis? Descartes menawarkan prinsip “Dubium sapientiae initium” (meragukan adalah sumber kebijaksanaan). Artinya, kita harus berani meragukan dan mempertanyakan segala sesuatu.
Prinsip ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam memilih pemimpin. Kita tidak boleh percaya begitu saja pada janji-janji mereka hanya karena mereka memiliki banyak pengikut atau dukungan partai politik. Sebaliknya, kita bisa mengajukan pertanyaan kritis: “Apakah mereka benar-benar membawa perubahan atau hanya sekadar janji kosong?” Jika mereka tidak menepati janji, kita harus berani meminta pertanggungjawaban. Dengan berpikir kritis, kita mampu membedakan mana yang benar dan mana yang hanya manipulasi.
Sayangnya, masyarakat yang berpikir kritis sering kali dibungkam. Padahal berpikir kritis merupakan langkah pertama menuju kebijaksanaan dan keadilan.
Ilustrasi keranjang apel
Descartes memberikan ilustrasi yang menarik. Membayangkan seseorang memiliki satu keranjang penuh apel. Namun, orang itu khawatir ada beberapa apel yang busuk dan dapat merusak apel lainnya yang baik. Untuk mengatasi hal ini, ia pun mengeluarkan semua apel, memeriksa satu per satu, membuang yang busuk, dan mengembalikan apel yang masih bagus ke dalam keranjang.
Ilustrasi ini menggambarkan cara kita memilah antara pikiran yang benar dan keliru. Keranjang apel melambangkan tempat kita berpikir, sementara apel busuk adalah pikiran yang keliru. Jika kita membiarkan pikiran buruk bercampur dengan pikiran baik, lama-kelamaan pikiran buruk tersebut dapat menular dan merusak cara berpikir kita secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap pemikiran mereka agar tetap objektif dan rasional.
Perenungan dalam perspektif agama
Islam juga sangat menekankan konsep berpikir kritis. Al-Qur’an sering kali mengajukan pertanyaan retoris seperti “Afala tatafakkaruun” (Apakah kamu tidak berpikir?) dan “Afala yatadabbarun” (Apakah mereka tidak merenung?) Ayat-ayat ini sebagai bentuk sindiran yang mengajak manusia untuk selalu berefleksi dan melakukan muhasabah (evaluasi diri).
Semua manusia memang memiliki akal, tetapi tidak semua yang berakal benar-benar berpikir. Banyak orang lebih mengharapkan hasil secara instan tanpa melalui proses berpikir yang mendalam. Padahal, proses berpikir lebih penting daripada sekadar mendapatkan hasil. Dengan berpikir kritis dan reflektif, manusia dapat memahami realitas dengan lebih baik dan menemukan solusi yang lebih tepat.
Filsafat dalam perspektif agama tidak hanya bertujuan untuk mempertanyakan, tetapi juga untuk menemukan kebenaran hakiki. Dalam Islam, berpikir dan merenung bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan iman, melainkan cara untuk memperdalam pemahaman tentang kehidupan dan keberadaan Tuhan.
Menguji kebenaran hidup
Sebagai manusia yang berpikir, kita harus terus menguji kebenaran yang kita percayai. Seperti kata Socrates, “Hidup yang tidak di uji adalah hidup yang tidak ada artinya.” Jika kita tidak pernah mempertanyakan dan menguji keyakinan kita, bagaimana kita bisa memahami apakah keyakinan itu benar?
Maka, langkah pertama dalam berfilsafat adalah berani meragukan, bertanya, dan berpikir kritis. Dengan begitu, kita tidak hanya sekadar “ada,” tetapi benar-benar hidup dengan penuh kesadaran dan makna. Memulai perjalanan berpikir kritis menjadi langkah penting untuk mencapai pemahaman mendalam tentang diri sendiri dan dunia sekitar kita. Terus berpikir dan berefleksi, akan menjadikan kita dapat lebih bijaksana dan bermakna dalam kehidupan. (*)
Editor Notonegoro





0 Tanggapan
Empty Comments