Udara pagi di Bojonegoro terasa segar ketika rombongan siswa kelas 5 SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro berkumpul di halaman sekolah pada Sabtu, (08/11/2025).
Pada hari tersebut, mereka berkumpul untuk mengikuti kegiatan tahunan yang selalu dinanti, yaitu field trip edukatif.
Tahun ini, tujuan mereka adalah Agrowisata Omah Jambu Kemuning di Karanganyar, Jawa Tengah. Sebuah destinasi wisata belajar yang memadukan keindahan alam, kegiatan pertanian, dan pelestarian kuliner tradisional Jawa.
Pengalaman Nyata bagi Siswa
Kegiatan yang terlaksana selama dua hari ini merupakan bagian dari program pembelajaran luar kelas yang terancang untuk memberikan pengalaman nyata bagi siswa. Khususnya dalam mengenal dunia agribisnis, lingkungan alam, serta budaya lokal.
Pukul 07.30 WIB, dua bus besar berangkat meninggalkan halaman sekolah dengan iringan doa bersama yang terpimpin oleh Ustazah Faridaturifqiyah.
Sepanjang perjalanan, suara tawa dan nyanyian menggema di dalam bus. Siswa terlihat antusias. Beberapa guru pendamping, turut menjaga ketertiban dan memastikan setiap siswa merasa nyaman selama perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat setengah jam, tepat pukul 12.00 WIB, rombongan tiba di Agrowisata Omah Jambu Kemuning.
Udara sejuk dan pemandangan hijau menyambut kedatangan mereka. Pengelola tempat wisata menyambut dengan ramah dan mempersilakan peserta untuk beristirahat sejenak sebelum mengikuti kegiatan inti.
Di aula utama, siswa mendapat penjelasan tentang sejarah berdirinya Omah Jambu Kemuning yang awalnya merupakan kebun keluarga. Kini, Omah Jambu itu berkembang menjadi pusat edukasi wisata alam dan kuliner tradisional.
Perwakilan dari Kepala sekolah, dalam sambutannya, berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal. Serta mengajarkan pentingnya kerja sama dan rasa syukur atas karunia alam yang begitu melimpah.
Acara pembukaan selesai, para siswa bersiap untuk melaksanakan sholat dan makan siang. Setelah selesai makan siang, siswa mengikuti sesi utama kegiatan, yaitu belajar membuat camilan tradisional getuk dan timus.
Dua makanan ini dikenal sebagai jajanan penolak dingin khas Jawa yang lezat dan menyehatkan. Kegiatan ini dipandu oleh Bu Tatik, instruktur kuliner tradisional dari Omah Jambu Kemuning yang sudah berpengalaman dalam melestarikan makanan berbahan dasar singkong dan ubi jalar.
Menyimak Proses Pembuatan Getuk
Sementara itu, Bu Sri, pengusaha lokal yang telah puluhan tahun memproduksi getuk rumahan, turut hadir untuk memperkenalkan bahan-bahan utama yang digunakan.
Dengan bahasa yang sederhana dan penuh semangat, Bu Tatik menjelaskan setiap tahap proses pembuatan getuk. Mulai dari menyebutkan bahan-bahan yang dibutuhkan seperti singkong jenis Jarak Towo (getuk), ubi ungu (timus), gula, vanili, garam, dan lain-lain.
Getuk dan Timus di Kemuning ini sudah ada beberapa varian rasa yaitu keju, gula merah, cokelat, dan bligo (nama lain untuk buah kundur atau labu air) yang sudah dibuat manisan.
Sebelum siswa praktik membuat getuk dan timus, Bu Tatik dan tim memberikan pertanyaan terkait penjelasan. Siswa sangat antusias mengangkat tangan untuk menjawabnya. Ada beberapa siswa yang berhasil menjawab dan mendapatkan cinderamata.
Pukul 14.00 WIB, siswa terbagi menjadi beberapa kelompok untuk praktik membuat getuk dan timus. Bahan-bahan sudah disiapkan semua. Singkong (getuk) dan ubi ungu (timus) sudah dihaluskan, siswa tinggal mencetak dan membentuk sesuai keinginan.
Anak-anak tampak bersemangat saat mencetak dan mengisi dengan varian rasa yang mereka inginkan. Suasana riuh dan penuh tawa, apalagi ketika mereka mencetak adonan dan diisi dengan cokelat yang berlebih.
Getuk yang sudah terbentuk dimasukkan ke dalam cairan warna putih, kemudian dilumuri dengan tepung roti. Sedangkan timus setelah terbentuk dan diisi langsung digoreng hingga kecokelatan.
Filosofi dalam Camilan Tradisional
Bu Tatik menjelaskan bahwa dalam setiap camilan tradisional tersimpan filosofi kehidupan: kesabaran, ketelatenan, dan kebersamaan.
Aroma harum timus goreng segera menyebar ke seluruh area, membuat semua peserta tak sabar mencicipinya. Sambil menikmati hasil buatan mereka, siswa belajar bahwa makanan tradisional tidak kalah lezat dibanding camilan modern. Dan bahkan lebih sehat karena menggunakan bahan alami.
“Ternyata enak banget, Bu! Rasanya manis tapi lembut” ujar salah satu siswa sambil tersenyum bangga. Guru pendamping menambahkan bahwa kegiatan ini bukan hanya melatih keterampilan memasak, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap budaya dan kearifan lokal.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa makanan tradisional adalah warisan bangsa yang harus dilestarikan, camilan tradisional yang anak-anak buat bukan sekadar makanan” ujar Ustazah Stevy Fityu.
“Tetapi simbol dari kearifan lokal yang perlu kita jaga di tengah arus modernisasi. Anak-anak harus bangga dengan budaya sendiri” tambahnya.
Setelah puas menikmati hasil karya mereka, kegiatan hari pertama ditutup dengan aktivitas yang tak kalah seru, yaitu tubing di aliran sungai kecil yang melintasi kawasan Omah Jambu Kemuning.
Dengan mengenakan pelampung dan helm pengaman, para siswa meluncur di atas ban besar mengikuti arus sungai yang jernih dan berkelok. Teriakan gembira dan tawa lepas terdengar di sepanjang jalur tubing.
Guru pendamping turut mengawasi dengan cermat demi keamanan dan kenyamanan seluruh peserta. Kegiatan ini menjadi pengalaman baru yang menguji keberanian sekaligus mempererat kebersamaan antar siswa.
Bagi sebagian besar anak, tubing adalah kegiatan yang paling berkesan karena menghadirkan sensasi petualangan di alam terbuka yang jarang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Field trip tahun ini meninggalkan kesan mendalam bagi semua siswa.





0 Tanggapan
Empty Comments