Sakit sering kali dipersepsikan sebagai titik nadir—sebuah kondisi yang merampas daya dan membelenggu kreativitas.
Kata “sakit” kerap berkaitan dengan rasa lemah dan ketidakberdayaan.
Namun, benarkah raga yang rapuh atau jiwa yang gundah harus menjadi palang pintu yang menghentikan arus imajinasi untuk menjadi tulisan?
Jawabannya adalah sebuah penegasan: tidak.
Sejarah literatur dunia dan nasional justru mencatat bahwa banyak karya-karya bermutu yang lahir ketika dalam kondisi sedang sakit.
Penderitaan hadir dalam pelbagai rupa, baik fisik maupun mental.
Gangguan lambung yang melilit atau migrain yang menusuk adalah manifestasi fisik yang nyata.
Di sisi lain, tekanan mental seperti kecemasan (stres) dan depresi menjadi badai yang tak kasatmata.
Namun, jenis rasa sakit apa pun yang menghunjam, ia tidak boleh menjadi alasan untuk mengubur potensi literasi.
Sebaliknya, menulis sering kali menjadi terapi yang memulihkan.
Mari kita menengok sosok Stephen King. Penulis legendaris Amerika Serikat ini pernah dihantam kecelakaan mobil hebat yang nyaris membuatnya lumpuh permanen.
Di tengah rasa sakit yang luar biasa dan proses pemulihan yang melelahkan, ia tidak membiarkan jemarinya kaku.
Ia terus merangkai kata, membuktikan bahwa dedikasi terhadap karya mampu melampaui batas-batas keterbatasan fisik.
Inspirasi serupa hadir juga dari rahim perjuangan tokoh-tokoh Muhammadiyah.
Mereka menunjukkan bahwa ideologi dan dakwah tidak berhenti meski tubuh digerogoti usia atau penyakit.
Buya Hamka, misalnya, adalah seorang ulama, filosof dan sastrawan Indonesia teladan yang luar biasa.
Di balik jeruji besi sebagai tahanan politik dan dalam kondisi kesehatan yang tidak stabil, beliau berhasil merampungkan Tafsir Al-Azhar.
Bagi Hamka, menulis bukan sekadar hobi, melainkan napas perjuangan yang melampaui rasa sakit fisik.
Begitu pula dengan KH Mas Mansoer dan KH Abdur Rozak Fachrudin.
Keduanya adalah teladan mubaligh yang produktif.
Meski raga didera sakit, pena mereka tidak pernah kering untuk mengisi berbagai media.
Semangat ini juga diteruskan oleh Ahmad Syafii Maarif.
Hingga akhir hayatnya, bahkan setelah tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Syafii tetap aktif menorehkan pemikiran-pemikiran jernih di tengah kondisi tubuh yang kian merapuh.
Bagi mereka, menulis adalah cara untuk tetap “ada” bagi umat.
Lantas, bagaimana cara kita menjaga produktivitas menulis saat tubuh tidak sedang bugar?
Pertama, terapkan manajemen waktu yang adaptif.
Anda tidak perlu memaksakan diri menulis berjam-jam dalam satu sesi.
Menulislah dalam durasi singkat namun konsisten, misalnya sepuluh menit saat energi sedang bangkit.
Kedua, hargai hak tubuh untuk beristirahat.
Kita tidak boleh terlalu keras pada diri sendiri, kita perlu mengambil waktu untuk istirahat dan memulihkan diri.
Relaksasi adalah bagian dari proses kreatif itu sendiri; saat tubuh pulih, pikiran pun akan lebih jernih.
Ketiga, jaga asupan nutrisi dan hidrasi. Makanan seimbang dan asupan air yang cukup adalah bahan bakar utama otak.
Tanpa hidrasi yang baik, konsentrasi akan menguap dan sakit kepala akan kian parah.
Keempat, kelola stabilitas emosional. Hindari pemicu stres yang berlebihan.
Menulislah dengan prinsip “mengalir saja”.
Jangan biarkan perfeksionisme atau ketakutan akan kesalahan tata bahasa menghambat ide.
Anda bisa menuliskan mentah-mentah apa yang ada di pikiran tanpa sensor; proses penyuntingan atau perbaikan diksi selalu bisa dilakukan saat kondisi Anda jauh lebih stabil.
Dalam menulis, kita tidak perlu memikirkan kesalahan. Kita dapat menulis ide-ide yang ada di pikiran kita tanpa harus memikirkan kesalahan.
Kita dapat memperbaiki kesalahan nanti, yang penting adalah kita menulis.
Pada akhirnya, sakit bukanlah dinding tembok yang memutus jalan, melainkan sebuah tikungan yang menuntut kita untuk berkendara lebih hati-hati.
Menulis di kala sakit bukan hanya tentang menghasilkan karya, tetapi tentang menjaga kewarasan dan membuktikan bahwa semangat manusia tidak bisa ditundukkan oleh rasa nyeri.
Jangan ragu untuk menggoreskan pena, karena setiap kata yang Anda tulis adalah kemenangan kecil atas rasa sakit tersebut.***





0 Tanggapan
Empty Comments