Hujan yang mengguyur kawasan Ampel sejak siang tak menyurutkan langkah para pegiat sejarah Muhammadiyah. Rombongan Muhammadiyah Historical Walk (MHW) tetap bergerak menelusuri jejak-jejak sejarah di jantung kawasan tua Surabaya itu, Ahad (21/12/2025).
Puluhan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur mengikuti kegiatan ini. Mereka datang dengan semangat yang sama: membaca ulang sejarah, menyusuri tapak pergerakan tokoh-tokoh Islam, sekaligus merawat ingatan kolektif tentang Muhammadiyah di kawasan Ampel.
Perjalanan dimulai dari Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya pada pukul 15.35 WIB. Hujan yang sejak pukul 15.00 WIB turun cukup deras menemani langkah awal rombongan. Payung-payung terbuka, jas hujan dikenakan, namun antusiasme peserta tetap terasa hangat.

Lokasi pertama yang dituju adalah Pasar Kambing atau yang lebih dikenal dengan Sarkam. Di tempat inilah, pada masa lalu, para tokoh Muhammadiyah Surabaya kerap berkumpul, berdiskusi, dan menggerakkan dakwah serta pendidikan.
Di tengah hiruk-pikuk pasar yang masih berdenyut hingga kini, peserta diajak membayangkan suasana masa lalu: obrolan serius para tokoh pergerakan, pertemuan informal yang sarat gagasan, dan denyut awal Muhammadiyah di Surabaya Utara.
Dari Sarkam, rombongan bergerak menyusuri Kampung Ampel Kesumba Pasar, salah satu bagian penting dari kawasan bersejarah Ampel. Gang-gang sempit, toko-toko berderet, aroma rempah dan parfum khas Timur Tengah menyambut langkah para peserta.
“Jalan Ampel Kesumba adalah salah satu jalur yang ramai. Suasana khas Arab dengan berbagai toko dan aktivitas jual beli,” ujar Ferry Is Mirza, jurnalis senior sekaligus pemerhati sejarah yang turut mendampingi rombongan.
Langkah berikutnya mengarah ke kompleks Masjid Ampel. Di bawah rintik hujan yang belum reda, rombongan berhenti sejenak di Makam KH. Mas Mansur dan KH. Hasan Gipo yang berada di lokasi yang berdekatan, yaitu di Kompleks Pemakaman Kanjeng Sunan Ampel, Surabaya. Lokasinya di sebelah Timur Masjid Ampel.

Keberadaan dua makam ini yang menjadi simbol kuatnya ukhuwah Islamiyah antara NU dan Muhammadiyah. Keduanya dimakamkan di area yang sama, di belakang Masjid Ampel, dengan plang penanda yang memudahkan peziarah mengenali makam tokoh penting dari dua organisasi Islam besar ini.
Suasana terasa khidmat. Payung-payung tertutup perlahan. Beberapa peserta memanjatkan doa, sebagian lainnya larut dalam perenungan. Makam ini menjadi simbol penting persinggungan sejarah pergerakan Islam di Surabaya, sekaligus penanda bahwa perbedaan organisasi tak menghapus persaudaraan dan perjuangan bersama.

Perjalanan dilanjutkan dengan blusukan kampung menuju RS PKU Muhammadiyah di Jalan KH Mas Mansur. Gang-gang sempit yang basah oleh hujan dilalui dengan langkah hati-hati. Lampu-lampu rumah warga mulai menyala, menghadirkan suasana sore yang temaram.
Di RS PKU Muhammadiyah, rombongan disambut hangat oleh Direktur RS PKU Muhammadiyah bersama dr. Desatya Rossa Amygha, MM. Pertemuan berlangsung akrab dan penuh kehangatan.
Di ruang pertemuan sederhana, jajaran rumah sakit menceritakan sejarah berdirinya RS PKU Muhammadiyah, termasuk pembelian Hotel Walisongo yang berada tepat di belakang rumah sakit. Hotel itu kini telah berfungsi sebagai rumah sakit.
“Kami merasa senang dan bangga bisa dikunjungi peserta Muhammadiyah Historical Walk,” ujar Desatya.
Dia, lalu menceritakan kisah-kisah perjuangan, keterbatasan di masa awal, hingga pengembangan layanan kesehatan Muhammadiyah disampaikan dengan penuh kebanggaan.

Sekolah Mufidah dan Masjid Taqwa
Rombongan kemudian bergerak ke Sekolah Mufidah dan Masjid Taqwa, dua bangunan bersejarah peninggalan KH Mas Mansur. Meski hujan masih turun, langkah peserta tetap berlanjut.
Di lokasi tersebut, rombongan bertemu Agus Rusidy, Ketua Yayasan Mas Mansur. Dia menjelaskan bahwa kedua bangunan itu telah mengalami perubahan signifikan.
Sekolah dan masjid kini tampil lebih modern, namun tetap berusaha menjaga ruh sejarah dan nilai perjuangan KH Mas Mansur.
Bangunan yang dulu sederhana kini berdiri kokoh, rapi, dan fungsional. Di balik tembok-tembok yang diperbarui, tersimpan kisah dakwah, pendidikan, dan keberanian seorang tokoh besar Muhammadiyah.
“Kami terus berupaya untuk memperbaiki sekolah peniggalan KH Mas Mansur ini. Semoga tahun 2006 akreditasi kita bisa naik,” ujar Agus Rosydi.
Hingga pukul 18.00 WIB, hujan tak juga reda. Namun rombongan tetap melanjutkan perjalanan menuju Langgar Gipo, musala bersejarah yang menjadi salah satu saksi penting perjuangan kemerdekaan Indonesia.

KH. Hasan Gipo dan KH. Mas Mansur masih bersaudara, mereka adalah sepupu, keduanya berasal dari keluarga terpandang di Surabaya dan memiliki hubungan kekeluargaan yang erat meskipun Hasan Gipo terkait NU dan Mas Mansur terkait Muhammadiyah.
Kini, Langgar Gipo telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan destinasi wisata religi Kota Lama Surabaya. Di bawah cahaya lampu yang temaram dan suara hujan yang menetes, suasana terasa syahdu dan penuh makna sejarah.
Sebagai pamungkas dari penelusuran hari ini, langkah kaki membawa kami menyambangi SD Muhammadiyah 19 yang seolah tersembunyi di tengah labirin perkampungan Ampel.
Berdiri tegak sejak setengah abad silam, sekolah ini menjadi bukti otentik komitmen Muhammadiyah dalam merawat pendidikan, bahkan di kawasan yang begitu padat dan bersejarah ini.
Suasana sekolah yang tampak sederhana justru memancarkan kehidupan yang kuat; sebuah denyut nadi pendidikan yang tak pernah berhenti berdetak di jantung kampung tua Ampel.

Hari beranjak senja ketika rombongan akhirnya bergerak kembali menuju titik awal di RPH Surabaya. Langit belum juga menjernih; hujan yang setia menemani sejak awal masih terus mengiringi langkah kaki kami yang mulai lelah namun puas.
Bagi kami para peserta, guyuran hujan sepanjang rute ini bukanlah sekadar gangguan cuaca, melainkan bagian tak terpisahkan dari narasi perjalanan.
Hujan seolah hadir untuk menegaskan sebuah pesan mendalam: bahwa upaya menelusuri lorong waktu dan jejak sejarah memang menuntut ketekunan, kesabaran, dan semangat pantang menyerah untuk terus melangkah, apa pun rintangan yang menghadang di depan mata.
Sebuah catatan kecil dari gawai salah seorang peserta merangkum perjuangan fisik kami hari ini. Kami telah berjalan selama 2 jam 52 menit, melintasi jarak sejauh 5,33 kilometer dengan kecepatan rata-rata 3,7 km/jam. Sebanyak 516,7 kalori telah terbakar, sebuah angka yang dirasa sepadan dengan kekayaan wawasan sejarah yang berhasil kami serap di setiap ayunan langkah di bumi Ampel.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments