Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengapa Ada Remaja Indisipliner di Sekolah?

Iklan Landscape Smamda
Mengapa Ada Remaja Indisipliner di Sekolah?
Oleh : Bening Satria Prawita Diharja MPd Guru PJOK SMP Muhammadiyah 1 Gresik
pwmu.co -

Ketika mendirikan Sekolah Taman Siswa di Yogyakarta pada tahun 1949, Ki Hajar Dewantara  mengatakan bahwa hidup itu wajib diarahkan kepada kemajuan, keberadaban, budaya serta persatuan  dan kesatuan untuk membangun bangsa yang berakhlak mulia.

Penentu terbangunnya akhlak mulia itu adalah bangsa itu sendiri. Apabila bangsa itu selalu  memberi perhatian yang sungguh-sungguh dalam membangun akhlak mulia melalui pendidikan di sekolah, maka akhlak mulia itu dapat terbangun dengan kokoh  dalam masyarakat.

Pendidikan adalah aset penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Negara yang maju pasti memiliki pendidikan yang bermutu. Pendidikan itu menjadi tanggung jawab seluruh warga sekolah, termasuk sekolah dalam naungan Persyarikatan Muhammadiyah.

Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan di sekolah, tergantung sejauh mana proses pembelajaran yang dialami peserta didiknya.

Keberhasilan siswa Muhammadiyah dalam belajar tidak hanya ditunjukkan dari kemampuannya dalam menguasai pelajaran akademik dan non akademik saja.

Lebih dari itu adalah bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan di kelas — mulai pelajaran keterampilan hidup (life skill) hingga pemahaman esensi dari pelajaran tersebut — dapat diselesaikan oleh peserta didik hingga tuntas.

Model-model indisipliner

Akhir-akhir ini, sikap indisipliner mulai menjangkiti para peserta didik. Termasuk peserta didik yang bersekolah di sekolah Muhammadiyah.

Fenomena tersebut karena terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi. Menurut Dr Kartini Kartono (2018) dalam bukunya yang berjudul “Patologi Sosial Kenakalan Remaja” menjelaskan empat bentuk indisipliner pada siswa di sekolah, yaitu :

1. Indisipliner remaja terisolir

Kenakalan remaja jenis ini relatif yang paling dominan dalam masyarakat. Faktor-faktor penyebabnya yaitu, keinginan meniru-niru atau yang biasa disebut FOMO (fear of missing out) serta ingin confirm dengan circle-nya.

Indisipliner remaja ini umumnya berasal dari keluarga yang dishasmorni dalam keluarga sehingga menyebabkan frustasi. Akibatnya, remaja tersebut dalam menghadapi kehidupannya kesulitan menginternalisasi norma-norma yang harus diikuti dan dihindari.

2. Indisipliner remaja neurotik

Indisipliner ini karena adanya gangguan pada kejiwaannya yang sangat memprihatinkan. Misalnya: mereka merasa cemas, merasa bersalah, dan merasa tidak aman.

Remaja yang mengidap indisipliner model ini umumnya karena adanya masalah-masalah mereka yang belum terselesaikan dan mengakibatkan terjadi konflik batin.

Kemudian konflik batin ini mereka diekspresikan dalam bentuk indisipliner. Remaja model ini memiliki keinginan yang lemah, dan mereka memiliki kecenderungan mengisolasi diri dari lingkungan sekitarnya dan cenderung kompulsif

3. Indisipliner remaja psikotik

Indisipliner remaja model ini relatif sedikit jumlahnya, tetapi memiliki kecenderungan mengarah pada kriminalitas.

Mereka cenderung memiliki ciri-ciri dengan perilaku brutal dan ekstrim, cenderung melakukan perkelahian atau kekerasan terhadap siapapun yang ada di hadapannya.

Mereka menganggap bahwa apapun yang dilakukan bukan sebagai pelanggaran. Bahkan menganggap bukan sebagai perbuatan dosa. Mereka tidak memahami norma-norma umum yang berlaku di masyarakat.

4. Indisipliner remaja defek moral

Merupakan indisipliner karena miskin afektif. Karena miskin afektif, mereka menjadi kurang mampu mengenal apa yang disebut jahat, dan kesulitan mengendalikan emosionalnya.

Kemiskinan afektif dapat menyebabkan rasa kemanusiaannya terganggu. Terganggunya rasa kemanusiaannya menyebabkan mereka mudah melakukan tindakan kekerasan, tindakan penyerangan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Jadi indisipliner remaja defek moral adalah mereka yang anti sosial, karena rusak akalnya, tidak sempurna pemikirannya, dan kurang dapat membedakan mana yang bagus dilakukan dan mana yang tidak bagus dilakukan.

Solusi

Menghadapi tantangan dari fenomena indisipliner siswa ini, penulis sebagai kepala urusan kesiswaan di SMP Muhammadiyah 1 Gresik mendapatkan amanah untuk melakukan pendekatan strategis holistik dengan melibatkan seluruh pihak terkait.

Hal ini sangat penting karena berkaitan urgensi pendidikan karakter serta pendampingan peserta didik.

Beberapa solusi yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi tantangan indisipliner di sekolah, antara lain:

a. Peningkatan kesadaran dan edukasi

Dengan mengadakan sosialisasi dan pelatihan bagi siswa untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya disiplin.

Kemudian menggunakan media sosial dan alat komunikasi lain untuk menyampaikan pesan positif tentang disiplin dan nilai-nilai penting lainnya kepada peserta didik

b. Melibatkan orang tua serta keluarga

Melakukan pertemuan rutin dengan orang tua siswa (parenting) untuk mendiskusikan kebijakan disiplin di sekolah, agar mendapatkan dukungan dari para orang tua serta wali murid.

Perlu juga membangun komunikasi yang kuat antara sekolah dan orang tua. Baik melalui grup whatsapp ataupun aplikasi komunikasi yang lain untuk memastikan konsistensi dalam penegakan aturan disiplin di sekolah.

c. Penyediaan sumber daya yang memadai

Memastikan agar sekolah memiliki sumber daya yang cukup, baik dalam hal staf, fasilitas, maupun dana dalam mendukung penerapan disiplin.

Serta perlunya mendukung guru dalam bentuk pelatihan dalam mengelola masalah disiplin secara efektif

d. Perlunya Melakukan Pendekatan Multikultural

Perlunya sekolah untuk menerapkan pendekatan alternatif melalui keragaman budaya agar tercipta budaya saling menghormati latar belakang siswa yang berbeda. Selanjutnya membangun komunitas sekolah yang inklusif dan menghargai perbedaan sehingga semua siswa merasa dihargai dan didukung.

Disiplin merupakan bentuk pengaruh yang diberikan untuk membantu peserta didik mempelajari cara menghadapi dan menyelesaikan tuntutan dari lingkungannya. Serta bagaimana mengatasi tuntutan yang mungkin diajukan terhadap lingkungannya.

Disiplin juga mencakup pengendalian dan pengarahan perasaan serta tindakan seseorang dalam lembaga pendidikan untuk menciptakan dan memelihara suasana kerja yang efektif.

Dengan disiplin, seseorang akan mengembangkan keterampilan belajar yang baik dan membentuk pribadi yang luhur.

Di lembaga pendidikan seperti sekolah Muhammadiyah, disiplin sangat penting. Karena memungkinkan seluruh peserta didik untuk melaksanakan tugas dengan baik, tepat waktu, dan menjalani kehidupan yang teratur yang nantinya dialami ketika kembali ke masyarakat.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu