Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengapa Lailatul Qadr Dirahasiakan? Inilah Hikmah Besar di Balik Malam Kemuliaan Ramadan

Iklan Landscape Smamda
Mengapa Lailatul Qadr Dirahasiakan? Inilah Hikmah Besar di Balik Malam Kemuliaan Ramadan
Foto: Getty Images/iStockphoto/pinnacleanimate
pwmu.co -

Ramadan selalu datang dengan membawa suasana yang berbeda. Di antara seluruh malam dalam bulan yang mulia itu, ada satu malam yang begitu agung namun sekaligus begitu misterius, yaitu Lailatul Qadr.

Malam ini dikenal sebagai malam kemuliaan, tetapi pada saat yang sama juga merupakan malam yang sengaja dirahasiakan oleh Allah SWT.

Al-Qur’an menggambarkan kerahasiaan itu dengan cara yang sangat menarik. Dalam Surah al-Qadr ayat kedua, Allah tidak langsung menjelaskan apa itu Lailatul Qadr, melainkan terlebih dahulu menghadirkannya dalam bentuk pertanyaan retoris:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” (QS. al-Qadr [97]: 2).

Bentuk pertanyaan ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadr adalah sesuatu yang luar biasa, melampaui pemahaman manusia biasa. Lailatul Qadr adalah malam yang kemuliaannya sangat besar hingga Al-Qur’an sendiri memperkenalkannya dengan penuh penegasan.

Keistimewaan malam itu kemudian ditegaskan pada ayat berikutnya:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. al-Qadr [97]: 3).

Seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Lebih panjang dari rata-rata usia manusia. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut nilainya lebih baik daripada ibadah yang dilakukan selama puluhan tahun.

Tidak mengherankan jika kaum Muslim sepanjang sejarah berlomba-lomba menghidupkan malam itu dengan salat, tilawah Al-Qur’an, zikir, dan doa.

Namun yang menarik, Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan secara pasti kapan Lailatul Qadr terjadi. Kerahasiaan ini bukan tanpa hikmah.

Justru karena tidak diketahui secara pasti, umat Islam didorong untuk bersungguh-sungguh menghidupkan banyak malam di bulan Ramadan, bukan hanya satu malam tertentu.

Rasulullah saw pun memberikan petunjuk yang bersifat umum, bukan tanggal yang pasti. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Aisyah ra disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (HR. al-Bukhari).

Hadis ini memberikan semacam “bocoran”, bahwa Lailatul Qadr kemungkinan besar berada pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Tetapi tetap saja tidak disebutkan secara pasti malam keberapa.

Petunjuk lain juga muncul dari hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ

“Dari Ibnu Umar ra, bahwa beberapa sahabat Nabi diperlihatkan Lailatul Qadr dalam mimpi pada tujuh malam terakhir Ramadan. Lalu Rasulullah saw bersabda: Aku melihat mimpi kalian bertepatan pada tujuh malam terakhir. Maka barang siapa ingin mencarinya, hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain, Rasulullah saw juga bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَحَيَّنُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ أَوْ قَالَ فِي التِّسْعِ الأَوَاخِرِ

“Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Tunggulah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir, atau beliau bersabda pada sembilan malam terakhir.” (HR. Muslim).

Dari hadis-hadis tersebut terlihat jelas bahwa Nabi tidak menetapkan satu tanggal pasti. Yang diberikan hanyalah rentang waktu pencarian. Kadang disebut sepuluh malam terakhir, kadang sembilan malam terakhir, kadang tujuh malam terakhir, dan secara khusus pada malam-malam ganjil.

Kapan waktu pasti Lailatul Qadr memang tidak diketahui secara pasti. Kerahasiaan itu justru mengandung hikmah spiritual yang besar. Seandainya malam itu ditentukan secara jelas, mungkin manusia hanya akan beribadah pada satu malam saja.

Dengan dirahasiakannya malam tersebut, umat Islam terdorong untuk menghidupkan lebih banyak malam dengan ibadah.

Referensi:

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, “Fatwa Tarjih Tentang Malam Lailatul Qadr”, dalam Majalah Suara Muhamadiyah nomor 17 tahun 2003.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu