Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengapa Terjadi Aksi Bunuh DIri?

Iklan Landscape Smamda
Mengapa Terjadi Aksi Bunuh DIri?
pwmu.co -
Pendidikan dan agama: kunci solusi akar masalah sosial

Berbagai persoalan sosial yang terjadi saat ini sesungguhnya bisa terlacak akarnya dari lemahnya pondasi pendidikan dan nilai-nilai keagamaan. Dalam konteks Indonesia, dua instrumen ini masih sangat relevan dan efektif sebagai solusi jangka panjang.

Melalui pendidikan, ada lima langkah strategis yang bisa kita gunakan: 

1) Integrasi pendidikan kesehatan mental di sekolah, tidak hanya melalui mata pelajaran formal, tetapi juga lewat kegiatan ekstrakurikuler, pelatihan guru, dan layanan konseling. Peserta didik perlu memiliki bekal keterampilan mengenali emosi, mengelola stres, dan membangun empati sejak dini. 

2) Penguatan peran guru sebagai pendamping emosional. Pelatihan dasar psikologi bagi guru sangat penting agar mereka mampu mengidentifikasi gejala tekanan mental atau depresi pada siswa, serta tahu cara menanganinya dengan tepat. 

3) Membangun budaya sekolah yang inklusif dan ramah anak, agar sekolah menjadi ruang aman dan nyaman bagi perkembangan siswa. Perundungan (bullying), diskriminasi, dan stigmatisasi harus dicegah melalui regulasi tegas dan keterlibatan semua elemen sekolah.

4) Meningkatkan sinergi antara sekolah dan orang tua terkait perkembangan anak melalui kegiatan parenting secara berkala. Ini penting agar orang tua mampu memahami dan merespons kondisi emosional anak-anak mereka dengan bijak. 

5) Revitalisasi peran konselor sekolah, yang selama ini sering hanya dilihat sebagai penegak disiplin. Guru Bimbingan dan Konseling (BK) harus diposisikan sebagai mitra strategis dalam membangun kesehatan mental siswa.
Melalui pendekatan ini, pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk jiwa yang tangguh dan berkarakter. Sementara nilai-nilai agama bisa menjadi fondasi moral yang menuntun mereka dalam menghadapi tantangan hidup.

Pendekatan holistik Islam

Dalam perspektif Islam, hidup merupakan amanah suci dari Allah SWT. Karena itu, upaya pencegahan bunuh diri bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga menjadi tugas bersama sekolah, orang tua, masyarakat, dan lembaga keagamaan. Ada lima langkah penting yang dapat dilakukan secara kolaboratif:

Langkah pertama, menanamkan nilai tauhid dan makna hidup. Sejak dini, anak harus dipahamkan bahwa hidup adalah titipan Allah, bukan milik pribadi. Surah An-Nisa ayat 29 menegaskan: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” Penanaman nilai ini harus menyentuh aspek kognitif, spiritual, dan emosional agar seseorang paham bahwa setiap ujian adalah bentuk kasih sayang-Nya, bukan hukuman.

Langkah kedua, memberikan peran pada ulama dalam penyembuh sosial. Ulama dan tokoh agama perlu hadir aktif dalam isu kesehatan mental. Melalui khutbah, pengajian, dan dakwah, mereka bisa menyampaikan pencerahan pentingnya menjaga kesehatan jiwa serta menghapus stigma — dan membangun empati — terhadap penderita gangguan mental.

Langkah ketiga, memberikan layanan konseling spiritual berbasis masjid atau lembaga keagamaan. Masjid bisa menjadi pusat konseling yang masyarakat mudah mengaksesnya. Pendekatan ini lebih diterima di lingkungan religius dan bisa menjadi jembatan awal sebelum seseorang mendapat bantuan psikolog profesional.

Langkah keempat, menghidupkan komunitas keagamaan. Kegiatan seperti shalat berjamaah, pengajian rutin, dan aksi sosial keagamaan memperkuat ikatan sosial dan memberikan rasa memiliki. Terlibat dalam komunitas keagamaan membuat seseorang merasa lebih terhargai, mengurangi rasa sepi dan keterasingan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Langkah kelima, membangun harapan dan jalan taubat. Islam menawarkan ruang harapan dan ampunan. Surah Az-Zumar ayat 53 menjadi pegangan penting: “Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

Ayat ini menjadi kekuatan luar biasa untuk menghidupkan kembali harapan mereka yang hampir sirna. Perspektif ini juga memperkuat data dari Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Indonesia (inasp.id), yang menegaskan bahwa pendekatan agama menjadi elemen krusial dalam menciptakan perubahan berkelanjutan dalam pencegahan bunuh diri.

Pendidikan dan agama tak akan cukup kuat menahan gelombang krisis jiwa jika tidak bersinergi lintas sektor sebagai jalan nyata menuju perubahan. Pencegahan bunuh diri bukan hanya tugas satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama: pemerintah, sekolah, lembaga keagamaan, media massa, hingga komunitas lokal.

Membutuhkan kebijakan yang mendukung layanan kesehatan mental dan penguatan pendidikan karakter sejak dini. Media juga harus lebih bijak dalam memberitakan kasus bunuh diri, agar tidak menimbulkan efek imitasi atau peniruan yang membahayakan.

Tak kalah penting, komunitas perlu diberdayakan sebagai agen pendamping sosial—mereka yang hadir di tengah masyarakat, menciptakan ruang aman, dan menggunakan pendekatan kultural yang relevan. Nilai-nilai sosial lokal bisa menjadi jembatan empati, menghidupkan solidaritas, dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang hampir menyerah.

Bunuh diri bukan semata persoalan individu, melainkan cerminan dari rapuhnya sistem sosial yang belum mampu membentuk ketahanan mental, spiritual, dan emosional bagi anggotanya. Dalam konteks Indonesia—bangsa yang dikenal religius dan menjunjung tinggi nilai kekeluargaan—sebenarnya tersedia fondasi kuat untuk mencegah tragedi ini, asalkan dikelola dengan bijak dan inklusif.

Pendidikan dan agama memegang peran sentral. Pendidikan yang menanamkan karakter, empati, dan kesadaran diri, dipadukan dengan nilai-nilai keagamaan yang menekankan kasih sayang, harapan, dan penerimaan, bisa menjadi benteng bagi mereka yang sedang rapuh. Bukan sekadar mengajarkan, tetapi merangkul.

Tulisan ini bukan sekadar ajakan untuk merenung, tapi seruan untuk bertindak: membangun gerakan kolektif yang peduli, hadir, dan menguatkan. Karena setiap nyawa begitu berarti. Setiap jiwa yang terselamatkan adalah kemenangan kemanusiaan yang hakiki.***

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu