
Oleh: Alfain Jalaluddin Ramadlan – Wakil Sekretaris LSBO PDM Lamongan, Ketua PC IMM Lamongan Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman, Ketua Bidang Pustaka dan Literasi Kwarwil Hizbul Wathan Jawa Timur, Pengajar Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, dan KM3 Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
PWMU.CO – Al-Quran bukan hanya kitab suci umat Islam, tetapi juga pedoman hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Di dalamnya termuat nilai-nilai tauhid, moral, sosial, dan pendidikan yang relevan sepanjang masa.
Oleh karena itu, mengenalkan anak dengan al-Quran sejak usia dini merupakan langkah strategis dalam membangun generasi yang tangguh secara spiritual dan intelektual.
Dalam konteks pendidikan Islam, al-Quran adalah sumber utama pembentukan karakter yang luhur dan akhlak mulia.
Rasulullah Saw bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari No. 1296 dan Muslim No. 2658).
Hadits ini menegaskan bahwa lingkungan keluarga, terutama orang tua, memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk keimanan anak.
Maka, mengenalkan al-Quran sejak dini menjadi bagian penting dari proses pendidikan itu sendiri. Usia dini adalah masa emas (golden age) dalam perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak. Pada usia inilah otak anak berkembang sangat cepat dan mudah menyerap informasi.
Menurut teori psikologi perkembangan Jean Piaget, anak usia 2-7 tahun berada dalam tahap praoperasional, di mana mereka sangat kuat dalam meniru dan menghafal.
Ini menjadi peluang besar untuk memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah, bacaan pendek, dan nilai-nilai al-Quran melalui pendekatan yang menyenangkan dan sesuai dengan dunia anak.
Kaitan dengan Sistem Pendidikan Islam
Dalam sistem pendidikan Islam, tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Hal ini sejalan dengan Qs At-Tahrim: 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (Qs At-Tahrim: 6).
Ayat ini memberikan dasar spiritual bahwa orang tua harus melindungi anak-anak mereka dari penyimpangan akidah dan moral dengan cara mengenalkan mereka pada nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari al-Quran.
Maka, pendidikan al-Quran sejak dini tidak hanya penting dalam aspek akademik keislaman, tetapi juga dalam pembentukan integritas spiritual anak.
Berbagai riset telah membuktikan bahwa pendidikan al-Quran sejak usia dini berpengaruh besar terhadap perkembangan moral dan kognitif anak.
Sebuah studi oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2022) menyebutkan bahwa anak-anak yang terbiasa mendengarkan atau membaca al-Quran sejak dini cenderung memiliki emosi yang stabil, berperilaku sopan, dan kemampuan bahasanya lebih baik.
Contoh nyata dapat dilihat di TKIT Al Furqon Yogyakarta, yang mengintegrasikan pembelajaran al-Quran dalam setiap aspek kurikulum.
Dalam laporan yang diterbitkan oleh Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Ahmad Dahlan (2021), anak-anak di TKIT tersebut mampu menghafal Juz 30 dengan metode fun learning dan pendekatan tematik yang menarik. Hasilnya, siswa menunjukkan peningkatan signifikan dalam kedisiplinan, ketenangan batin, dan kepedulian sosial.
Fakta lainnya datang dari Pondok Pesantren Nurul Fikri Boarding School (NFBS) di Serang, Banten, di mana lebih dari 60 persen santri SD telah menyelesaikan hafalan minimal 5 juz sebelum usia 12 tahun. Hal ini berkat pendekatan pembelajaran yang dimulai sejak usia TK, melalui metode tahfidz yang menyenangkan berbasis bermain dan bernyanyi.
Tantangan dan Solusi
Namun, mengenalkan anak dengan al-Quran sejak dini tidaklah mudah. Tantangan terbesar datang dari kurangnya waktu orang tua, kurangnya pendidik yang profesional, serta pengaruh media digital yang berlebihan. Di sinilah pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Maka, setidaknya ada tiga solusi agar anak dekat dengan al-Quran:
Satu, orang tua harus menjadi teladan dalam membaca dan mengamalkan al-Quran di rumah.
Dua, sekolah perlu menyediakan guru al-Quran yang kompeten dan menggunakan pendekatan pembelajaran yang kreatif.
Tiga, masyarakat dan pemerintah perlu mendukung dengan kebijakan pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman, termasuk penguatan Taman Pendidikan al-Quran (TPQ) dan lembaga tahfidz anak, dan Pondok Pesantren.
Mengenalkan al-Quran kepada anak sejak usia dini bukan hanya tentang kemampuan membaca atau menghafal, tetapi tentang menanamkan cinta dan nilai-nilai al-Quran dalam jiwa mereka.
Dalam era modern yang penuh tantangan moral dan spiritual, langkah ini menjadi sangat penting untuk menjaga generasi dari kehancuran nilai dan identitas.
Dengan sinergi pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat, kita bisa melahirkan generasi Qurani yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mulia dalam akhlak dan kuat dalam keimanan. (*)
Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments