Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengenang Masa Lalu, Menata Ulang Masa Depan Hizbul Wathan

Iklan Landscape Smamda
Mengenang Masa Lalu, Menata Ulang Masa Depan Hizbul Wathan
Fathurrahim Syuhadi saat memberikan penghargaan lomba Kemah santri Muhammadiyah Jawa Timur. (Alfain Jalaluddin Ramadlan/PWMU.CO)
Oleh : Fathurrahim Syuhadi Ketua Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Timur
pwmu.co -

Setiap gerakan besar lahir dari sejarah panjang perjuangan. Hizbul Wathan (HW) sebagai gerakan kepanduan Muhammadiyah bukan sekadar organisasi kegiatan luar ruang, tetapi kawah kaderisasi ideologis yang dibangun dengan nilai iman, ilmu, dan amal.

Mengenang masa lalu bukan untuk bernostalgia berlebihan, melainkan untuk menemukan kembali ruh perjuangan agar langkah ke depan tidak kehilangan arah.

Allah Swt. mengingatkan pentingnya mengambil pelajaran dari perjalanan sebelumnya

“Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (ketetapan Allah), maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan.” (QS. Ali ‘Imran: 137)

Ayat ini menegaskan bahwa sejarah adalah guru kehidupan. Bangkit atau runtuhnya sebuah umat, termasuk organisasi, selalu berawal dari sikap mereka terhadap nilai dan prinsip yang diyakini.

Hizbul Wathan pada masa awal hadir sebagai gerakan pembinaan karakter: membentuk pandu yang disiplin, berani, beriman, dan siap berkhidmat untuk umat serta bangsa.

Rasulullah Saw. juga mengingatkan keseimbangan antara refleksi dan gerak maju

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini relevan dalam menata ulang Hizbul Wathan hari ini. Evaluasi diri—baik individu maupun organisasi—menjadi syarat utama kebangkitan.

Hizbul Wathan perlu berani bercermin: apakah kita masih setia pada tujuan kaderisasi, ataukah terjebak pada rutinitas kegiatan tanpa ruh gerakan?

Dalam konteks kebangsaan, pesan Jenderal Soedirman menjadi penguat arah perjuangan

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dari sanalah kita belajar arti pengorbanan dan keikhlasan.”

Jenderal Soedirman mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya pada strategi dan fisik, tetapi pada keyakinan, kesederhanaan, dan kesetiaan pada cita-cita. Nilai inilah yang seharusnya hidup dalam diri setiap Pandu Hizbul Wathan: tahan uji, sederhana, dan teguh dalam prinsip, meskipun zaman terus berubah.

Menata ulang Hizbul Wathan berarti mengembalikan orientasi gerakan. Kegiatan tetap penting, namun harus berpijak pada misi ideologis.

Seragam, barisan, dan perkemahan hanyalah alat; tujuan sejatinya adalah pembentukan insan beriman, berilmu, berakhlak, dan berjiwa pemimpin. HW harus menjadi ruang belajar kepemimpinan, ketangguhan mental, dan kepekaan sosial, bukan sekadar agenda tahunan.

Masa lalu Hizbul Wathan adalah fondasi, bukan beban. Dari sanalah kita menimba nilai perjuangan para pendahulu yang ikhlas berkhidmat tanpa pamrih. Masa depan HW menuntut keberanian berinovasi tanpa kehilangan jati diri.

Di titik inilah refleksi sejarah bertemu dengan tuntutan zaman.

Akhirnya, mengenang masa lalu dan menata ulang Hizbul Wathan adalah ikhtiar menjaga kesinambungan perjuangan. Dengan iman sebagai kompas, sejarah sebagai pelajaran, dan masa depan sebagai harapan, Hizbul Wathan diharapkan tetap menjadi gerakan kader yang kokoh, relevan, dan mencerahkan umat serta bangsa. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu