Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengenang Tragedi G30S PKI: Menjaga Sejarah, Memetik Pelajaran

Iklan Landscape Smamda
Mengenang Tragedi G30S PKI: Menjaga Sejarah, Memetik Pelajaran
Para Jenderal yang dibunuh oleh PKI. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Alfain Jalaluddin Ramadlan (Guru MTs Muhammadiyah 15 Al Mizan Lamongan, Mahasiswa Pascasarjana UM Surabaya, Aktivis Muhammadiyah)
pwmu.co -

Perjalanan sejarah bangsa Indonesia penuh dengan dinamika, mulai dari perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankan kedaulatan, hingga menjaga keutuhan bangsa dari ancaman yang datang dari dalam maupun luar negeri.

Salah satu peristiwa kelam yang selalu dikenang setiap bulan September adalah tragedi Gerakan 30 September 1965 atau yang lebih dikenal dengan G30S/PKI.

Peristiwa ini bukan sekadar catatan hitam dalam sejarah, melainkan juga titik balik yang membawa dampak besar terhadap arah politik, sosial, dan ideologi bangsa Indonesia.

Pada malam 30 September 1965, sebuah kelompok yang menamakan diri Gerakan 30 September melancarkan aksinya. Mereka menculik dan membunuh tujuh perwira tinggi TNI Angkatan Darat, yaitu Jenderal Ahmad Yani, Letnan Jenderal Suprapto, Letnan Jenderal M.T. Haryono, Letnan Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal D.I. Panjaitan, Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, serta Lettu Pierre Andreas Tendean yang kala itu menjadi ajudan Jenderal Nasution.

Para jenderal ini dibawa ke sebuah lokasi yang kemudian dikenal sebagai Lubang Buaya, di mana mereka mengalami penyiksaan yang tidak manusiawi sebelum akhirnya dibunuh dan jasad mereka dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua.

Peristiwa mengerikan itu mengguncang bangsa. Bagi rakyat Indonesia, kejadian ini adalah bukti nyata betapa rapuhnya persatuan ketika ideologi yang bertentangan dengan Pancasila berusaha merebut kekuasaan.

Angkatan Darat di bawah pimpinan Mayor Jenderal Soeharto segera mengambil alih komando untuk mengendalikan keadaan. Dengan sigap, TNI menguasai situasi dan menumpas gerakan tersebut.

Tidak berhenti di Jakarta, jejak pemberontakan juga muncul di berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali. Konflik yang timbul menimbulkan bentrokan antarkelompok masyarakat, bahkan memakan korban ribuan jiwa.

Tragedi G30S/PKI membawa perubahan drastis dalam perjalanan bangsa. Partai Komunis Indonesia (PKI), yang kala itu merupakan salah satu partai terbesar di dunia, akhirnya dibubarkan dan pemerintah menetapkan larangan ideologi komunisme, Marxisme, dan Leninisme di Indonesia.

Sejak saat itu, ideologi tersebut dinyatakan terlarang karena dianggap bertentangan dengan Pancasila dan membahayakan persatuan bangsa.

Dampak lainnya adalah munculnya era baru dalam sejarah Indonesia, yakni Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto. Dengan alasan menegakkan stabilitas dan pembangunan, rezim baru ini kemudian mengarahkan bangsa menuju agenda modernisasi dan pertumbuhan ekonomi, meskipun di sisi lain juga meninggalkan catatan panjang terkait praktik otoritarianisme.

Namun, di balik dinamika politik dan pergantian kekuasaan, tragedi ini meninggalkan luka sosial yang sangat dalam. Banyak keluarga kehilangan anggota akibat konflik horizontal, baik dari kalangan masyarakat sipil maupun simpatisan PKI.

Trauma ini diwariskan lintas generasi, menorehkan kenangan pahit bahwa bangsa Indonesia pernah dilanda pertumpahan darah akibat pertarungan ideologi.

Hikmah Peristiwa

Dari peristiwa itu, bangsa Indonesia dapat menarik sejumlah pelajaran berharga. Bahaya ideologi yang menyimpang dari Pancasila menjadi pengingat utama.

Komunisme dengan paham materialisme dan perjuangan kelasnya terbukti tidak sejalan dengan jiwa bangsa yang berlandaskan Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Persatuan.

Presiden Soekarno sendiri pernah menegaskan pentingnya Pancasila sebagai pedoman bersama bangsa Indonesia. Dalam pidatonya ia berkata, “Pancasila itulah yang harus menjadi dasar dari negara kita. Tidak boleh ada satu ideologi lain yang menggantikannya, sebab Pancasila lahir dari kepribadian bangsa Indonesia sendiri.”

Selain itu, tragedi ini juga menunjukkan pentingnya kewaspadaan nasional. Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa bangsa ini bisa rapuh bila terpecah oleh kepentingan ideologi tertentu.

Jenderal A.H. Nasution, salah satu tokoh yang menjadi sasaran utama gerakan namun berhasil selamat, pernah mengingatkan, “Bangsa yang lengah terhadap sejarahnya akan mengulang kesalahannya. Karena itu, kita harus senantiasa waspada dan belajar dari masa lalu.”

Kesigapan TNI dalam menghadapi G30S/PKI juga mengajarkan bahwa kekuatan pertahanan negara memiliki peran vital dalam menjaga kedaulatan. Tanpa ketegasan dan keberanian, bisa jadi bangsa Indonesia jatuh ke dalam kekacauan yang lebih besar.

Jenderal Soeharto, dalam pidatonya setelah berhasil mengendalikan keadaan, menegaskan bahwa tindakan cepat harus diambil untuk menyelamatkan negara. Ia berkata, “Kita tidak boleh membiarkan bangsa ini hancur oleh pengkhianatan. Tugas kita adalah menjaga agar Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap berdiri tegak dengan Pancasila sebagai dasarnya.”

Generasi muda perlu memahami peristiwa G30S/PKI bukan untuk menumbuhkan kebencian, melainkan agar mereka menyadari betapa mahalnya persatuan dan kedaulatan bangsa.

Pendidikan sejarah harus terus diberikan dengan perspektif yang jernih agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.

Sejarah adalah guru kehidupan, dan bangsa yang besar adalah bangsa yang mau belajar dari masa lalunya.

Dengan mengingat G30S/PKI, kita menegaskan kembali komitmen untuk tidak lengah menghadapi ancaman ideologi yang berpotensi memecah belah bangsa.

Mengenang peristiwa ini pada akhirnya adalah sebuah peringatan moral: kebebasan, persatuan, dan kedaulatan yang kita nikmati saat ini bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, melainkan hasil dari pengorbanan, perjuangan, dan bahkan darah para pahlawan.

Tragedi G30S/PKI menjadi cermin agar bangsa Indonesia lebih bijak melangkah ke masa depan, tetap berpegang teguh pada Pancasila, dan tidak mudah terpecah belah oleh kepentingan sempit yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu