
Oleh Dadang Prabowo – Pengajar di Pesantren SPEAM Kota Pasuruan
PWMU.CO – Sudah menjadi pengetahuan bersama umat Islam, bahwa ada peristiwa-peristiwa besar dalam Islam yang terjadi pada malam hari. Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada malam hari tersebut antara lain peristiwa “Nuzulul Qur’an” yang merupakan peristiwa turunnya Al-Qur’an yang dalam keyakinan umat Islam dari Baitul Izzah pada langit dunia kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam. Juga peristiwa Lailatul Qadar yang dalam keyakinan Islam sebagai malam penuh berkah dan kemuliaan pada bulan Ramadhan. Maupun peristiwa Isra’ Miraj oleh Rasulullah Muhammad Saw Makkah menuju Baitul Maqdis dan kemudian berlanjut ke Sidratul Muntaha.
Terpilihnya malam sebagai momentum penting dalam peristiwa-peristiwa bukanlah faktor kebetulan. Dalam Al-Quran, secara khusus ada surat yang bernama Malam (Al-Lail). Ulama tafsir KH Quraish Shihab mengatakan bahwa al-lail memiliki arti gelap.
Pada gelapnya malam secara alamiah terdapat keheningan dan ketenangan. Secara sunnatullah keberadaan malam mengajak manusia untuk beristirahat karena rasa letih setelah beraktivitas pada siang hari. Ketika memasuki malam, pada umumnya tempat-tempat kerja dan jalanan pun menjadi lengang dan sepi. Maka, pada waktu malam itulah menjadi momentum bagi seseorang untuk lebih tenang bermunajat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Dalam QS Al-Isra’ ayat 79 Allah Swt berfirman:
وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”
Maka dengan merutinkan atau membiasakan diri dengan Shalat Tahajud, seseorang akan mendapatkan posisi yang mulia dari Allah Swt, yang mungkin tidak akan diperoleh oleh mereka yang tidak melaksanakan shalat malam.
Al-Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata:
بقَدْرِ الكدِّ تُكتَسَبُ المَعَــالي …ومَنْ طَلبَ العُلا سَهِـرَ اللّيالي
“Ketinggian diraih berdasarkan ukuran kerja keras… Barang siapa yang ingin meraih puncak maka dia akan begadang”
ومَنْ رامَ العُلى مِن ْغَيرِ كَـدٍّ …أضَاعَ العُمرَ في طَـلَبِ المُحَالِ
“Barang siapa yang mengharapkan ketinggian/kemuliaan tanpa rasa letih… Maka sesungguhnya ia hanya menghabiskan usianya untuk meraih sesuatu yang mustahil.”
تَرُومُ العِــزَّ ثم تَنامُ لَيـلاً ….يَغُوصُ البَحْرَ مَن طَلَبَ اللآلي
“Engkau mengharapkan kejayaan lantas di malam hari hanya tidur aja?… Orang yang yang mencari mutiara harus menyelam di lautan.”
Nabi Muhammad Saw sendiri membiasakan diri dengan shalat malam hingga akhir hayatnya. Terkadang beliau sholat sendiri, dan pada lain waktu bersama-sama dengan para sahabatnya. Nabi Muhammad Saw juga memanjangkan sholat malamnya. Sebagaimana riwayat dari istri Rasulullah Aisyah Radhiyallahu anha bahwa kaki Rasulullah tersebut sampai bengkak.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلاَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ». رواه مسلم.
Aisyah r.a. berkata, Rasulullah saw. ketika melaksanakan shalat maka beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak. Aisyah r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, Apa yang engkau perbuat, sedangkan dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni.” Lalu beliau menjawab, “Wahai Aisyah, bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Muslim).
Shalat malam bermanfaat sebagai terapi jiwa dan diri agar terhindar dari perilaku dosa kemaksiatan. Pada masa Nabi Muhammad Swt, ada pencuri yang rajin shalat malam. Para sahabat geram dan ingin menghukumnya. Tapi mereka tidak mendapatkan alat bukti sedikit pun. Mendapatkan laporan tentang hal tersebut Nabi bersabda: shalat malamnya akan mencegahnya dari perbuatan mencuri. Dan orang tersebut akhirnya meninggalkan perbuatan nista tersebut.
Selain itu, shalat juga berguna untuk melembutkan hati seseorang. Orang yang hatinya keras akan menjadi lunak ketika rajin melaksanakan shalat malam. Dengan shalat malam, hati seseorang menjadi lembut dan ikhlas dalam mengakui dosa-dosanya. Hati yang sudah lunak dan gemar melakukan kebaikan akan mudah mendapatkan lailatul qadar, malam yang pahala ibadah di dalamnya lebih baik dari seribu bulan. (*)
Editor Notonegoro






0 Tanggapan
Empty Comments