Dua minggu lalu, saya berkesempatan berkunjung ke Madrasah Aliyah Kulliyatul Muballighin Muhammadiyah Kauman Padang Panjang, Sumatera Barat. Begitu turun dari bus di depan Rumah Gadang Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM), penjemput dari madrasah sudah datang. Padahal, saya sempat berharap dapat menikmati keindahan bangunan budaya PDIKM yang diresmikan pada tahun 1990 itu.
Perjalanan menuju madrasah hanya sekitar lima belas menit. Ini kali kedua saya berkunjung, setelah delapan tahun lalu sempat singgah. Kini, Madrasah Kauman tampak jauh lebih rapi, bangunannya tertata baik, dan para siswanya berdisiplin tinggi. Kemajuannya begitu terasa.
Setelah berbincang sejenak dengan para pimpinan, saya diminta memberikan kuliah tamu bertema “Etos dan Kemajuan”. Siang itu, udara Padang Panjang terasa sejuk—di ketinggian 700 mdpl, lingkungan ini benar-benar ideal untuk suasana belajar.
Bangga Menjadi Santri Muhammadiyah
Kepada para santri saya sampaikan, “Jangan lupa bangga menjadi pelajar di madrasah Muhammadiyah, dan bangga pula menjadi bagian dari bangsa besar Indonesia.”
Indonesia, kata saya, membutuhkan generasi muda yang senang belajar. Sebelum berbicara tentang coding, artificial intelligence (AI), atau deep learning, kita harus mulai dari hal paling mendasar: membaca dan menulis.
“Membaca dan menulis adalah jalan tol menuju penguasaan ilmu,” ujar saya kala itu.
Para guru dan pimpinan madrasah, saya tekankan, perlu menjadi pionir budaya literasi. Membaca dan menulis bukan sekadar aktivitas tambahan, tetapi pondasi utama pembelajaran. Terlalu sering kita terjebak pada cita-cita kurikulum setinggi langit, namun lupa membangun kebiasaan dasar: gemar membaca dan menulis.
Saya bahkan mengajak para guru untuk jujur menilai diri: dalam seminggu, berapa kali kita membaca buku dan menulis sesuatu?
Kembali ke yang Fundamental
Membaca adalah pintu gerbang ilmu pengetahuan, sedangkan menulis adalah jembatan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Keduanya sangat fundamental.
Negara yang hebat lahir dari masyarakat yang gemar membaca dan menulis. Orang-orang cerdik pandai menempuh perjalanan panjang—jatuh bangun bersama buku dan pena.
Sayangnya, kegagalan kurikulum kita dari masa ke masa sering bermula dari pelaku pendidikan yang tidak terbiasa membaca dan menulis.
Data PISA 2022 mencatat, kemampuan literasi membaca Indonesia berada di peringkat 71 dari 81 negara, atau nomor sepuluh dari bawah. Di kawasan ASEAN, posisi kita masih di bawah Singapura, Vietnam, Brunei, Malaysia, dan Thailand—meski sedikit lebih baik dari Filipina dan Kamboja.
Ini bukan sekadar angka, melainkan peringatan serius. Kita terlalu sibuk mengagungkan yang “modern” tanpa mengokohkan hal yang mendasar.
Belajar dari Jepang
Saat para kepala sekolah Indonesia berkunjung ke Seiki Elementary School di Jepang tahun 2017, mereka bertanya apa target utama sekolah tersebut.
Sang guru menjawab sederhana, “Anak-anak harus senang membaca dan menulis. Jika itu tercapai, proses belajar akan berjalan lancar.”
Jawaban yang singkat, namun dalam.
Prestasi yang Salah Kaprah
Di banyak tempat, kita sering mendengar cerita tentang sekolah yang bangga karena siswanya meraih banyak medali olimpiade. Lemari penuh piala, sertifikat menumpuk—seolah pembelajaran telah berhasil.
Sebagian besar pencapaian itu lahir dari latihan soal berulang, prediksi soal, dan hafalan cepat. Anak-anak menjadi juara karena hafal pola, bukan karena memahami substansi.
“Belajar sejati dimulai dari membaca dan menulis,” saya sampaikan.
Karena itu, kedua hal ini seharusnya menjadi kurikulum wajib, dimulai dari para guru. Sekolah perlu membangun atmosfer akademik yang hidup dari budaya literasi.
Menyiapkan Guru Profesional
Seleksi guru sebaiknya tidak hanya menilai kemampuan akademik, tetapi juga kualitas membaca dan menulis.
Banyak guru menyuruh muridnya rajin membaca dan menulis, tetapi dirinya sendiri jarang melakukannya. Padahal, dari kebiasaan itulah lahir para cendekia sejati.
Membaca dan menulis adalah keterampilan dasar yang saling berkaitan. Namun, banyak guru belum yakin bagaimana memprioritaskan keduanya.
Pemahaman mendalam tentang hubungan antara membaca dan menulis sangat penting. Guru yang memahami ini akan mampu mengajarkan secara efektif dan merancang metode yang berhasil.
Salah satu pendekatan yang menarik dikemukakan oleh Kim Young-Suk (2022) melalui model Dynamic Interactive Literacy. Model ini menekankan pentingnya integrasi sistematik antara membaca dan menulis agar perkembangan literasi siswa meningkat secara optimal.
Inilah langkah istimewa yang seharusnya dijalankan pendidikan modern di sekolah-sekolah kita.
Membangun bangsa tidak cukup dengan kurikulum modern dan teknologi canggih. Kita perlu kembali ke yang fundamental: membaca dan menulis.
Dari kebiasaan sederhana itulah lahir peradaban, lahir guru-guru hebat, dan tumbuh generasi pembelajar yang sejati. (*)





Tulisan Prof. Imam selalu segar dan memantik semangat.