Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menghidupkan Semangat Ta’awun, Merawat Warisan Kemerdekaan

Iklan Landscape Smamda
Menghidupkan Semangat Ta’awun, Merawat Warisan Kemerdekaan
Ustadz Arifin saat menyampaikan kajiannya. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Udara pagi Tuban masih sejuk ketika ratusan jamaah mulai memadati Masjid Darussalam, Ahad (24/8/2025). Sejak pukul setengah enam, barisan jamaah sudah tersusun rapi. Sebagian datang dengan wajah penuh antusias, sebagian lain tampak menenteng kitab dan catatan kecil.

Mereka hadir dengan satu tujuan: menyimak kajian Ahad pagi yang menghadirkan penceramah istimewa, Ustadz Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Kajian kali ini mengangkat tema “Ta’awun sebagai Jiwa Kemerdekaan: Bersatu dalam Tolong-Menolong untuk Bangsa.”

Ta’awun, Jiwa Kemerdekaan

Dalam pembukaannya, Ustadz Arifin mengajak jamaah merenungi kembali esensi ta’awun—tolong-menolong dalam kebaikan—sebagai nilai fundamental Islam yang relevan dalam kehidupan berbangsa.

“Kemerdekaan yang kita rasakan hari ini bukan hanya hasil kekuatan senjata atau diplomasi politik semata. Kemerdekaan lahir karena semangat ta’awun yang tertanam dalam jiwa para pejuang dan rakyat. Dari kebersamaan dan saling menolong itulah tumbuh keberanian dan tekad merebut kemerdekaan. Maka saya katakan, dari ta’awun-lah kemerdekaan itu ada,” ungkapnya.

Jamaah terdiam sejenak, menyimak dengan khidmat. Sebagian tampak mencatat kalimat-kalimat penting yang disampaikan.

Ustadz Arifin kemudian menegaskan pentingnya menjaga semangat ta’awun sebagai fondasi persatuan bangsa. Ia mengutip firman Allah Swt dalam Qs Al-Māidah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

”Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.

“Ayat ini jelas mengajarkan kita untuk saling menopang dalam kebaikan, baik dalam kehidupan pribadi, masyarakat, maupun kebangsaan,” tegasnya.

LDK Muhammadiyah dan Dakwah Ta’awun

Kajian semakin menarik ketika Ustadz Arifin berbagi kiprah Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Muhammadiyah dalam menghidupkan nilai ta’awun melalui dakwah dan pemberdayaan masyarakat.

Ia menceritakan pengalaman mendampingi komunitas mualaf di Suku Baduy Luar di Lebak, Banten; mendirikan pesantren mualaf di Bali; hingga memberikan bimbingan agama di pedalaman Kalimantan.

“LDK Muhammadiyah tidak hanya berdakwah lewat ceramah. Kami hadir di lapangan, membersamai masyarakat yang membutuhkan sentuhan dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan. Inilah wujud nyata ta’awun, menghadirkan kehadiran, mendengar, dan membantu secara langsung,” jelasnya.

Cerita itu membuat jamaah tertegun sekaligus kagum. Bagi sebagian, kisah dakwah di daerah 3T (terluar, terpencil, dan tertinggal) memberikan perspektif baru tentang misi besar Muhammadiyah.

Cerita yang Menghidupkan Suasana

Suasana kajian tidak hanya sarat makna, tetapi juga hangat. Ustadz Arifin kerap menyelipkan kisah ringan dari pengalaman dakwahnya: mulai dari berjalan kaki belasan kilometer di hutan untuk menemui masyarakat pedalaman, hingga kisah lucu perbedaan budaya saat berdakwah di pelosok.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Setiap kali cerita mengalir, jamaah tersenyum, bahkan tertawa kecil. “Dakwah bukan sekadar menyampaikan ayat dan hadis, tetapi juga soal hadir dan memahami realitas masyarakat. Di situlah letak kekuatan ta’awun, kita merasakan apa yang mereka rasakan,” ujarnya.

Dalil yang Menguatkan

Selain Qs Al-Māidah ayat 2, ia memperkuat pesan ta’awun dengan beberapa dalil lain:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

المُؤمِنُ للمُؤمِنِ كالبُنيانِ يَشُدُّ بَعضُه بَعضًا

Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Qs Ali Imran: 103)

Menurutnya, dalil-dalil itu menjadi fondasi penting dalam membangun kekuatan kolektif umat sekaligus menjaga persatuan bangsa.

Merawat Warisan Kemerdekaan

Kajian yang berlangsung sejak pukul 06.00 hingga 07.00 WIB itu ditutup dengan ajakan penuh semangat.

“Jika kita ingin negeri ini damai, maju, dan bermartabat, maka kuncinya ada pada *ta’awun*. Mari saling membantu, saling menguatkan, dan bersama-sama merawat warisan kemerdekaan ini untuk generasi mendatang,” serunya.

Usai doa penutup, jamaah saling bersalaman. Mereka pulang dengan membawa pesan kuat bahwa ta’awun bukan sekadar konsep, melainkan jalan hidup yang harus terus dirawat. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu