Buya Hamka dikenal bukan hanya sebagai ulama besar, tetapi juga pemikir, sastrawan, dan teladan moral bangsa. Salah satu wasiatnya yang paling menyentuh kini kembali relevan di tengah krisis nilai dan kejujuran yang melanda masyarakat. Berikut rangkumannya:
Allahu waliyyul ladziina aamanuu yukhrijuhum minazh-zhulumaati ilan-nuur.
“Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257)
Ayat agung ini menjadi pembuka renungan panjang tentang kehidupan manusia — antara gelap dan terang, antara bodoh dan cerdas, antara sesat dan petunjuk.
Setiap insan sejatinya hidup di persimpangan dua jalan: jalan cahaya iman dan jalan kegelapan kufur. Siapa yang menjadikan Allah sebagai pemimpinnya, akan dibimbing keluar dari gelap gulita menuju cahaya yang menenangkan.
Tetapi siapa yang berpaling, akan ditarik oleh kekuasaan selain Allah, kembali tenggelam dalam gulita tanpa arah.
1. Antara Cahaya Matahari dan Cahaya Ruhani
Sebagaimana jasad kita diberi terang oleh matahari setiap pagi, demikian pula ruhani kita membutuhkan cahaya. Bukan dari bintang, bukan dari lampu, melainkan dari petunjuk dan hidayah Allah. Hanya dengan cahaya inilah jiwa menemukan arah dan ketenangan.
Tanpa cahaya ini, hidup manusia ibarat berjalan di malam gelap tanpa lentera. Ia mungkin melangkah, tetapi tak tahu ke mana tujuan akhirnya.
Maka firman Allah menjadi pelita: memberi arah, kekuatan, dan keyakinan di tengah gelombang hidup yang tak pernah tetap.
Dunia berubah, kadang panas, kadang hujan, kadang pasang, kadang surut. Tetapi hati yang berpegang pada Allah akan tetap tenang dalam setiap perubahan.
2. Hati, Pusat Kendali Kehidupan
Nabi Muhammad saw bersabda: “Ketahuilah, dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hati adalah pusat kendali kehidupan. Dari hati lahir niat, keputusan, dan arah hidup. Karena itu, doa Nabi yang penuh makna ini perlu selalu kita panjatkan:
“Allahumma inni a’udzubika min qalbin laa yakhsha’…”
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk.”
Hati yang tidak khusyuk adalah hati yang tidak lagi tunduk, tidak lagi lembut mengingat Allah. Hati seperti ini mudah tergoda, kehilangan arah, bahkan kehilangan makna ibadah.
Orang masih bisa shalat lima waktu, tetapi jika hatinya tidak hadir, maka shalatnya kehilangan roh. Ia mengucap “Allahu Akbar”, tapi pikirannya melayang kepada dunia. Inilah awal dari gelap yang sesungguhnya, gelap di dalam hati.
3. Ilmu yang Tidak Memberi Manfaat
Nabi juga mengajarkan untuk berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu yang sejati seharusnya membawa manusia kepada iman dan ketundukan kepada Allah. Ilmu yang tidak mengantar ke sana hanyalah kesombongan intelektual yang menipu.
Kita hidup di zaman kemajuan teknologi, bom atom, nuklir, senjata canggih, dan kecerdasan buatan. Namun semua itu bisa menjadi ancaman jika tidak dikendalikan oleh iman.
Betapa banyak ilmu yang seharusnya memakmurkan bumi, malah menghancurkan kehidupan. Karena itu, doa Rasulullah begitu relevan:
Allahumma inni a’udzubika min ‘ilmin la yanfa’.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
Ilmu tanpa iman ibarat cahaya tanpa arah, menerangi jalan yang salah.
4. Nafsu yang Tidak Pernah Kenyang
Bahaya berikutnya adalah nafsu yang tidak pernah kenyang. Inilah sumber penjajahan, keserakahan, dan kehancuran dunia. Manusia selalu ingin lebih: satu lembah emas ingin dua, dua ingin tiga — sampai ajal menjemput dan ia hanya memiliki sejengkal tanah kubur.
Kisah yang diriwayatkan dari Leo Tolstoy menggambarkan hal ini dengan indah. Seorang kaya memberi tawaran: siapa pun boleh mengambil tanah sejauh ia berjalan dari pagi hingga matahari terbenam, asal kembali ke titik awal sebelum sore. Seorang laki-laki tamak berjalan sejauh mungkin, ingin mendapatkan seluas-luasnya. Tapi karena lelah, ia tak sanggup kembali tepat waktu, dan akhirnya mati di tengah perjalanan. Tanah yang ia peroleh hanya sepanjang tubuhnya, selebihnya ditinggalkan.
Begitulah manusia yang dikuasai nafsu: berlari mengejar dunia, namun melupakan bahwa tenaganya terbatas dan hidupnya singkat. Nafsu yang tidak terkendali membuat manusia buta arah, bahkan dari cahaya iman yang telah ada di hadapannya.
5. Doa yang Tidak Didengar
Bahaya keempat adalah doa yang tidak didengar oleh Allah. Doa adalah tulang punggung ibadah, namun ia takkan sampai ke langit bila hati dan amal kotor. Nabi mengingatkan:
“Ada seorang lelaki yang telah lama menempuh perjalanan, rambutnya kusut, pakaiannya berdebu. Ia menadahkan tangannya ke langit sambil berkata, ‘Ya Rabb, Ya Rabb’, tetapi makanannya haram, minumannya haram, dan tubuhnya tumbuh dari yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim)
Doa yang tidak didengar bukan karena Allah tuli, tetapi karena manusia menutup telinganya sendiri terhadap kebenaran. Bagaimana mungkin Allah memandang doa yang keluar dari hati yang lalai dan lidah yang tidak jujur?
Karena itu, orang beriman senantiasa berdoa dengan hati yang bersih, penuh kesadaran dan kerendahan diri. Ia tahu bahwa setiap bisikan kepada Allah harus diiringi dengan usaha membersihkan jiwa dan memperbaiki amal.
6. Menjaga Empat Hal Penting dalam Kehidupan
Dari rangkaian doa Rasulullah, terdapat empat hal yang harus dijaga agar cahaya iman tetap menyala:
1. Hati yang khusyuk, agar tidak gelap dalam kelalaian.
2. Ilmu yang bermanfaat, agar menerangi kehidupan, bukan menghancurkan.
3. Nafsu yang terkendali, agar tidak menjerumuskan pada keserakahan.
4. Doa yang didengar oleh Allah, agar hubungan dengan Tuhan tetap hidup.
Jika empat hal ini terpelihara, maka manusia akan senantiasa dibimbing dari gelap menuju terang.
7. Menutup dengan Cahaya Hidayah
Akhirnya, sebagaimana ayat yang menjadi pembuka:
Allahu waliyyul ladziina aamanuu yukhrijuhum minazh-zhulumaati ilan-nuur.
“Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman, yang mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.”
Kegelapan bisa datang dari kebodohan, dosa, keserakahan, dan kelalaian. Tetapi selama hati masih ingin kembali kepada Allah, selalu ada cahaya yang menuntun — cahaya yang lebih terang daripada matahari, cahaya petunjuk dan hidayah Tuhan.
Maka berdoalah dengan rendah hati:
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau keluarkan dari gelap gulita menuju terang benderang, dari kelalaian menuju kesadaran, dari kesesatan menuju jalan-Mu yang lurus.” (*)
*) Dikutip Kanal Youtube Berbagi Kajian Islam





0 Tanggapan
Empty Comments