Kemampuan numerasi atau kecakapan memahami, mengolah, dan menggunakan angka dalam kehidupan sehari-hari masih menjadi tantangan serius di pendidikan dasar, terutama di sekolah-sekolah wilayah pesisir, seperti kelas VI SD Muhammadiyah 9 Surabaya.
Kajian yang dilakukan Ahmad Zaynul Atman, mahasiswa Program Magister Pendidikan Dasar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo sekaligus guru kelas VI SD Muhammadiyah 9 Surabaya, menemukan adanya keterlambatan pemahaman numerasi yang berdampak langsung pada prestasi akademik dan kemampuan berpikir logis siswa.
Padahal, kawasan pesisir memiliki potensi maritim dan ekonomi yang besar. Namun, anak-anak di wilayah ini belum sepenuhnya memperoleh layanan pendidikan numerasi yang optimal.
Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah pesisir dan perkotaan, terutama dalam hal ketersediaan fasilitas serta penerapan metode pembelajaran.
Akar Masalah: Mengapa Numerasi Terabaikan?
Berdasarkan pengamatan di lapangan, rendahnya kesadaran numerasi tidak muncul begitu saja, melainkan dipicu oleh beberapa faktor sebagai berikut.
- Kesenjangan Fasilitas
Perangkat digital siswa yang masih belum lengkap, sehingga paparan terhadap materi numerasi yang berkualitas menjadi tidak optimal. - Benturan Budaya
Adanya budaya lokal yang lebih mengutamakan keterampilan produktif atau kinestetik. Tanpa adanya jembatan antara pendidikan formal dan kehidupan nyata, numerasi dianggap tidak memiliki nilai praktis bagi komunitas mereka. - Kurikulum yang Terasa Asing
Model pembelajaran matematika yang bersifat abstrak dan umum membuat siswa sulit melihat relevansi angka dengan kehidupan mereka sebagai anak pesisir. - Krisis Motivasi
Materi yang dianggap membosankan dan sulit menyebabkan motivasi intrinsik siswa untuk memahami angka menjadi sangat rendah.
Dampaknya sangat terasa pada prestasi akademik siswa yang berada di bawah rata-rata. Lebih jauh lagi, keterampilan berpikir logis dan pemecahan masalah mereka menjadi kurang berkembang, yang pada akhirnya memengaruhi motivasi dan hasil belajar siswa.
Membangun Strategi Transformasi
Tantangan numerasi di sekolah pesisir tidak bisa diselesaikan dengan metode pembelajaran konvensional. Guru SD Muhammadiyah 9 Surabaya menunjukkan bahwa pendekatan holistik dan kontekstual yang mengaitkan angka dengan kehidupan sehari-hari siswa bukan sekadar strategi, melainkan kunci untuk menumbuhkan motivasi dan kemampuan berpikir kritis anak.
Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal
Salah satu cara paling efektif adalah menghadirkan numerasi melalui media yang akrab bagi siswa.
- Big Book Digital, seperti media flipbook, yang berisi cerita tentang kehidupan nelayan, cara mengukur kedalaman laut, atau menghitung hasil tangkapan ikan.
- Pemanfaatan TIK, berupa penggunaan video interaktif dan permainan edukatif yang relevan dengan dunia pesisir untuk meningkatkan daya tarik pembelajaran.





0 Tanggapan
Empty Comments