Bohong merupakan sifat tercela yang sangat dilarang oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Dampaknya tidak hanya merusak diri pelakunya, tetapi juga menjalar kepada orang lain dan kehidupan sosial secara luas. Oleh karena itu, perbuatan bohong sangat dilarang dalam ajaran Islam.
Para rasul diutus untuk menyampaikan kebenaran. Mereka memiliki sifat ṣidq (jujur), amānah (dapat dipercaya), tablīgh (menyampaikan risalah), dan faṭānah (cerdas). Seluruh sifat tersebut menegaskan bahwa kebohongan sama sekali tidak mendapat tempat dalam risalah kenabian, baik terhadap penguasa maupun rakyat kecil, terhadap yang kuat maupun yang lemah.
Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam diutus membawa ajaran Islam untuk membentuk keteguhan jiwa manusia. Keteguhan jiwa melahirkan kejujuran dan menjauhkan manusia dari kebiasaan berbohong. Sebaliknya, kebohongan merupakan cermin dari jiwa yang lemah. Sebagaimana dikatakan Buya Hamka, “Orang yang berbohong adalah orang yang tidak memiliki keteguhan jiwa.”
Jujur, Jati Diri Seorang Muslim
Kejujuran merupakan identitas seorang Muslim. Ketika kejujuran tercerabut dari diri seseorang, maka kebohongan akan tumbuh dan berkembang. Dari sinilah muncul sifat munafik, yaitu ketidaksesuaian antara hati dan ucapan, antara niat dan perbuatan.
Orang yang terbiasa berbohong akan terus mengulang kebohongannya tanpa rasa malu. Ia akan selalu menutupi kebohongan dengan kebohongan lain, hidup dalam ketakutan akan terbongkarnya kebohongan tersebut, dan tidak berani menghadapi kenyataan. Pada akhirnya, kebohongan menyeret seseorang pada pengkhianatan terhadap amanah dan kepercayaan.
Bohong Termasuk Dosa Besar
Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Maukah aku tunjukkan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?” (Beliau mengulanginya hingga tiga kali).
Para sahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.”
Kemudian beliau duduk dan bersabda, “Ingatlah! Perkataan palsu (dusta).”
Beliau terus mengulanginya hingga kami berkata, “Seandainya beliau berhenti.” (HR. Bukhari)
Hadis ini dengan tegas menunjukkan bahwa dusta atau kebohongan termasuk dosa besar. Ia bukan kesalahan ringan, karena merusak harga diri pelakunya dan menimbulkan kerugian bagi orang lain
Mengubur Kebohongan
Kebohongan harus dikubur dalam diri seorang Muslim, karena sifat ini tidak mungkin bersatu dengan iman yang lurus. Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh agar seorang Muslim terhindar dari kebohongan dan kembali pada petunjuk Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Pertama, memperkuat iman.
Hidup yang berlandaskan iman akan melahirkan takwa. Takwa inilah yang menjaga jiwa dari pengaruh buruk yang merendahkan martabat manusia. Iman juga menjadikan seseorang selalu merasa terhubung dengan Allah dalam setiap ucapan dan perbuatannya.
Kedua, bergaul dengan orang-orang jujur.
Lingkungan memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter. Bergaul dengan orang-orang jujur akan menginspirasi seseorang untuk berlaku jujur pula. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)
Ketiga, beristighfar dan bertobat ketika terjatuh dalam kebohongan.
Melakukan refleksi diri dan beristighfar setelah berbohong memang terasa berat. Namun, bagi orang yang sungguh-sungguh ingin menjadi pribadi yang baik, hal itu justru menjadi jalan kembali kepada kejujuran dan kebenaran.
Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā senantiasa membimbing kita untuk berada di jalan yang lurus, menjaga lisan dan hati kita dari kebohongan, serta meneguhkan kejujuran sebagai karakter utama seorang Muslim. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments