Di era transformasi pendidikan abad ke-21, reputasi seorang pendidik tidak lagi hanya terpahat di dalam ruang kelas.
Kini, citra profesional mereka juga terpampang nyata dan dinilai langsung melalui jagat maya.
Menanggapi urgensi tersebut, Wakil Kepala SD Muhammadiyah 4 (SD Mupat) Kota Malang, Ahmad Afwan Yazid, M.Pd., hadir sebagai pembicara utama dalam Webinar Nasional “Guru Bestari Literasi Indonesia” Episode ke-4 pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Digital Sebagai Cermin Integritas
Dalam paparannya, Afwan menegaskan bahwa jejak digital bukan sekadar tumpukan data usang di mesin pencari, melainkan representasi digital dari integritas dan marwah seorang guru.
Setiap aktivitas daring, mulai dari unggahan di media sosial hingga interaksi di kolom komentar, membentuk potret diri yang bersifat permanen dan sulit terhapus.
“Jejak digital adalah cermin profesionalisme yang paling jujur. Sebagai pendidik, kita harus menyadari bahwa apa pun yang kita tinggalkan di dunia maya akan dipantau oleh siswa, wali murid, hingga rekan sejawat. Membangun rekam jejak yang positif secara proaktif bukan lagi pilihan, melainkan keharusan,” tegas Afwan di hadapan ratusan peserta webinar.
Strategi “Internet Sehat” dan Investasi Karier
Afwan mengklasifikasikan jejak digital ke dalam dua kategori: jejak digital pasif (data yang terkumpul tanpa disadari) dan jejak digital aktif (konten yang sengaja dibagikan).
hIa memperingatkan bahwa kelalaian dalam mengelola keduanya dapat berdampak fatal pada keamanan data pribadi hingga kehancuran reputasi karier.
Sebagai solusi praktis, ia membagikan empat pilar “Internet Sehat” bagi guru:
- Berpikir sebelum berbagi: Menghindari penyebaran hoaks atau misinformasi.
- Profesional dalam interaksi: Menjaga etika dan sopan santun dalam setiap komentar atau diskusi online.
- Pengaturan Privasi: Mengelola keamanan akun secara berkala.
- Melaporkan konten negatif: Tidak ragu untuk menindak konten yang merugikan.
Lebih jauh, ia memaparkan bahwa portofolio digital yang bersih dan inspiratif merupakan aset berharga.
Hal ini dapat membuka gerbang kolaborasi dengan institusi global serta meningkatkan kredibilitas guru sebagai ahli di bidangnya.
Warisan Pendidikan Abad ke-21
Menutup sesi materi yang interaktif tersebut, Afwan mengajak seluruh pendidik untuk mulai melakukan “audit diri” terhadap kehadiran digital mereka.
“Mari kita menjadi guru yang inspiratif dan berpengaruh, baik di dunia nyata maupun ruang digital. Ingatlah, jejak digital kita adalah warisan yang akan dibaca oleh generasi masa depan pendidikan Indonesia,” pungkasnya.
Antusiasme peserta terlihat jelas melalui diskusi hangat sepanjang acara. Webinar ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan literasi digital guru Indonesia agar lebih tangguh menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks.***






0 Tanggapan
Empty Comments