Abdullah bin Hudzafah pernah berkata, “Seandainya aku memiliki nyawa sebanyak rambut di kepalaku, niscaya akan ku korbankan semuanya demi agama Allah.”
Jika dihitung, rata-rata manusia memiliki 100.000 hingga 150.000 helai rambut. Sungguh luar biasa semangat perjuangannya, padahal ia sudah berjuang mati-matian demi kemuliaan agama Allah.
Abdullah bin Hudzafah telah melalui berbagai cobaan berat, seperti ujian keimanan yang sulit dan penawanan oleh Raja Romawi, Heraklius.
Bagi Abdullah bin Hudzafah, satu nyawa terasa belum cukup untuk dipersembahkan dalam jihad fisabilillah (perjuangan di jalan Allah).
Ia ingin memiliki ribuan, bahkan ratusan ribu nyawa, agar bisa berkorban dan berjuang lebih banyak.
Ia mendambakan pahala yang berlipat ganda di sisi Allah, meski harus merasakan ribuan kepedihan.
Sahabat Rasulullah ini tidak hanya menjalankan firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian…“ (QS. As-Saff: 10-11).
Tetapi ia juga membuktikan bahwa ia mampu melakukannya, bahkan mungkin melebihi harapan Allah. Ia berbeda dari kebanyakan orang beriman. Sungguh menakjubkan!
Jangan pamer hasil perjuangan
Cobalah bandingkan dengan diri kita yang hanya memiliki satu nyawa dan tidak pernah berandai-andai memiliki seribu nyawa seperti Abdullah bin Hudzafah.
Kita seringkali setengah-setengah dalam berjuang di jalan Allah.
Kita merasa cukup, bahkan sedikit jumawa, merasa puas dengan perjuangan yang telah kita lakukan selama ini.
Seolah surga sudah dalam genggaman dan malaikat Ridwan siap menyambut kita di pintu surga.
Kita mendambakan surga yang berkualitas ekslusif, padahal sangat minim kita dalam mengorbankan harta, jiwa, dan raga demi tegaknya li i’la kalimah Allah.
Kita berharap kejayaan umat, tetapi terlalu banyak pertimbangan. Ketika ingin membangun masjid, sekolah, madrasah, atau pusat keunggulan lainnya, seringkali sifat kikir menghantui.
Kita mengimpikan panji Ilahi berkibar tinggi, tetapi malas mengeluarkan keringat demi kemuliaan agama Allah.
Ironisnya, kita malah terseret jauh ke dalam godaan duniawi yang fana.
Kita merasa perjuangan kita sudah cukup karena hampir tidak pernah absen salat berjamaah, aktif mengikuti pengajian, rajin mendengarkan konten Islami di media sosial, selalu berpenampilan islami, dan giat terlibat dalam kegiatan ritual lainnya yang bersifat simbolik.
Totalitas dalam jihad fi sabilillah
Berjuang di jalan Allah tidaklah mudah. Jalan yang ditempuh penuh dengan rintangan. Menurut Hamka, berjuang di jalan Allah secara totalitas berarti mengerahkan seluruh harta benda dan jiwa raga untuk menegakkan agama Islam. Ini mencakup perjuangan fisik, seperti berperang melawan musuh Islam, dan perjuangan non-fisik, seperti melawan hawa nafsu, menuntut ilmu, berdakwah, dan melakukan perbuatan kebajikan lainnya dengan semangat kerja keras dan sungguh-sungguh.
Banyak pengorbanan yang harus kita sisihkan sebagai indikator totalitas perjuangan di jalan Allah.
Jika kita memiliki harta, baik itu rumah, uang, tanah, emas, ladang, kebun, dan lain sebagainya, kita harus rela melepaskannya sebagian.
Andai tidak memiliki harta, kita bisa berjihad dengan fisik, misalnya ikut kerja bakti di area masjid atau area-area lain yang bermanfaat bagi orang banyak.
Kita juga harus menyempatkan diri untuk mencari ilmu dan melakukan berbagai perjuangan kebaikan lainnya.
Dengan demikian, kejayaan umat insyaallah akan terwujud, dan kita akan tercatat sebagai pejuang fisabilillah yang totalitas.






0 Tanggapan
Empty Comments