Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengukur Iman dengan Angka: Kritik atas Evaluasi Pendidikan Agama Islam di Sekolah

Iklan Landscape Smamda
Mengukur Iman dengan Angka: Kritik atas Evaluasi Pendidikan Agama Islam di Sekolah
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Yan Adhi Wikarsa Guru SMP Muhtadin dan Mahasiswa Pascasarjana PAI UMM
pwmu.co -

Dampak dan Paradoks Evaluasi Angka

Fenomena kesenjangan antara nilai-nilai Pendidikan Agama Islam (PAI) dan praktik keseharian murid-murid kian tampak dalam realitas pendidikan saat ini. Tidak sedikit murid yang mencatatkan prestasi akademik tinggi, namun kejujuran, empati, tanggung jawab, dan kepedulian sosial justru tidak mengakar kuat dalam perilaku mereka.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas pendidikan agama dalam membentuk akhlak, sekaligus menyingkap kelemahan sistem evaluasi yang belum berfungsi sebagai sarana refleksi dan pembinaan moral.

Padahal, ajaran Islam secara tegas menempatkan pendidikan sebagai instrumen pembentukan manusia yang unggul secara intelektual sekaligus bermoral, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an dan berbagai kajian pendidikan Islam.

Namun, dalam praktiknya, orientasi pendidikan kerap bergeser pada pencapaian nilai dan peringkat, sehingga nilai-nilai luhur PAI tereduksi menjadi simbol normatif yang tidak terinternalisasi secara autentik.

Di tengah derasnya arus teknologi dan media digital, pendidikan sejatinya memiliki peluang besar untuk membangun karakter melalui pembelajaran yang interaktif dan kontekstual. Rahayu (2025) dalam studinya menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi media efektif dalam menumbuhkan karakter apabila dimanfaatkan secara tepat.

Sayangnya, tanpa penyelarasan yang kuat dengan nilai-nilai PAI, pemanfaatan teknologi justru berisiko memperlebar jarak antara pengetahuan agama dan pengamalan nilai dalam kehidupan nyata.

Lemahnya internalisasi nilai kejujuran, empati, tanggung jawab, dan kepedulian sosial di kalangan murid-murid merupakan gejala dari problem pendidikan karakter yang lebih mendasar.

Urbanus et al. (2025) dalam studinya mengutarakan bahwa pendidikan karakter sering kali berhenti pada tataran wacana, tanpa memberi ruang yang cukup bagi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dimensi spiritual yang seharusnya menjadi fondasi pembentukan karakter juga belum terintegrasi secara optimal dalam proses pembelajaran, padahal penguatan nilai moral memerlukan pendampingan spiritual yang berkelanjutan.

Tekanan untuk meraih prestasi akademik bahkan tidak jarang mendorong murid pada perilaku yang menyimpang secara etis, sementara instrumen penilaian karakter yang ada lebih menekankan performa formal daripada keautentikan sikap.

Evaluasi terhadap berbagai pendekatan pendidikan karakter menunjukkan bahwa banyak di antaranya belum mampu menumbuhkan refleksi dan komitmen moral yang mendalam, akibat lemahnya integrasi nilai PAI dalam kerangka pendidikan yang ada.

Sejumlah bukti yang disampaikan oleh Fahruddin (2025) justru mengindikasikan bahwa pendekatan holistik yang mengaitkan pendidikan karakter lintas mata pelajaran, termasuk pendidikan agama dan kewarganegaraan, berpotensi menghasilkan dampak yang lebih signifikan.

Upaya ini akan semakin efektif apabila melibatkan peran orang tua dan komunitas sebagai lingkungan pendukung yang memperkuat nilai-nilai PAI di luar sekolah.

Kesenjangan antara nilai PAI dan praktik keseharian siswa dengan demikian menjadi sinyal kuat perlunya reformulasi strategi pendidikan—sebuah ikhtiar kolektif untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencetak murid berprestasi, tetapi juga membentuk generasi berkarakter, berempati, dan berkeadaban.

Kritik Konseptual: Iman Tak Bisa Diukur Seketika

Iman dan akhlak bukanlah entitas yang terbentuk secara instan atau statis, melainkan proses panjang yang tumbuh melalui interaksi berkelanjutan antara pendidikan, budaya sekolah, dan praktik keagamaan yang hidup.

Namun, realitas pendidikan menunjukkan bahwa evaluasi Pendidikan Agama Islam (PAI) masih kerap dilakukan secara sesaat, terputus, dan berorientasi pada momen tertentu, sehingga gagal merekam perkembangan moral murid secara utuh.

Padahal, pembentukan akhlak membutuhkan kesinambungan, konsistensi, dan keterhubungan dengan konteks keseharian murid. PAI sejatinya berperan sebagai fondasi utama pendidikan akhlak yang memperkuat martabat dan identitas bangsa di tengah tantangan modernitas.

Sejumlah penelitian seperti Susanto et al. (2023) menegaskan bahwa internalisasi nilai-nilai keislaman seperti toleransi, kedamaian, dan tanggung jawab sosial terbukti efektif dalam membentuk akhlak siswa.

Praktik keagamaan yang dilakukan secara rutin—mulai dari tadarus Al-Qur’an, shalat berjamaah, hingga kegiatan keislaman lainnya—memiliki kontribusi signifikan dalam menanamkan sikap positif dan kebiasaan moral dalam kehidupan sekolah.

Sayangnya, ketika evaluasi PAI tidak terhubung dengan praktik-praktik tersebut, pendidikan agama berisiko tereduksi menjadi pengetahuan normatif yang tercerabut dari realitas pembentukan karakter.

Konteks budaya sekolah memegang peran kunci dalam menjadikan pendidikan karakter lebih bermakna dan berdaya ubah. Pembelajaran PAI yang terintegrasi dengan aktivitas keagamaan sehari-hari terbukti mampu membentuk karakter siswa secara lebih mendalam, termasuk dalam aspek disiplin dan tanggung jawab.

Namun, tantangan muncul ketika evaluasi PAI tidak selaras dengan budaya religius yang dibangun sekolah. Evaluasi yang bersifat sementara dan terputus cenderung menilai hasil akhir, tanpa memperhatikan proses pembentukan karakter yang berlangsung secara gradual.

Pola ini bertentangan dengan prinsip dasar pendidikan karakter yang menempatkan akhlak, nilai moral, dan budaya sebagai tujuan utama pendidikan. Kurangnya keterpaduan antara metode evaluasi dan budaya sekolah juga melemahkan fungsi evaluasi sebagai instrumen pembelajaran.

Padahal, melalui manajemen kurikulum yang responsif terhadap kekhasan budaya dan lingkungan lokal, evaluasi PAI dapat menjadi bagian dari proses internalisasi nilai itu sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa pembangunan budaya religius di sekolah bukan hanya mendukung pendidikan karakter, tetapi juga dapat berfungsi sebagai medium evaluasi yang autentik terhadap perkembangan akhlak siswa.

Dengan demikian, evaluasi PAI tidak lagi berhenti sebagai alat ukur administratif, melainkan menjadi cermin pertumbuhan moral yang sesungguhnya—sebuah prasyarat penting bagi lahirnya generasi yang berkarakter, beriman, dan berkeadaban.

Tawaran Reorientasi Evaluasi PAI

Pergeseran paradigma asesmen dari assessment of learning menuju assessment for learning dan assessment as learning menandai kesadaran baru dalam dunia pendidikan bahwa belajar tidak berhenti pada hasil akhir, melainkan berlangsung sebagai proses yang terus bertumbuh.

Penilaian tidak lagi semata-mata berfungsi sebagai alat seleksi dan legitimasi angka, tetapi sebagai instrumen pedagogis yang mendampingi, membimbing, dan memaknai proses belajar murid.

Dalam konteks ini, asesmen interaktif seperti observasi, refleksi, dan portofolio menjadi semakin relevan karena mendorong keterlibatan aktif murid dalam memahami capaian dan kekurangan mereka sendiri.

Pendekatan ini sekaligus mengoreksi praktik evaluasi konvensional yang sering kali menjadikan murid sebagai objek penilaian pasif. Dengan menempatkan asesmen sebagai bagian integral dari pembelajaran, pendidikan diarahkan untuk membangun kesadaran belajar yang reflektif dan berkelanjutan, bukan sekadar mengejar target nilai yang bersifat sesaat.

Sebagaimana penjelasan Nuriza & Muniroh (2025) dalam kajiannya, bahwa penguatan paradigma tersebut menuntut evaluasi yang bersifat komprehensif dengan mencakup tiga ranah utama, yakni aqliyah, qalbiyah, dan amaliyah.

Asesmen holistik yang mengintegrasikan dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik terbukti mampu memperkaya pengalaman belajar sekaligus menopang perkembangan karakter peserta didik secara lebih utuh. Implementasi penilaian autentik—melalui proyek sosial, portofolio, refleksi, dan praktik langsung—memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kemajuan belajar serta kebutuhan siswa dalam konteks nyata.

Berbagai penelitian—misalnya, Cahyono et al. (2023)—menunjukkan bahwa asesmen autentik tidak hanya meningkatkan dinamika pembelajaran, tetapi juga mendorong kesadaran diri, tanggung jawab, dan partisipasi aktif siswa dalam proses pendidikan. Integrasi proyek sosial dalam kurikulum bahkan memperluas dampak pembelajaran ke ranah sosial, dengan meningkatkan kepedulian, keterampilan kolaboratif, dan daya kritis murid.

Dengan demikian, pergeseran menuju assessment for dan as learning bukan sekadar perubahan teknis evaluasi, melainkan langkah strategis untuk menghadirkan pendidikan yang lebih bermakna—pendidikan yang tidak hanya mencetak capaian akademik, tetapi juga memberdayakan murid sebagai subjek pembelajar dan warga sosial yang berkontribusi bagi masyarakat luas.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu