Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menimbang Ulang Prinsip-Prinsip Dasar Filsafat Pendidikan Islam

Iklan Landscape Smamda
Menimbang Ulang Prinsip-Prinsip Dasar Filsafat Pendidikan Islam
pwmu.co -
Filsafat pendidikan islam. (Istimewa/PWMU.CO)
Filsafat pendidikan islam. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Filsafat merupakan langkah krusial dalam pengembangan bidang studi apa pun. Hal ini karena filsafat telah melahirkan beberapa bidang studi, termasuk hukum dari filsafat hukum, politik dari filsafat tata negara, ekonomi dari filsafat ekonomi, dan pendidikan dari filsafat pendidikan.

Filsafat Pendidikan Islam: Memahami Prinsip-prinsip Dasar Dr Afiful Ikhwan mungkin tidak hanya berfungsi sebagai panduan bagi masyarakat umum dalam hal pendidikan, khususnya dalam konteks pendidikan Islam, tetapi juga berfungsi sebagai peringatan dan sarana untuk meningkatkan pengembangan intelektual pendidikan di Indonesia. Filsafat adalah pengetahuan yang diajarkan secara sungguh-sungguh tentang hakikat kebenaran hal-hal tertentu.

Menurut apa yang dipahami, manusia adalah khalifah Allah di alam semesta. Pada dasarnya, manusia memiliki kemampuan dan kemauan untuk melaksanakan tugas. Dengan demikian, pendidikan adalah tanggung jawab manusia dan urusan kehidupan manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman alamiah yang ada di sekitarnya. Pengalaman-pengalaman lahir merupakan sejarah hidupnya yang mengesankan, kemudian menghidupkan, dan kemudian berfungsi sebagai pengalaman batinnya sebagai alat untuk membawa perubahan demi perbaikan hidup dan kebutuhan-kebutuhannya.

Ungkapan kuno menyatakan bahwa filsafat adalah induk ilmu pengetahuan (mother of sciences) atau ratu ilmu pengetahuan (queen of sciences), dengan menonjolkan makna dan fungsinya. Peran dan fungsi ini menunjukkan bahwa filsafat ekankan pergumulannya dalam dunia proses, ilmu menekankan pada produk. Proses penguasaan secara otomatis mempengaruhi produk. Penguasaan proses otomatis mentguasai produk, namun belum tentu proses itu sendiri.

Pendidikan Islam

Menurut beberapa penelitian tentang sistem pendidikan Islam, dapat disimpulkan bahwa sistem adalah sekumpulan unsur atau komponen, atau unsur-unsur, yang berfungsi sebagai titik awal dan mempunyai hubungan fungsional yang stabil, sistematis, dan senantiasa membantu dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Pendidikan merupakan komponen dari suatu proses yang seharusnya mencapai targettertentu. Sasaran-sasaran tersebut dinyatakan dengan terget terakhir, yang pada hakikatnya didukung oleh masyarakat umum dan dibahas secara jelas dan ringkas, seperti kesiapan dan konsistensi atau kesempurnaan pribadi dan terbentuknya kepribadian muslim.

Tujuan adalah segala sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai. Karena merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berjalan melalui langkah-langkah dan tingkatan, maka Pendidikan bertujuan untuk mencapai keduanya. Sasaran pendidikan bukan hanya sekedar benda yang terdiri dari statis dan tetap, melainkan merupakan keutuhan dan kesadaran diri seseorang yang selaras dengan seluruh aspek kehidupannya.

Ada beberapa kutipan dari para ahli mengenai tujuan pendidikan Islam, dan kita telah mengetahui bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah memahami ajaran Allah SWT dan menegakkan syariat. Menurut Moh. Athiyah Al Abrasyi, tujuan utama pendidikan Islam adalah menanamkan standar moral yang tinggi. Sebelumnya perlu dicatat bahwa meskipun budi pekerti dan akhlak merupakan jiwa pendidikan Islam, mencapai akhlak yang murni merupakan tujuan yang jelas dari pendidikan Islam.

Menumbuhkan Karakter Moral Baik

Menurut Imam al-Ghazali at-Thusi, tujuan pendidikan adalah menumbuhkan karakter moral baik di dunia nyata maupun di akhirat. Menurut hal ini, manusia dapat mencapai kesempurnaan jika ia mencari ilmu dan kemudian menerapkannya melalui ilmu yang dipelajarinya.

Pada akhirnya, fadhilah ini dapat membantu mereka untuk lebih dekat dengan Allah dan pada akhirnya memperbaiki kehidupan mereka di Bumi dan di Akhirat. Letak kelemahan buku-buku Filsafat Pendidikan Islam karya pemikir-pemikir pendidikan Islam Indonesia, dengan kata lain, merupakan kajian yang lebih berfokus pada ontologi daripada aspek epistemologis atau aksiologis, oleh karena itu hanya membahas tujuan pendidikan Islam.

Lebih khusus lagi, strategi didasarkan pada epistemologi, yang berarti dapat digunakan untuk mengembangkan strategi, strategi, teknik, metode, prosedur, dan mekanisme untuk membangun pengetahuan Islam, membangun konsep-konsep Islam, mendorong pengembangan pengetahuan Islam yang ada, dan bahkan mungkin menghasilkan teori dan hipotesis baru tentang pendidikan Islam.

Seperti halnya sebagian besar buku pendidikan Islam yang tersedia di Indonesia, buku karya Dr Afiful Ikhwan MPd. ini juga mengandung sejumlah besar pembahasan ontologis. Di antara pokok bahasan yang dibahas dalam kajian Substansi adalah sebagai berikut: Substansi kurikulum dalam pendidikan Islam, substansi alat dalam pendidikan Islam, substansi pendidik, substansi peserta didik, tugas dan tujuan hidupnya, bab subtansi manusia, bab substansi kedudukan manusia, dan substansi  pendidik, dan evaluasi substansi dalam pendidikan Islam.

Kelemahan kedua adalah pembahasannya kurang fokus, yang hanya melebar dan mengalihkan perhatian dari substansi didik.

Evaluasi Pendidikan Islam

Oleh karena itu, implikasi relativisme dalam mengevaluasi pendidikan Islam meliputi, misalnya, membahas hakekat peserta didik, tetapi juga membahas konsep-konsep Islam yang terkait dengan lingkungan, konsep-konsep Islam yang terkait dengan proses pendidikan, dan kemungkinan keberhasilan pendidikan Islam. Hampir semua tulisan dalam buku ini berkaitan dengan ontologi. Kajian ontologis tentang manusia hanya akan memberikan wawasan tentang hakikat manusia dari berbagai perspektif, karakteristik, dan perbedaan dengan budaya lain.

Misalnya, pembahasan ajaran Islam tentang alam yang disebutkan dalam Bab V dan hubungan manusia dengan alam dalam Bab VI. Akibatnya, penulis dapat menekankan dan memfokuskan pada studi dan pemahaman filsafat Islam karena kedua bab di atas memiliki banyak jenis ikan dan hewan yang berbeda.

Misalnya, pembahasan model tersebut tidak terlalu strategis dibandingkan dengan fase pengembangan pendidikan Islam ini karena siswa hanya menyerap pengetahuan yang disajikan tanpa memiliki motivasi untuk menggunakannya. Meskipun demikian, ada gading yang retak. Tidak ada eksistensi manusia yang murni.

Setiap tindakan, jika dilihat dari sudut pandang yang relevan, senantiasa menjelaskan kelemahan dan kekurangan-kekurangannya. Seperti  karya Dr Afifiul Ikhwan MPdI yang berjudul ” Filsafat Pendidikan Islam: Memahami Prinsip Dasar.”.

Pendidikan adalah proses pengembangan potensi manusia, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Landasan pendidikan Islam berlandaskan pada falsafah cara hidup Islam dan bukan pada falsafah gaya hidup negara atau ideologi lain. Pendidikan adalah usaha yang merupakan proses metodis untuk mencapai perubahan dan perbaikan guna mencapai kualitas hidup yang baik yang dilaksanakan secara tenang dan tertib sejak lahir hingga meninggal dunia.

Islam memiliki pendekatan yang unik dalam memecahkan masalah pendidikan. Pandangan ini tidak hanya memengaruhi proses pendidikan, tetapi juga memengaruhi arah pendidikan yang harus ditempuh. Oleh karena itu, perlu dipahami bagaimana prinsip-prinsip dasar pendidikan Islam berfungsi sebagai sarana untuk menghasilkan umat Islam yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Ini merupakan peringatan bahwa pembangunan prinsip-prinsip dasar pendidikan Islam sangat penting karena ia mengkaji hakekatnya terlebih dahulu. (*)

Penulis Rusmi Editor Amanat Solikah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu