Manusia tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari orang tua seperti apa, atau dengan siapa ia hidup dan bermain ketika kecil.
Faktanya, setiap manusia terlahir dari orang tua dengan identitas, penilaian, dan kesan tertentu dari orang lain terhadapnya.
Begitu pula ketika tumbuh dalam masa kanak-kanak, ia akan bermain bersama teman sebaya yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal orang tuanya.
Namun, kondisi tersebut mulai berubah ketika manusia memasuki usia sekolah. Pada tahap ini, baik orang tua maupun diri sendiri mulai memiliki pilihan—terutama ketika memasuki masa kuliah.
Dalam usia sekolah hingga kuliah, lingkaran pertemanan bukan lagi semata-mata keterpaksaan, melainkan menjadi hasil pilihan sadar.
Ketika memasuki usia remaja dan beranjak menjadi pemuda, peran diri sendiri semakin dominan.
Pada fase ini, setiap orang dituntut untuk menentukan arah hidupnya. Apakah akan tumbuh menjadi pribadi positif—mandiri, cerdas, santun, berpendidikan, berwawasan, dan terampil- atau justru sebaliknya, menjadi pribadi yang bergantung, kurang beradab, minim pendidikan, miskin pengetahuan, serta tidak memiliki keterampilan.
Pilihan penting lainnya adalah apakah akan menjadi seorang aktivis atau sekadar manusia pasif. Menjadi aktivis berarti mengisi diri agar tumbuh sebagai manusia yang berkesadaran, peduli, dan bertanggung jawab.
Tanggung jawab itu tidak hanya kepada dirinya sendiri, tetapi juga terhadap teman, masyarakat, lingkungan, bangsa, bahkan agama atau keyakinan yang dipegangnya.
Dengan menjadi aktivis, lingkup pergaulan menjadi lebih luas, dan jaringan pertemanan lebih mudah terbentuk.
Seiring kebutuhan seorang aktivis, muncul pula kesadaran untuk meningkatkan pendidikan, memperluas ilmu pengetahuan, serta menambah wawasan.
Aktivis juga dituntut untuk mengasah keterampilan, misalnya penguasaan bahasa, kemampuan menulis, keluwesan berkomunikasi, serta keahlian melakukan pendekatan (lobi) ke berbagai pihak.
Selain itu, seorang aktivis dituntut memiliki kemampuan menyelesaikan masalah (problem solving).
Hal ini harus disertai dengan kemampuan membaca situasi, menganalisis masalah, serta merumuskan solusi yang tepat.
Keunggulan lain seorang aktivis, yang jarang dimiliki oleh kebanyakan orang, adalah kecakapannya dalam menyusun strategi dan taktik (stratak) sesuai kebutuhan dan kondisi tertentu.
Dengan menjadi aktivis, bukan manusia pasif, banyak keuntungan yang bisa diperoleh. Aktivis terbiasa hidup mandiri, terlatih menghadapi masalah sekaligus menyelesaikannya.
Relasi yang terbangun membuka peluang kerja yang lebih luas, bahkan memungkinkan mereka memilih karier sesuai passion.
Tidak jarang, jejak aktivisme inilah yang kemudian mengantarkan seseorang dipercaya untuk menduduki posisi penting—baik di pemerintahan, perusahaan, organisasi kemasyarakatan, maupun lembaga lainnya.
Maka, mari menjadi manusia aktivis. Sebab dengan menjadi aktivis berarti menjadi manusia merdeka—yang menata kehidupan dan masa depan dengan lebih mandiri, cerdas, santun, berpendidikan, berwawasan, terampil, berkesadaran, peduli, serta bertanggung jawab. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments