Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menjadi Hafalan Jurus Wajib Pesilat, Diabadikan sebagai Nama Event Nasional

Iklan Landscape Smamda
Menjadi Hafalan Jurus Wajib Pesilat, Diabadikan sebagai Nama Event Nasional
Chusnan David, pencipta Jurus Harimau. Foto: Dok/keluarga
pwmu.co -

Seiring waktu bergulir, Tapak Suci di Surabaya tumbuh bukan sekadar besar, tetapi matang. Ia berkembang seperti pohon yang akarnya menghujam kuat ke tanah, sementara ranting dan daunnya menjangkau ruang-ruang prestasi yang lebih luas. Dari gelanggang kecil di sudut-sudut kampung, Tapak Suci Surabaya melangkah ke arena regional, menembus kejuaraan nasional, hingga mencicipi atmosfer pertandingan internasional.

Berikut Kisah Lahirnya Jurus Harimau, Warisan Pendekar Besar Chusnan David untuk Tapak Suci Dunia (Bagian 5)

Prestasi demi prestasi diraih bukan secara instan. Ia lahir dari latihan panjang, disiplin ketat, dan penggemblengan mental yang keras namun penuh nilai.

Para pesilat muda ditempa bukan hanya untuk menang, tetapi untuk memahami makna bertarung: menjaga adab, mengendalikan diri, dan menegakkan martabat Tapak Suci sebagai seni bela diri Muhammadiyah.

Pada masa itu, ada tiga faksi yang menjadi denyut utama Tapak Suci Surabaya: Kapasan, Dinoyo, dan Wonokromo (Gadung). Ketiganya menjadi kawah candradimuka, tempat lahirnya banyak atlet tangguh. Juga menjadi pembuktian, tempat jurus-jurus diuji dalam sparing yang keras namun terukur.

Di tengah denyut itu, Jurus Harimau ciptaan Chusnan David menemukan takdirnya. Jurus ini tidak lagi sekadar rangkaian gerak, tetapi menjadi identitas. Ia ditetapkan sebagai jurus wajib yang harus dikuasai setiap pesilat Tapak Suci. Gerakannya mencerminkan watak penciptanya: tegas, efisien, bertenaga, dan penuh perhitungan. Sekali menerkam, harus bermakna.

Ir. Sudarusman, Ketua Umum Pimpinan Daerah (Pimda) 06 Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kota Surabaya periode 2018–2020, mengenang fase-fase awal perkembangan itu. Ia menuturkan bahwa Tapak Suci mula-mula tumbuh di Perguruan Kapasan, sebelum kemudian berpindah ke Genteng Muhammadiyah.

Di kawasan Genteng, Tapak Suci hidup berdampingan dengan denyut pendidikan Muhammadiyah: TK ABA 1, SD Muhammadiyah 1, SMP Muhammadiyah 1, dan SMA Muhammadiyah 1. Lingkungan ini membentuk karakter Tapak Suci yang khas—bela diri yang menyatu dengan dunia pendidikan dan nilai keislaman.

Seiring perjalanan waktu, dinamika pun terjadi. SD Muhammadiyah 1 tutup pada era 1990-an, sementara SMA Muhammadiyah 1 lebih dulu pindah ke Kapasan pada tahun 1967. Kapasan kemudian berkembang menjadi pusat aktivitas pemuda Muhammadiyah. Selain Tapak Suci, tumbuh pula Melati Studi Club dan Drum Band, menjadikan kawasan ini sebagai ruang subur bagi pembinaan karakter generasi muda.

Tahun 1997, latihan Tapak Suci kembali berpindah ke Genteng. Di Genteng, fasilitasnya lebih lengkap. Genteng juga jadi jujugan daerah lain untuk latihan Tapak Suci. Namun, di mana pun Tapak Suci bernaung, satu sosok tetap menjadi poros: Chusnan David.

Menurut Sudarusman, peran Chusnan David dalam perkembangan Tapak Suci Surabaya sangat menentukan.

“Bisa dibilang Pak Chusnan David penentu kebijakan. Beliau selalu terlibat dalam pembentukan tim, menentukan atlet yang layak. Perannya lebih banyak dibandingkan pendekar lain,” tuturnya.

Chusnan David bukan hanya pendekar di lantai gelanggang, tetapi juga arsitek di balik layar. Ia membaca potensi atlet, menimbang karakter, dan memastikan Tapak Suci tidak kehilangan arah. Ketegasannya sering kali senyap, namun keputusannya bergaung panjang. Dari tangannya, Tapak Suci Surabaya melahirkan atlet-atlet tangguh sekaligus kader berakhlak.

Kini, Jurus Harimau terus diajarkan, dilatih, dan diwariskan lintas generasi—bahkan melampaui batas negeri. Setiap kali jurus itu dipraktikkan, sesungguhnya ada jejak seorang pendekar besar yang hidup kembali: Chusnan David.

Ia mungkin telah menepi dari hiruk-pikuk gelanggang, tetapi warisannya tetap bergerak—di setiap kuda-kuda yang kokoh, di setiap terjangan yang terukur, dan di setiap pesilat Tapak Suci yang berdiri dengan penuh percaya diri. Di sanalah Chusnan David abadi. Tidak hanya dalam ingatan, tetapi dalam gerak.

 Menjadi Hafalan Jurus Wajib Pesilat, Diabadikan sebagai Nama Event Nasional

Atraksi Mewah di Gelanggang Remaja

Invitasi Pencak Silat Tapak Suci Antar SLTA se-Jawa Timur yang digelar Universitas Muhammadiyah Surabaya pada tahun 1995 menjadi salah satu penanda penting perjalanan Tapak Suci, dan sekaligus jejak pengabdian Chusnan David yang tak banyak tercatat. Saat itu, universitas ini masih akrab disebut Unmuh, jauh sebelum dikenal luas sebagai Umsura.

Kejuaraan yang diselenggarana di Gelanggang Remaja Surabaya itu, lahir dari semangat kolektif. Saya bersama Muhammad Zamrony, putra sulung Chusnan David, dipercaya menjadi bagian dari panitia inti.

Kami masih muda, penuh gairah, dan dipenuhi keyakinan bahwa Tapak Suci membutuhkan ruang pembuktian yang lebih luas. Bukan sekadar latihan internal, tetapi ajang resmi yang mampu mempertemukan pesilat-pesilat muda terbaik dari seluruh penjuru Jawa Timur.

Keinginan menggelar kejuaraan ini bukan tanpa tantangan. Karena menjadi event pertama pencak silat Tapak Suci yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Namun justru di situlah letak keberaniannya. Dukungan pimpinan kampus menjadi energi tersendiri. Saat itu, tongkat kepemimpinan rektor masih dipegang dr. Mutadi, sosok yang dikenal memberi ruang besar bagi aktivitas kemahasiswaan dan pengembangan olahraga.

Sebelum hari pelaksanaan, panitia merasa perlu meminta arahan Chusnan David. Seperti biasa, beliau tidak banyak berbasa-basi. Arahan demi arahan disampaikan dengan tenang, runtut, dan penuh perhitungan.

Rapat digelar periodik membahas teknis pertandingan, tata tertib, pemilihan wasit, hingga hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian, seperti alur keluar-masuk atlet dan cara menjaga marwah Tapak Suci di hadapan publik.

Hari “H” pun tiba. Sejak pagi, Gelanggang Remaja Surabaya dipenuhi rombongan peserta. Bus dan kendaraan dari berbagai kabupaten/kota se-Jawa Timur silih berganti datang. Antusiasme benar-benar di luar dugaan.

Peserta membludak. Para pesilat SLTA hadir dengan seragam kebanggaan, membawa semangat sekolah dan daerah masing-masing. Riuh rendah suara pemanasan, tawa, dan sapaan antar kontingen membaur menjadi satu.

Pembukaan berlangsung khidmat sekaligus meriah. Sambutan resmi disampaikan oleh Pembantu Rektor (PR) III, Drs. Noto Adam, MM, yang menegaskan pentingnya olahraga bela diri sebagai sarana pembentukan karakter, sportivitas, dan persaudaraan.

Puncak kemeriahan terasa ketika Jurus Harimau ditampilkan dalam atraksi pembukaan. Bisa dibilang menjadi atraksi yang mewah. Derap langkah pesilat menggema. Gerakannya tegas dan penuh tenaga.

Setiap terjangan, setiap kuda-kuda, seolah memvisualisasikan semangat Tapak Suci itu sendiri. Penonton terpukau. Tepuk tangan membahana. Jurus Harimau dipertontonkan sebagai identitas.

Invitasi Pencak Silat Tapak Suci Antar SLTA se-Jawa Timur 1995 menjadi ruang silaturahmi, ladang kaderisasi, sekaligus bukti bahwa Tapak Suci—dengan warisan Chusnan David—mampu berdiri tegak di panggung besar.

Menjadi Hafalan Jurus Wajib Pesilat, Diabadikan sebagai Nama Event Nasional
Keluarga saat nyekar di makam Chusnan David. Foto: Dok/keluarga

Chusnan David Cup

Chusnan David wafat di Gresik pada 19 Januari 2020. Kepergiannya berlangsung sunyi, tetapi kehadiran beliau justru terasa begitu ramai pada hari pemakaman.

Sejak pagi, pelataran rumah duka hingga area pemakaman dipenuhi para pelayat. Di antara mereka, tampak barisan kader yang datang mengenakan seragam Tapak Suci dengan lambang yang melekat di dada. Mereka datang dari berbagai daerah, sebagian menempuh perjalanan jauh, hanya untuk satu tujuan: mengantarkan pulang seorang guru.

Pemandangan itu membuat keluarga tertegun. Para adik Chusnan David yang hadir bahkan tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Selama ini, mereka mengenal kakaknya sebagai sosok sederhana. Seorang pesilat yang rajin latihan, disiplin, dan jarang bercerita tentang dirinya sendiri.

Seperti ayahnya, Muhammad Zamrony pun tumbuh dalam keteladanan yang senyap. Ia mengaku, sepanjang hidupnya, tidak pernah sekalipun diminta sang ayah untuk mendaftar menjadi pesilat Tapak Suci.

“Tidak pernah,” ujarnya singkat. “Saya tidak tahu alasannya.”

Chusnan David memilih jalan yang berbeda. Dia tidak mewariskan Tapak Suci dengan perintah, apalagi paksaan. Zamrony hanya sering diajak—menemani ayahnya saat latihan, menyaksikan ujian kenaikan tingkat, dan hadir dalam berbagai kegiatan Tapak Suci. Dari pinggir gelanggang, ia melihat langsung bagaimana ayahnya dihormati, didengar, dan diteladani.

Tanpa disadari, nilai-nilai itu meresap perlahan. Hingga akhirnya, pilihan itu datang dari kesadaran sendiri. Saat kelas 5 SD Muhammadiyah 14 Manukan Kulon, Zamrony nekat mendaftarkan diri sebagai anggota Tapak Suci di SMA Negeri 11 Tandes. Ini karena di sekolahnya belum ada Tapak Suci saat itu

Zamrony memutuskan mendaftar Tapak Suci atas kemauannya sendiri. Bukan karena nama besar ayahnya, tetapi karena panggilan yang tumbuh dari pengalaman, kebersamaan, dan keteladanan yang ia saksikan sejak kecil.

Sejak 2022, nama Chusnan David diabadikan sebagai nama turnamen Tapak Suci tingkat nasional yang melibatkan pesilat-pesilat muda. Turnamen yang digelar tahunan ini menjadi ruang kaderisasi sekaligus bentuk penghormatan atas jasa dan keteladanan Chusnan David dalam membesarkan Tapak Suci.

Chusnan David telah pergi. Namun seperti Jurus Harimau yang diciptakannya—ia tidak pernah benar-benar hilang. Ia hidup dalam gerak para muridnya, dalam seragam hitam yang mengiringi kepergiannya, dan dalam pilihan sunyi seorang anak yang akhirnya mengikuti jejak ayahnya dengan penuh kesadaran.

Begitulah cara seorang pendekar besar meninggalkan warisan. Bukan lewat kata-kata yang lantang, melainkan lewat contoh yang diam-diam membentuk manusia.

Dan di antara jejak itu, jurus Harimau dari Surabaya akan terus mengaum. Bukan untuk menakuti, melainkan untuk mengingatkan bahwa kekuatan sejati selalu berjalan seiring dengan akhlak mulia. (habis)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu