Di tubuh Muhammadiyah, kata kader bukan sekadar sebutan administratif, apalagi label eksklusif. Ia adalah ruh gerakan.
Sesungguhnya kader Muhammadiyah ialah mereka yang siap sedia berjuang, menggerakkan, dan menghidupkan persyarikatan, kapan pun dan di mana pun dibutuhkan.
Dalam berbagai dokumen resmi Muhammadiyah, termasuk Pedoman Perkaderan Muhammadiyah, kader dimaknai sebagai penggerak dakwah dan amal usaha bukan semata mereka yang lahir dari keluarga Muhammadiyah.
Kader tidak selalu biologis, tetapi ideologis dan praksis. Perlu diketahui bahwa siapa pun yang bekerja, berkecimpung, dan berkhidmah dengan kesadaran nilai Muhammadiyah, ia adalah kader dalam makna sejatinya.
Dengan kata lain, kader Muhammadiyah adalah mereka yang tidak sekadar “ada di dalam”, tetapi ikut menghidupkan. Namun, di titik inilah sering muncul kontras yang getir: kader dan keder .
Dalam bahasa Jawa, keder berarti gentar, ciut nyali, takut melangkah. Fenomena keder tampak ketika seseorang diminta bergerak lalu memilih menjauh.
Diminta berkhidmah, ia takut repot. Diminta mengabdi, ia khawatir susah. Ketika amanah datang, yang muncul bukan kesiapan, tetapi pertanyaan: “ Saya dapat apa?” terutama dalam hitung-hitungan materi.
Pola pikir semacam ini menjadikan pengabdian bersifat transaksional. Amal diukur dengan untung-rugi pribadi, bukan nilai dan keberkahan. Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
Khairunnāsi anfa‘uhum lin-nās
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa kemuliaan bukan terletak pada apa yang kita terima, melainkan pada apa yang kita berikan. Ketika prinsip ini terbalik, yang lahir bukan kader, melainkan keder: aktif saat nyaman, pasif saat diminta berkorban.
Padahal menjadi kader, meski tidak selalu mudah, selalu menyimpan keberkahan. Allah dengan tegas menjanjikan pertolongan bagi mereka yang menolong agama-Nya:
Yā ayyuhalladzīna āmanū in tansurullāha yansurkum wa yutsabbit aqdāmakum
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan langkahmu.” (QS. Muhammad: 7)
Ayat ini bukan sekadar janji teologis, tetapi prinsip gerakan. Siapa yang sungguh-sungguh bergerak di jalan dakwah dan pengabdian, akan ditopang oleh kekuatan yang melampaui perhitungan manusia.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa keberkahan hidup justru sering hadir dalam keikhlasan berkhidmah. Ia berkata:
Mā futiḥa li‘abdin bābu khayrin illā kāna fīhi masyaqqah
“Tidaklah dibukakan pintu kebaikan bagi seorang hamba, kecuali di dalamnya terdapat kesungguhan dan kepayahan.”
Muhammadiyah sejak awal berdiri tidak digerakkan oleh orang-orang yang menunggu kenyamanan, tetapi oleh mereka yang rela lelah demi maslahat. Kader sejati tidak menunggu ditanya “ apa imbalannya?”, sebab ia paham bahwa khidmah adalah kehormatan, bukan beban.
Di sinilah kita perlu jujur bercermin. Apakah kita kader yang siap menggerakkan, atau justru keder yang sibuk menghindar? Muhammadiyah tidak kekurangan struktur, tetapi sering kekurangan orang yang mau bergerak tanpa banyak syarat.
Sejarah selalu mencatat: persyarikatan ini tidak dibesarkan oleh mereka yang bertanya “saya dapat apa?”, melainkan oleh mereka yang bertanya, “apa yang bisa saya berikan?”
Maka, ketika seseorang memilih bergabung dan bekerja di Muhammadiyah, sejak awal ia perlu meluruskan niat dan menata hati.
Muhammadiyah bukan ladang untuk sekadar memetik hasil, melainkan medan pengabdian untuk menanam amal. Ia bukan tempat berhitung untung-rugi pribadi, melainkan ruang luas untuk memberi, berkhidmah, dan menghidupkan nilai.
Siapa yang datang hanya untuk mengambil, cepat atau lambat akan kecewa. Tetapi siapa yang datang untuk mengabdi, akan menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada materi: ketenangan batin, keluasan makna, dan keberkahan hidup.
Sebab tidak semua rezeki berbentuk angka, dan tidak semua keuntungan bisa ditimbang dengan logika dunia.
Para pendahulu telah mewariskan satu prinsip sederhana namun dalam maknanya:
Li-anna fil-harakati barakah
“Karena dalam gerak dan pengabdian itu ada keberkahan.”
Bergeraklah, meski pelan. Berkhidmahlah, meski sunyi. Sebab diam yang nyaman sering menumbuhkan kelumpuhan jiwa, sementara lelah dalam perjuangan justru menghidupkan makna.
Dan jadilah pribadi yang tetap memberi, bahkan setelah namanya tak lagi disebut, setelah jabatannya usai, bahkan setelah raganya tiada:
Wa kun ba‘da mawtika ka hayātihi
“Jadilah engkau, setelah wafatmu, tetap hidup melalui amal dan pengabdianmu.”
Di situlah kader sejati dikenali: bukan dari seberapa besar yang ia ambil dari Muhammadiyah, tetapi dari seberapa banyak nilai Muhammadiyah yang ia hidupkan bahkan ketika dirinya telah tiada. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments